Selasa, 13 November 2007

Satu Rakaat Dua Putaran

Mas Andik tetangga sebelah rumah bertandang maen ke rumah. Kami bercengkrama di ruang tamu. Biasanya mas Andik akan banyak bercerita soal sejarah Islam ataupun sejarah para nabi. Mas Andik memang suka sekali dengan sejarah ataupun kisah para sahabat nabi atupun ulama terkenal. Kalau sudah cerita begitu aku mendengarkannya dengan seksama. Takut gak ngeh karena aku sendiri tidak begitu menyukai pelajaran sejarah. Waktu sekolah dulu aku sukanya sama matematika. Paling getol kalau urusan angka-angka. Ada rasa penasaran disana. Dari penasaran itulah yang membuatku lebih cenderung memilih bidang matematika. Kalau sekarang sih sudah males pusing-pusing.

“Mas, kamu kan uda beli bukunya Agus Mustofa sampai delapan buku. Udah baca semua?” tanyaku memecah heningnya malam.
“Ya..belum semua Fit. Lagian itu kan bukan bukuku semuanya. Itu buku orang satu rumah. Kami patungan. Masing-masing beli dua dengan judul yang berbeda. Jadi kami bisa tukeran.”
“Oo...gitu. Dari yang aku baca nih mas, disebutkan bahwa semua ciptaan Allah ini ternyata berputar lho. Mulai dari yang besar seperti bumi kita ini berputar dalam porosnya dan mengelilingi matahari hingga membentuk galaxy. Dan dari galaxy berputar lagi mengelilingi yang lebih besar lagi super clueser. Begitu sampai tak terhingga. Sedangkan kalau dari yang terkecil atom dan inti atom, semua berputar. Dan semua berputar secara seimbang. Subhanallah...hebat ya mas?” ocehku.

“Iya hebat.... yang bikin itu semua siapa?! Kan Allah. Dan memang ternyata tidak ada yang diam di alam ini. Benda-benda padat aja, yang kita lihat sepertinya diam, tapi sesungguhnya mereka juga bergerak. Semua bergerak berputar walau tanpa kita sadari. Bumi yang kita pijak ini saja kan berputar dan kita tidak menyadarinya. Sepertinya yang berputar matahari mengelilingi kita. Padahal kita yang mengelilingi matahari. Lucu ya... seperti itu kalau kita dalam kebodohan dan tidak mengetahui kebenarannya. Pasti kita akan terkungkung dengan pengetahuan kita yang dangkal. Bersyukur Allah menunjukannya melalui para ilmuwan.” balas mas Andik melengkapi.

“Dan mas Andik tahu enggak, kalau sholat kita itu juga sebenarnya membentuk gerakan berputar. Satu rakaatnya dua kali putaran lho mas.”
“Masa sih...? kalau ini aku yang belum dengar Fit.”
“Dulu waktu pengajian ataupun pas ikut satu pelatihan aku dapatkan katanya satu kali rakaat itu satu kali putaran. Saat dijelaskan, aku gak mudeng-mudeng. Sampai selepas latihan coba nanya sama temen, dijelaskan juga gak ngerti. Masih gak jelas dan gak faham. Sampai saya itu mikir. Kok Oon banget yo aku ini.. dijelasin banyak orang tapi kok gak ngerti-ngerti. Akhirnya aku nyoba hitung sendiri. Lho...malah ketemu satu rakaatnya dua kali putaran.”

“Coba jelasin, aku biar ngerti.” selah mas Andik.
“Sebentar aku ambil kertas ama bolpoint.” sahutku sembari bangkit masuk mengambil bolpoint dan selembar kertas buram. Lalu kuletakan di atas meja.

“Sekarang mas Andik yang nulis, Fitri yang jelasin ya...biar nanti ketemu hasilnya. Ingetin juga kalau Fitri salah. ”
“Ok...”
“Mulai dari posisi berdiri kita ruku, disini berapa derajat? Sembilan puluh kan? Tulis mas sembilan puluh.” jelasku sambil menggerakan tangan agar lebih mudah dipahami.
“ Iya..”
“Kemudian dari ruku kita berdiri lagi kan? Ini juga sembilan puluh derajat. Tulis mas..nanti terakhir ditambahkan.”
“ Iya..”
“Kemudian dari berdiri kita melakukan sujud. Itu berapa derajat? Seratus tiga puluh lima derajat kan. Bener gak..?? kalau salah bilang. Fitri juga sambil inget-inget takut salah nih.”
“Iyaa... bener seratus tiga puluh lima derajat. Kan sembilan puluh ditambah empat puluh lima. Sudah tak tulis..”

“Terus dari sujud kita duduk berarti keposisi tegak lagi. Itu berapa derajat? Seratus tiga puluh lima derajat lagi kan. Tambah lagi ya..
Kemudian dari duduk kita sujud lagi kan? Berarti sama seratus tiga puluh lima derajat lagi. Tulis mas...jangan kelewatan. Nti ngulangi lagi kalau kelewatan..”
“ Iya...iya.. ini juga sudah ditulis dari tadi. “Sahut mas Andik sembari geleng-geleng melihat cerewetku.
“Nah...yang terakhir dari sujud kita berdiri lagi atau pun duduk dalam artian ke posisi tegak lagi. Ini sama juga seratus tiga puluh lima derajat. Wiss... lengkap. Coba sekarang ditotal semuanya mas. Ketemu berapa?”
“Sembilan puluh dua kali, ditambah seratus tiga puluh limanya empat kali. Hmm....sebentar fiit.”
“Berapa..?”

“ Ketemunya tujuh ratus dua puluh.” jawab mas Andik kemudian menatapku bingung dan menunggu. Aku tersenyum kemudian turut membukuk menekuni kertas buram di depannya.
“Satu putaran itu berapa derajat mas?”
“Tiga ratus enampuluh derajat.”
“Nahh...kan tinggal bagi aja hasilnya tadi. Berarti tujuh ratus dua puluh dibagi tiga ratus enam puluh sama dengan dua. Berarti kan dua kali putaran.” Jelasku sambil tersenyum.

“Hmm.. bener!. Dua kali putaran. Subhanallah.... ternyata sholatpun kita berputar ya...”
“Iya mas... semua berputar tidak ada yang diam. Jika kita diam, maka kita akan tertabrak. Atau jika kita melawan arus putaran....wahh....bisa berabe.” sahutku sambil mengambil makanan kecil yang kusuguhkan.
“Tidak ada yang tidak berputar. Subhanallah...” Mas Andik meneruskan dalam keterkesimahannya.

Berlanjut obrolan kami kesana kemari seakan mengikuti tiupan angin malam yang berputar dalam garis-garis yang telah ditentukanNya, Tanda-tanda yang dibentangkan oleh Allah di sekitar dan didalam diri kita, yang hanya semata untuk kita mengimani keberADAanNya. KeberADAan yang Tunggal. Yang tiada yang lain selain DIA. Yang Maha besar, Maha Agung, Maha Indah, dan Maha segala-galanya...

Rabbana.... maakhalaqta haadaa baathila, subhaanaka faqinaa a'daabannar....
Ya Rabb...
Engkau pemilik segala kuasa dan kekuatan..
Engkau yang menciptakan kami dan yang mengatur kami
Ya Rabb...
Beri kekuatan kami untuk mengikuti putaran-putaran yang telah Engkau berikan atas kami
Jangan biarkan kami terlepas dan terplanting dari garisMu
Eratkan kami dengan berpegang pada TaliMu
Tali keimanam dan ketaqwaan padaMU
Ya Allah....
Kami berserahdiri dalam putaranMu....


******

Jika Allah Berkehendak

Riuh suasana kantor bermula dari obrolan teman-teman yang lagi asyik membicarakan Adi. Adi baru saja tertimpa musibah. Malang nian dia. Adi telah jadi korban para penipu melalui sms yang berkedok mendapatkan bonus duapuluh lima juta rupiah. Padahal penipuan dengan modus seperti itu sudah marak dibicarakan hingga diberbagai media massa. Namun kepalang tanggung, toh kenyataannya Adi terbukti menjadi salah satu korban yang masih terus bergulir.

“Gimana sih...kok bisa kena? Ya Allah...kasihan si Adi.” sesal Ida dengan nada gerah.
“Waahhh.....mau gimana lagi. Wong Adi itu lho, sudah kami peringatkan. Sejak awal dia datang tadi pagi. Dia terus di telepone sama penipunya. Heran kok. Bisa-bisanya dia itu mudah percaya.” Rita menimpali. Seakan aktifitas kantor diijinkan untuk berhenti sejenak demi turut berberduka dengan musibah yang menimpa Adi.
Kegalauan mengitari kami yang saling menatap satu sama lain dengan bahasa rasa sesal, dongkol, putus asa juga marah berbaur teraduk-aduk.

Adi masuk ruangan dengan muka tertunduk lesuh. Pucat pasi masih nangkring di wajahnya yang berkulit putih. Mendung tebal menggelayut begitu manja seakan menawarkan diri untuk tetap setia menemani.
“Bagaimana Di?” Yulia bertanya dengan hati-hati.
Adi duduk menghadap meja kerjanya dan tetap menunduk. Seakan ingin merasakan sendiri kemelut yang ada di hatinya. Bulir bening mengambang dari sudut matanya dan cepat-cepat dia menghapus sebelum semua rekan kerja memergokinya.

“Ya...mau bilang apa Yul, tabunganku habis dalam hitungan detik dan itu terjadi di depan mataku sendiri. Ya Allah...saya bingung mau bilang bagaimana sama istriku.” dengan suara pelan dan nafas yang lemah Adi mencoba untuk tetap tegar.
“Ada berapa juta duit tabunganmu?” Rita turut bertanya
“Ada sekitar tiga juta. Untung saya memberikan nomor rekening yang itu. Coba kalau saya memberi rekening yang satunya. Wah...bisa mati saya. Sudah duitnya lebih banyak, itu juga duit berdua dengan istri saya. Untuk yang ini saya tidak berani ngomong sama istri saya. Biar jadi tanggungan saya sendiri.” Adi menjelaskan dengan memutar-mutar pena yang ada di tangannya. Seakan-akan dia meminta pena itu untuk turut merasakan kepedihan hatinya.
“Di...saya itu heran. Bukankah kamu sudah diperingatkan sama Eko, Catur, Rita, Ari,dan banyak orang lagi yang sudah mencoba mengingatkanmu. Kamu kok enggak mau denger itu lho..saya itu heran. Sebenarnya apa yang kamu rasakan sih?” Yulia mencoba untuk menyelidik.

Kucoba mengikuti terus apa yang mereka sampaikan dengan berbagai alur cerita yang kadang sepenggal, namun akhirnya bisa saling melengkapi dan menjadikan cerita yang utuh. Adi menarik nafas panjang memandang kami dengan kekalutan mata yang sayu. Masih jelas terlihat bayangan awan kelabu bersamanya.

“Entahlah...Yul. Seakan-akan telingaku ini terkunci hingga tidak sanggup saya mendengarkan nasehat kalian. Sudahlah...Saya mencoba untuk ikhlas menerima ini semua.” Adi mencoba memupuk kekuatan.
“Kamu tadi pas di dalam ATM juga kan diperingatkan sama Anton sih..?!! Tapi kamu sempat marah-marah. Makanya lain kali hati-hati. Wong penipuan semacam itu lho sudah menjamur kok kamu bisa-bisanya gak ngerti.” Rita menghujani dengan sedikit menyalahkan dari rasa jengkel yang nasehatnya tidak diindahkan oleh Adi.

“Sudah Rit, kamu jangan marahin Adi terus. Kasihan dia. Sudah kena musibah kok malah kamu marahin. Emang kalau kamu marahin gitu duitnya bisa balik apa?” Eko mencoba membelah sahabatnya. Eko bangkit dan menepuk pundak Adi memberi kekuatan moril.
“Yang sabar ya Di...” Eko mencoba menyalurkan ketenangan bathin miliknya. Adik menerimanya dengan menggangguk lemah.

Hening menyelimuti kami dengan alam pikiran masing-masing. Kucoba menggabungkan semua penggalan cerita dan membaca makna dari lukisan yang telah Allah goreskan pada hambaNya yang lemah dan tak berdaya ini. Hmmm....pelajaran apa yang ingin Allah berikan pada kami semua. Itu yang kucoba untuk mencarinya. Masih kutatap wajah pucat milik Adi dengan kelesuhan hidup yang harus dia jalani. Dicobanya untuk menyongsong langkah kaki pada babak berikutnya, tapi masih terasa berat beban dipundak yang merangkulnya.

“Dii...yang sabar ya...jadikan semua pelajaran bagimu.” keluar juga akhinya kata-kataku untuknya. Kucoba dengan sepenuh hati membantu membelai jiwanya yang lara.
“Iya Fit..terimakasih. Semua akan saya jadikan pelajaran.” sahut Adi menatapku mencari teman untuk membagi dukanya. Dan kucoba menerima tawarannya dengan tersenyum dalam ketulusan.

“Pelajaran yang bagaimana Di..?” kucoba menggalih apa yang telah terajut dalam benaknya dari apa yang telah Allah berikan.
“Yaa... saya harus lebih hati-hati .. saya tidak akan mudah percaya dengan hal seperti itu lagi. Dan untuk saat ini saya coba untuk mengikhlaskannya.” jawab Adi yang memaksakan hatinya untuk tesenyum walau kurasakan getir.
“Bagus Di... harus begitu. Tapi ada satu pelajaran yang terlupakan olehmu .” dengan tersenyum kusampaikan mengundang pertanyaan Adi dalam kebingungan.

“Pelajaran yang bagaimana maksudmu Fit?” Adi balik bertanya.
“Kamu ingat lagi. Betapa kita semua teman-temanmu berupaya untuk menyelelamatkanmu dari musibah itu. Tapi toh, tidak ada yang bisa.” kutarik nafas mengatur ketenangan dalam batinku dengan harapan bisa berbicara seiring dengan kata hatiku. Kuingin hati yang memimpin ucapanku. Akhirnya dengan tersenyum kuteruskan.
“Di...jadikan pelajaran, bahwa jika Allah sudah menghendaki kamu terkena musibah, disana berapapun manusia yang berserikat ingin menolongmu tidak akan ada yang sanggup mengeluarkanmu dari musibah itu. Tidak akan!! Allah yang menentukan dan Allah pula yang akan menyelesaikan. Jadi kamu sabar ya... Mohon kekuatan padaNya untuk sanggup bersabar. Kehidupan ini terus berjalan. Dan tidak semuanya sesuai dengan keinginan kita. Ada kalanya kita diberikan nikmat, adakalanya kita mendapatkan musibah, dan disana Allah mau kita untuk bersabar serta mensyukuri apapun pemberianNya. Karena semua itu ujian buat kita. Semoga Allah memberi kekuatan padamu untuk menghadapi ini semua. Dan satu lagi Di, kita jangan berhenti memperbaiki diri. Karena dengan begitu InsyaAllah semua akan baik-baik saja. ” paparku mengutip ceramah ustad yang tadi pagi kudengarkan.

“Iya Fit.. InsyaAllah. Saya akan mencobanya. Terimakasih ya..” sahut Adi sembari tersenyum.
Sambil lalu yang lainnya memperhatikan dan menyimak percakapan kami. Sejurus kemudian kami sudah tenggelam dalam kesibukan masing-masing. Seakan-akan cerita Adi sudah tidak menarik perhatian kami lagi. Sedangkan waktu terus berjalan dengan cerita-cerita yang selalu tertulis dan terlukis dalam garis kehidupan tiap-tiap anak manusia. Kadang sedih kadang bahagia. Dan semua tetap kan indah jika dirasakan bersamaNya. Ya... bersamaNya...

Ya Allah...Semoga Engkau beri kekuatan Adi menghadapi ujianMu ini
Dan semoga ujian ini bisa menghantarkan dirinya untuk bisa lebih dekat denganMu
Dekaatt...hingga benar-benar dalam pelukanMu...
Amien...

*****

Ulang Tahun Lily

Riuh tepuk tangan dan nyanyian selamat ulang tahun dari anak-anak kecil yang duduk rapi di teras rumah menambah semarak suasana perayaan ulang tahun Lily yang ke-1 tahun. Ruang tamu, teras bahkan sampai ke jalanan dipenuhi tamu undangan baik dari kalangan keluarga, teman maupun tetangga kanan kiri. Sekitar dua ratus lima puluh undangan telah disebar mas Wawan demi merayakan hari kelahiran buah hatinya. Sekalian
halalbihalal dengan keluarga kata mas Wawan memberi alasan pada kami.

Dengan menggunakan baju putih, sepatu putih dan rambut dikuncir berdiri menambah lucu wajah Lily yang selalu dalam gendongan mba Zia. Matanya berputar-putar melihat sekeliling yang begitu ramai yang setiap pandangan selalu tertuju padanya. Mungkin bingung, mungkin sedikit tidak mengerti ada apa gerangan dengan keramaian yang ada. Tapi dari sorot matanya terlihat Lily sangat menikmati suasana gempita itu dengan sesekali mengembangkan senyum dibibirnya.

Usai acara, mas Wawan yang sedari tadi berpesan padaku untuk mencarikan panti asuhan untuk berbagi rasa bahagia dengan memberi makanan dan kue pada anak-anak panti memastikan lagi.
“Fit, bagaimana? Panti Asuhan mana?” Tanya mas Wawan.
“Walah mas, ternyata musim lebaran begini sulit cari anak panti. Pada mudik itu mas. Sudah lebih dari lima Panti Asuhan yang dekat sini kuhubungi ternyata pada mudik. Masa’ cuman tiga atau lima anak aja. Hmmm……mana lagi ya..” sahutku sembari membolak balik catalog Panti Asuhan seSurabaya yang kudapatkan dari BKPPAIS beberapa waktu yang lalu. Benar-benar memudahkan kami dengan diterbitkan catalog Panti Asuhan seperti ini. Sangat bermanfaat. Benakku berguman sendiri dengan terus menyusuri nama-nama panti yang mesti kuhubungi lagi.

“Coba PA Al-JADID ini ya mas”
“Ya uda sembarang aja. Yang penting makanan ini bisa kita salurkan. Enggak menyangka liburan lebaran begini anak-anak panti juga pada liburan ke keluarganya.”
Alhamdulillah…ternyata di PA Al-Jadid masih ada anak-anak panti yang jumlahnya lebih banyak dari PA yang lainnya. Sekitar 22 anak termasuk dengan non panti yang tinggal di sekitar lingkungan panti. Begitu informasi yang kudapatkan dari pengasuhnya. Akhirnya kami pun menjatuhkan pilihan mengirim makanan dan kue pada PA Al-Jadid yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah kami. Disamping itu mas Wawan juga mengajak menyebarkan snack yang masih banyak ke panti-panti yang lainnya. Mesti tidak ada anak panti, tapi kalau snack bisa bertahan lama. Jadi dititipkan pada pengasuh untuk diberikan pada adik panti saat mereka datang. Begitu mas Wawan memberi alasan padaku. Akhirnya malam itu bersama beberapa teman mas Wawan dan juga mas Yuda kami keliling ke panti-panti.

Haru menyapa kami saat sudah berada di tengah-tengah anak panti dengan segala kepolosan dan mimik yang mengundang empati kami. Kami berkumpul di mushola dengan membentuk lingkaran. Salam dan sedikit penjelasan kusampaikan pada adik-adik panti yang kebetulan malam itu pengasuhnya sedang mengisi pengajian di luar sehingga tidak bisa menemani kami. Hanya kami dan adik-adik panti. Dan itu membuat kami lebih leluasa memperhatikan mereka dengan segala tingkahnya yang masih polos, malu-malu dan salah tingkah dengan perhatian yang kami berikan.

“Kok gak mudik?” tanyaku.
“Tidak..” jawab salah satu dari mereka.
“Asalnya mana?” mas Agra teman mas Wawan turut bertanya
“Lampung.” Jawab yang lainnya.
“Ooo……jauh sekali. Apa karena asal kalian jauh itu yang membuat kalian tidak pulang?” tanyaku yang mulai tertarik untuk menyimak.
“Iya..” jawab mereka dengan polos. Terenyuh sekali hati kami mendengarnya. Disaat kami bisa berkumpul dengan keluarga di hari lebaran seperti ini, ternyata tidak bagi mereka. Mereka tetap dipanti. Mereka jauh dari keluarga, entah masih atau tidaknya orangtua mereka.

“Ada nggak yang saudara kandung disini?” Tanya mas Wawan yang sedari tadi diam dan kebanyakan menundukan pandangan. Sepertinya mas Wawan tidak begitu tega melihat mereka. Diam dalam lisannya, merintih dalam hatinya yang turut piluh tersentuh.
“Ada…ini sama ini..” jawab salah satu dari mereka dengan menunjuk pada dua anak yang satu laki-laki sebagai kakak dan yang satu perempuan sebagai adiknya. Dan hanya dia satu-satunya perempuan yang ada pada waktu itu. Dia selalu menunduk dan malu-malu. Selalu menjauh dari teman-temannya.

Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terus bergantian kami lontarkan demi ingin lebih mengetahui mereka. Kamipun meminta mereka menyebutkan satu per satu namanya. Dan lagi-lagi sikap lucu yang mereka tunjukan dengan saling dorong mendorong untuk menutupi malu-malu dan salah tingkah mereka. Tidak jarang kami memberikan guyonan yang menyegarkan hingga gerrrr…..tawa kami turut menghiasi malam yang semakin larut dalam kepekatan. Dan kami sangat menikmati suasana itu dengan selimut haru yang masih setia menemani.
Selanjutnya kami berdoa bersama. Kami meminta barokah doa adik-adik panti untuk mengiringi keberkahan acara ulang tahun Lily. Khususnya keberkahan bagi keluarga mas Wawan dan mbak Zia sebagai sohibul hajat. Pelan-pelan kucoba melukiskan guratan doa untuk mas Wawan sekeluarga yang diamiini oleh semuanya. Kami tenggelam dalam hikmatnya harap yang kami gantungkan padaNYA ALLAH, Tuhan yang selalu memberi dan mengabulkan segala permintaan. Dzat yang Maha kaya, yang tiada pernah habis kekayaanNYA walaupun semua permintaan hamba-hambaNya dipenuhiNYA. Subhanallah...... Maha suci ALLAH dengan segala kemulyaanNYA.

Dirasa cukup, kamipun berpamitan pada adik-adik panti. Sebelum beranjak pergi mas Jun yang sedari tadi tidak begitu banyak komentar merogo saku dan mengeluarkan sejumlah uang dan diberikan pada salah satu anak panti yang lebih besar dengan sebelumnya berpesan untuk dibagi bersama yang lain.
Akh…….anak panti selalu menggugah hati dan jiwa. Dan memang selalu begitu. Mengetuk-ngetuk pintu hati siapa yang melihat dan memperhatikannya. Dan mereka yang mau membuka hati, pasti akan tergerak dan memberi. Yaa…….memberi dan berbagi dari apa yang telah Allah titipkan untuk kita miliki, gemingku dalam hati.

Kami tinggalkan PA Al-Jadid dan melanjutkan ke panti-panti yang lain yang sudah ditunjuk oleh mas Wawan untuk membagi snack yang masih seabrek. Malam yang indah di bulan Syawal ini. Ulang tahun Lily yang jatuh tepat tanggal tigabelas tepat jatuh di hari lebaran. Keberkahan Idul Fitri keberkahan untuk Lily. Semoga bisa menjadikan Lily kecil kelak menjadi seorang wanita yang sholeha dengan kuatnya iman dan ketaqwaan pada Allah Swt. Selamat Ulang Tahun Lily……………

******

Pelajaran di KA

Berjubel para penumpang yang berebut masuk membuat pintu gerbong kereta yang bersandar di stasiun KA di kota kelahiran Bung Karno inipun terasa sangat sempit walaupun hanya untuk satu badan orang. Kami memang sudah berencana di hari kedua lebaran tahun ini akan mengunjungi Eyang kakung dan Eyang Putri dengan naik KA. Dan hal yang tidak pernah kami rasakan sebelumnya kini kami mencoba menikmatinya meski dengan banyak rasa yang mengiringi selama perjalanan. Belum lagi bersamaan dengan hari mudik nasional yang membuat kami gerah karena kami harus berdesakan dan berjubel-jubel saling dorong. Sementara kemoloran jadwal keberangkatan kereta juga membuat kami merasa lebih lelah beberapa kali lipat ketimbang biasanya. Hal-hal yang terjadi di musim mudik seperti ini mungkin sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka yang sering mudik saat lebaran tiba. Sendangkan kami yang selama ini hanya menyaksikan di layar televisi, kini waktunya kami berperan sebagai pemainnya. Jarak yang bisa ditempuh selama empat hingga lima jam, jika waktu lebaran tiba akan bisa sampai delapan jam kami bergoyang-goyang diatas kereta yang pengap sesak dengan hiburan desah para penumpang dan aroma keringat yang bercampur parfum beraneka rasa. Wuiihh……..

Berbeda dengan saat kami berangkat kemarin. Karena kami mendapatkan awal keberangkatan kereta di stasiun semut. Dan dengan sengaja juga kami berangkat lebih pagi sehingga kami tidak begitu susah menemukan bangku kosong bagi ibu, mas Wawan, mbak Zia, juga aku sendiri. Sedangkan lili yang masih berusia satu tahun bergilir duduk dipangkuan kami menyesuaikan hasrat hati si kecil. Kami bergantian menghibur lili apabila telah kami tangkap mimik jenuh dengan pengap dan sesaknya gerbong KA yang tidak jarang berhenti begitu lama hanya untuk menurun-naikan penumpang ataukah hanya karena kres dengan KA yang lainnya.

Untuk kali ini setelah berhasil menerobos masuk kami berlahan bergeser menuju tengah gerbong yang sebenarnya juga sudah penuh para penumpang. Ibu di depan kemudian disusul mbak Zia dengan menggendong lily. Kuikuti di belakang dan mas Wawan yang tadi memberikan jalan kami menerobos para penumpang untuk memasuki pintu gerbong yang berdesakan kini mengawal kami dari belakang. Alhamdulillah akhirnya begitu sedikit bergeser ke arah tengah seorang bapak berdiri dari tempat duduknya mempersilahkan mbak Zia dengan lily untuk menempati tempat duduknya. Kami lega mengatahui hal itu dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada si bapak. Aku jadi ingat selama perjalanan berangkat kemarin, mas Wawan pun banyak melakukan hal demikian. Mesti dia sudah mendapatkan tempat duduk, begitu melihat ibu-ibu yang mengggendong bayi, mas Wawan langsung berdiri memberikan tempat bagi mereka. Sampai akhirnya mas Wawan sendiri tidak mendapatkan tempat duduk dan sesekali bergantian dengan kami atau dengan sedikit berdesakan hanya menempelkan pantat demi menghalau penatnya kaki. Dan sekarang, berganti kami yang tidak mendapatkan tempat duduk, dan kami menemukan orang –orang yang memiliki jiwa yang terpanggil hingga berkenan mengikhlaskan tempat duduknya untuk yang lain.

Mungkin tidak jarang hal demikian kita temui, tapi tidak sedikit juga kita menemukan orang-orang yang tidak mau berbagi apalagi mem beri dari apa yang dirasakan sudah menjadi milik atau haknya. Jika hati tak bergerak, maka tiada bisa kita berharap banyak tangan dan kaki untuk turut bergerak. Apalagi urusan dalam kebaikan. Tidak mudah menemukannya.

Aku sendiri berangsrut mendekati ibu yang berdiri di samping mbak Zia. Kuletakan tas besar miliku di rak atas tempat yang disediakan untuk barang-barang bawaan kami. Karena tanganku belum mencukupi untuk menjangkau rak, maka aku bergeser masuk di tengah tempat duduk para penumpang.
“Permisi bu, pak….nyuwunsewu…” permintaan ijinku sambil menebarkan pandangan kesekeliling. Sebagian mereka membalas dengan tersenyum dan anggukan. Sebagian cuek hanya melirik sekilas kearahku.
“Sini mas tas ranselnya tak naikan.” Kutawarkan pada mas Wawan. Akhirnya semua tas besar bawaan kami, sudah mendapatkan tempat. Kami lebih ringan walau berdiri kami hanya membawa tas mungil di tangan.
Jika waktu berangkat kemarin aku langsung duduk dan tidak begitu hiraukan dengan penumpang yang lain. Berbeda dengan waktu pulang. Dengan berdiri aku bisa melihat para penumpang hingga yang jauh berdiri maupun duduk. Entah mengapa, aku merasa nyaman dan senang dengan kondisi itu. Senyuman terus tersungging di bibirku menyaksikan pemandangan yang tidak tiap hari bisa kunikmati ini. Bersyukur aku ditempatkan Allah di tengah-tengah bangku duduk para penumpang, sehingga tidak terganggu dengan para penjual yang hilir mudik membelah para penumpang untuk menawarkan dagangannya. Sebagian ada yang menggerutu dengan ulah para pedagang yang main srodok hingga ada penumpang yang oleng karena tidak mampu menahan keseimbangan badan dengan guncangan kereta.

Di depanku seorang ibu dengan memangku anaknya mencoba memejamkan mata. Tapi malang, si anak yang semula tertidur pulas, malah terbangun dan merengek. Biji-biji keringat mengumpul di kening, leher dan lengan si anak. Gerah pasti jawaban yang tepat untuknya. Si ibu dengan mengguncang-guncang tubuh mungil itu memberikan botol susu yang diambil dari tas tentengnya.
“Kasihan bu, adhiknya gerah. Kipasnya mana bu….. boleh saya kipasin..” kucoba menawarkan diri.
“Tidak punya mbak.” dengan tersenyum ibu muda itu menjawab. Kucoba membantu dengan mengibas ibaskan tanganku. Tapi tentu tidak banyak angin yang kuhasilkan. Kutanggap ibu yang duduk di bangku belakangku memegang sebuah topi milik anaknya yang kebetulan tidak sedang dipakai.
“Bu..bisa pinjem topinya….. ini adhiknya kasihan. Kepanasan……keringatnya banyak sekali.” Pintaku pada ibu tersebut.
“Oo…iya mbak…silahkan”
“ Terimakasih.”

Kuraih topi itu dan kugunakan untuk kipas-kipas adhik kecil yang ada di depanku. Ibu muda itu tersenyum melihat ulahku. Kami saling tersenyum dengan menyaksikan si kecil yang mulai tenang. Tenang yang dia rasakan, ternyata menular pada kami yang memperhatikannya. Kami pun turut lega dan tenang. Sudah tidak rewel dan tidak merengek-rengek lagi. Nikmat dan bahagia yang kurasakan semakin membunca kala bisa turut berbagi dengan yang lain. Ternyata dengan bersama yang lain dan mau membagi walaupun itu sedikit, jika dilakukan dari dalam hati akan luar biasa rasa yang timbul untuk kebahagiaan jiwa. Kubandingkan dengan saat perjalanan berangkat aku lebih banyak duduk dan tidur. Sibuk dengan diriku sendiri. Tidak begitu banyak memberi manfaat bagi orang lain. Dan disaat diri bisa memberi manfaat bagi yang lain, disana satu makna terlukis indah yang menyembulkan rasa bahagia dari dalam hati. Hmmm……Alhamdulillah ya Allah…. Saya bisa merasakan nikmat kala bisa memberi manfaat bagi yang lain. Sehingga menolong, membantu dan menjadi jalan demi kebaikan orang lain adalah satu kesenangan bukan jadi satu beban. Alhmdulillah…….hatiku berbisik dalam senyuman.

Disisi lain kulihat mas Wawan berdiri disamping ibu. Kebanyakan kulihat mas Wawan memeluk ibu untuk melindungi ibu dari dorongan penumpang lain atau para pedagang yang lalulalang. Ibu sendiri satu tangan memegang sandaran kursi sedangkan satu tangan memegang lengan mas Wawan. Sesekali mereka bercakap-cakap. Dan mas Wawan sering bercanda hingga kami tertawa geli. Panasnya gerbong kereta terkalahkan dengan hangatnya kebersamaan kami yang tidak setiap hari berkumpul. Hanya kurang lebih satu minggu mas Wawan dan mbak Zia berlibur ke Surabaya di lebaran kali ini. Sebentar lagi mereka meninggalkan kami dan kembali ke Bali tempat pilihan merantau mereka. Tak heran ibu terlihat senang dan bahagia bisa berkumpul bersama-sama mesti tidak semua anaknya bisa berkumpul. Mas Edi, mas Hari, dan Mbak Cici untuk tahun ini belum bisa ke Surabaya. Semoga untuk tahun depan kami bisa berkumpul. Itu harapan ibu yang selalu diucapkan padaku.

Di stasiun Tulungangung tempat duduk depan mas Wawan dan ibu berdiri penumpangnya turun. Ada tiga bangku kosong disana. Ibu memanggilku untuk menempati tempat duduk tersebut. Mbak Zia dan Lily juga akhirnya berpindah tempat duduk dekat kami. Alhamdulillah…akhirnya kami mendapatkan tempat duduk hingga kami tidak perlu berdiri selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan jam.
Kusandarkan punggung dan melihat keluar jendela. Rumah-rumah penduduk berlarian menjauh dan tertinggal. Sedang kereta terus melaju kencang dan tetap berada dalam rel. Pandanganku menerawang dengan pikiran melayang mencoba merenungi ayat-ayat Allah yang terhampar ‘ehmm….coba kalau kereta ini berjalan di luar rel yang sudah ditentukan..... pasti sudah kacau dan gak mungkin sampai pada tujuan. Mungkin itu satu gambaran buat umat manusia. Barang siapa yang hidupnya berjalan di luar rel yang telah Allah tentukan pasti akan kacau dan tidak akan pernah sampai pada tujuan. Namun barang siapa yang berjalan dalam rel-rel yang telah Allah tetapkan, maka dialah yang selamat. Tapi… Sayang banyak orang yang tidak menyadari hal itu.

Ya….Allah…...
Semoga Engkau beri kekuatan kami untuk selalu berjalan di rel-rel yang telah Engkau tentukan.
Semoga kami tidak akan pernah melangkah menjauh atau bahkan meninggalkanMu.
Engkaulah tujuan kami ya Allah…….
Engkau tujuan kami …..
Tuntun dan bimbing kami untuk bisa sampai padaMu
Jangan kami terbelokan oleh yang lain
Jangan kami telena dengan nikmat dan ujian walaupun itu datangnya dariMu dan suruhanM….
Karena itu bukanlah tujuan kami. ….
Hanya Engkau ya Allah………..hanya Engkau tujuan kami
Dan hanya Engkau pulalah yang bisa membawa kami sampai padaMu
Lahaulawalahuata ilabillahil aliyil a’dhiim….
Lahaulawalahuata ilabillahil aliyil a’dhiim….
Hasbiallah…..Hasbiallah…..Hasbiallah..
Alaihi tawakaltu wahuwa rabbul arsyil adhiim…

****

Selasa, 09 Oktober 2007

Surat untuk si Yatim




Pagi ini sangat ringan bagiku melangkahkan kaki untuk berangkat ke kantor. Ada bulir-bulir bahagia yang tidak kutahu darimana datangnya, namun sangat jelas kurasakan. Hmm...bukankah itu anugerah dariNya. Alhamdulillah....ya Allah. Kumasuki ruang kantor dengan semangat lalu kusampaikan salam yang dibalas oleh teman sekantor dengan tidak kalah semangatnya..

“ Fit ada surat dari yayasan tuh. Sepertinya laporan pendidikan anak asuhmu.” Yulia memberitahu dengan menyodorkan amplop warna coklat.
“ Wong..anak asuhmu sudah gadis gitu lho. usianya saja sembilan belas tahun tapi masih kelas empat SD.. mbok gak usa disekolahkan. Dinikahkan saja. Hehehe....” Rita menggodaku.
“ Iya nih... masa anak sama ibu kok besaran anaknya. Bukan anak asuh itu namanya...tapi mbak asuh.hehehe...” Yulia pun tidak mau kalah turut meledekku.
“ Hehehehe..iya..” sahutku cengar cengir.

Kemudian kubuka amplop yang sudah berada ditanganku. Kususuri kata demi kata untuk menemukan makna yang tersurat. Nilai-nilainya lumayan bagus. Bahasa Indonesia sepuluh, Matematika sembilan, IPA sembilan, Tajwid Sembilan, Tareh delapan, I'lal delapan. Rata-rata bagus. Kulanjutkan membacanya hingga sampai pada kolom SALAM yang diisi langsung oleh anak asuh. Tertulis “ Ibu aku ucapkan terimakasih tak ada batasnya. Ibu telah menambah semangatku untuk tetap disini. Ibu aku doakan semoga ada balasannya.”

Jantungku berdetak lebih keras dari biasanya. Yang kurasakan bukan tulisan tangan milik si yatim, tapi seakan-akan Allah mengingatkanku dari tulisan itu betapa selama ini tiada yang kulakukan selain menyisihkan sedikit rejeki untuknya. Tiada kata, tiada salam, juga tiada jumpa apalagi jabattangan atau pelukan mesra.

Astaqfirullahala'dhiim.. hampir terlupakan dirinya dari benaku ya Allah. Maafkan aku... yang terlalu sibuk dengan banyaknya hal, hingga hampir saja kuabaikan dirinya disaat menjelang lebaran tiba begini. Sama sekali tidak kupunya rencana untuknya. Maafkan aku ya...Allah...maafkan.

Sepulang kerja langsung kusiapkan bingkisan untuk anak asuh yang hampir saja kulupakan. Bakal baju dan alat-alat tulis sudah kusiapkan. Lalu kuselipkan sepucuk surat yang sudah kubuat sebelumnya. Berperan sebagai ibu bagi sang anak yang merindukan belaian demi sejuknya hati dan jiwanya.

Bissmillahirahmanirrahiim....
Assalamu'alikum WrWb

Homsatun anakku yang manis...
Bagaimana kabarmu nak..? Puasanya lancar kan? Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan dalam hidupmu.

Homsatun anakku.....
Dengan kerendahan hati ibu mohon maaf ya sama kamu. Selama ini ibu terlalu sibuk dengan yang lain hingga kurang begitu memperhatikan kamu.Maaf ya sayang...
Di bulan suci yang penuh Rahmat ini, Allah telah mengingatkan ibu melalui goresan penamu. Kamu menuliskan bahwa ibu telah menambah semangatmu untuk tetap tinggal di panti. Ibu malu sayang...dengan tulisanmu itu. Padahal Ibu tidak melakukan apa-apa untukmu. Maaf ya...

Homsatun anakku...
Kamu yang Sabar ya sayang tinggal di panti sama teman-teman. Belajarlah yang rajin demi masa depanmu. Jangan lelah untuk terus berdoa... Allah itu Maha kasih dan mencintai hamba-hambaNya yang beriman. Jaga Allah di hatimu ya nak.... Jangan menjauh dariNya, melainkan mendekatlah karena kekuasaan itu milikNya, keagungan itu milikNya, kemuliaan itu milikNya, kekayaan itu milikNya dan kelembutan itu juga milikNya. Dia yang Maha memiliki semua yang ada. Mohonlah pada Allah agar kamu kuat iman. Jangan karena keadaan yang ada membuat kamu merendahkan Allah ya sayang... Selama Homsatun rajin beribadah, menjalankan sholat, puasa serta berbuat baik. Allah pasti sayang sama Homsatun.Beneeer..
Yakinlah akan jaminanNya...

Homsatun yang dicintai Allah...
Jangan berkecil hati dengan yatim yang kamu sandang ya nak. Bukankah Rosulpun terlahir yatim.Bukankah Rosul itu Ayah bagi si Yatim. Bukankah Rosul sangat menyayangi Yatim.. Berbahagialah dirimu mempunyai ayah semulia Rosulullah.Jangan rendah hati sayang.. semua manusia dimata Allah sama. Hanya iman dan ketaqwaan yang membedakannya. Barang siapa baik ketaqwaannya, maka dia baik dimata Allah. Semoga Homsatun bisa menjadi hamba Allah yang baik yang selalu mendapat naungan Rahmat dan Ridho Allah Swt. Mendekat terus sama Allah ya sayang.. Banyak baca Al-Qur'an biar hatimu terang. Banyak ingat Allah biar hatimu tenang.

Homsatun sayang...
Kamu tidak sendiri dalam hidup ini. Kamu tahu nak... ibu juga sama denganmu. Di usia kedelapan tahun ibupun telah yatim. Kita sama. Tapi kita tidak boleh terus bersedih. Yakin akan kasih sayang Allah ya sayang. Allah tidak akan meninggalkan kita selama kita tetap memegang amanahNya. Apa sih amanah yang Allah berikan pada kita? Masih ingat sayang? bukankah Allah berfirman bahwa tidak KUciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah padaKU.
Sayang..... ibadah itu amanah dari Allah. Kita mesti menjalankannya. Ibadah bukan hanya sholat, bukan hanya baca Al-Qur'an ataupun puasa. Kamu berbuat baik juga ibadah sayang. Kamu membantu teman yang membutuhkan pertolongan juga ibadah. Tersenyum juga ibadah lho.. Selama semua yang kita lakukan itu karena mengharap Ridho Allah akan bernilai ibadah.


Homsatun yang manis....
Banyak bersyukur ya.. biar Allah menambah nikmatNya atas kamu.Dan satu lagi...jangan mudah marah ya sayang. Belajar menerima setiap pemberian Allah dengan lapang dada. Juga belajar tidak mengeluh ya sayang. Ibu juga sedang belajar untuk itu semua. Kita belajar bareng-bareng ya.. Semoga Allah memberi kekuatan pada kita untuk bisa lebih baik dari saat ini. Semoga Allah memberikan seberkas cahaya CintaNya untuk kita sehingga kitapun mampu mencintaiNya.Amien...

Homsatun anakku....
Sudah dulu ya..suratnya. InsyaAllah lain kali kita sambung lagi. Jaga dirimu baik-baik. Jaga hatimu dari selain Allah. Kamu sudah beranjak remaja...kamu harus hati-hati. Sabar ya sayang...dan Janganlah bersedih karena Allah selalu bersamamu. ;o))

Wassalamu'alaikum WrWb
Ibu Asuhmu,
Fitri Islami

Bergetar hatiku kala membaca ulang surat itu. Ya Allah...kutulis surat ini dengan sepenuh jiwaku...semoga bisa menyentuh, membelai dan menyejukan jiwanya harapku dalam diam. Kulipat dan kumasukan kedalam ampop. Kemudian kusisipkan dalam bingkisan yang sudah kusiapkan. Dan tak ketinggalan uang saku lebaran untuknya. Lalu kutitipkan bingkisan itu pada petugas yang kebetulan berkunjung di kantor.
Anakku....Terimalah bingkisan itu dengan segenap harapmu yang tertunda. Dan maafkan ibu...
****