Berbeda dengan saat kami berangkat kemarin. Karena kami mendapatkan awal keberangkatan kereta di stasiun semut. Dan dengan sengaja juga kami berangkat lebih pagi sehingga kami tidak begitu susah menemukan bangku kosong bagi ibu, mas Wawan, mbak Zia, juga aku sendiri. Sedangkan lili yang masih berusia satu tahun bergilir duduk dipangkuan kami menyesuaikan hasrat hati si kecil. Kami bergantian menghibur lili apabila telah kami tangkap mimik jenuh dengan pengap dan sesaknya gerbong KA yang tidak jarang berhenti begitu lama hanya untuk menurun-naikan penumpang ataukah hanya karena kres dengan KA yang lainnya.
Untuk kali ini setelah berhasil menerobos masuk kami berlahan bergeser menuju tengah gerbong yang sebenarnya juga sudah penuh para penumpang. Ibu di depan kemudian disusul mbak Zia dengan menggendong lily. Kuikuti di belakang dan mas Wawan yang tadi memberikan jalan kami menerobos para penumpang untuk memasuki pintu gerbong yang berdesakan kini mengawal kami dari belakang. Alhamdulillah akhirnya begitu sedikit bergeser ke arah tengah seorang bapak berdiri dari tempat duduknya mempersilahkan mbak Zia dengan lily untuk menempati tempat duduknya. Kami lega mengatahui hal itu dan tidak lupa mengucapkan terimakasih pada si bapak. Aku jadi ingat selama perjalanan berangkat kemarin, mas Wawan pun banyak melakukan hal demikian. Mesti dia sudah mendapatkan tempat duduk, begitu melihat ibu-ibu yang mengggendong bayi, mas Wawan langsung berdiri memberikan tempat bagi mereka. Sampai akhirnya mas Wawan sendiri tidak mendapatkan tempat duduk dan sesekali bergantian dengan kami atau dengan sedikit berdesakan hanya menempelkan pantat demi menghalau penatnya kaki. Dan sekarang, berganti kami yang tidak mendapatkan tempat duduk, dan kami menemukan orang –orang yang memiliki jiwa yang terpanggil hingga berkenan mengikhlaskan tempat duduknya untuk yang lain.
Mungkin tidak jarang hal demikian kita temui, tapi tidak sedikit juga kita menemukan orang-orang yang tidak mau berbagi apalagi mem beri dari apa yang dirasakan sudah menjadi milik atau haknya. Jika hati tak bergerak, maka tiada bisa kita berharap banyak tangan dan kaki untuk turut bergerak. Apalagi urusan dalam kebaikan. Tidak mudah menemukannya.
Aku sendiri berangsrut mendekati ibu yang berdiri di samping mbak Zia. Kuletakan tas besar miliku di rak atas tempat yang disediakan untuk barang-barang bawaan kami. Karena tanganku belum mencukupi untuk menjangkau rak, maka aku bergeser masuk di tengah tempat duduk para penumpang.
“Permisi bu, pak….nyuwunsewu…” permintaan ijinku sambil menebarkan pandangan kesekeliling. Sebagian mereka membalas dengan tersenyum dan anggukan. Sebagian cuek hanya melirik sekilas kearahku.
“Sini mas tas ranselnya tak naikan.” Kutawarkan pada mas Wawan. Akhirnya semua tas besar bawaan kami, sudah mendapatkan tempat. Kami lebih ringan walau berdiri kami hanya membawa tas mungil di tangan.
Jika waktu berangkat kemarin aku langsung duduk dan tidak begitu hiraukan dengan penumpang yang lain. Berbeda dengan waktu pulang. Dengan berdiri aku bisa melihat para penumpang hingga yang jauh berdiri maupun duduk. Entah mengapa, aku merasa nyaman dan senang dengan kondisi itu. Senyuman terus tersungging di bibirku menyaksikan pemandangan yang tidak tiap hari bisa kunikmati ini. Bersyukur aku ditempatkan Allah di tengah-tengah bangku duduk para penumpang, sehingga tidak terganggu dengan para penjual yang hilir mudik membelah para penumpang untuk menawarkan dagangannya. Sebagian ada yang menggerutu dengan ulah para pedagang yang main srodok hingga ada penumpang yang oleng karena tidak mampu menahan keseimbangan badan dengan guncangan kereta.
Di depanku seorang ibu dengan memangku anaknya mencoba memejamkan mata. Tapi malang, si anak yang semula tertidur pulas, malah terbangun dan merengek. Biji-biji keringat mengumpul di kening, leher dan lengan si anak. Gerah pasti jawaban yang tepat untuknya. Si ibu dengan mengguncang-guncang tubuh mungil itu memberikan botol susu yang diambil dari tas tentengnya.
“Kasihan bu, adhiknya gerah. Kipasnya mana bu….. boleh saya kipasin..” kucoba menawarkan diri.
“Tidak punya mbak.” dengan tersenyum ibu muda itu menjawab. Kucoba membantu dengan mengibas ibaskan tanganku. Tapi tentu tidak banyak angin yang kuhasilkan. Kutanggap ibu yang duduk di bangku belakangku memegang sebuah topi milik anaknya yang kebetulan tidak sedang dipakai.
“Bu..bisa pinjem topinya….. ini adhiknya kasihan. Kepanasan……keringatnya banyak sekali.” Pintaku pada ibu tersebut.
“Oo…iya mbak…silahkan”
“ Terimakasih.”
Kuraih topi itu dan kugunakan untuk kipas-kipas adhik kecil yang ada di depanku. Ibu muda itu tersenyum melihat ulahku. Kami saling tersenyum dengan menyaksikan si kecil yang mulai tenang. Tenang yang dia rasakan, ternyata menular pada kami yang memperhatikannya. Kami pun turut lega dan tenang. Sudah tidak rewel dan tidak merengek-rengek lagi. Nikmat dan bahagia yang kurasakan semakin membunca kala bisa turut berbagi dengan yang lain. Ternyata dengan bersama yang lain dan mau membagi walaupun itu sedikit, jika dilakukan dari dalam hati akan luar biasa rasa yang timbul untuk kebahagiaan jiwa. Kubandingkan dengan saat perjalanan berangkat aku lebih banyak duduk dan tidur. Sibuk dengan diriku sendiri. Tidak begitu banyak memberi manfaat bagi orang lain. Dan disaat diri bisa memberi manfaat bagi yang lain, disana satu makna terlukis indah yang menyembulkan rasa bahagia dari dalam hati. Hmmm……Alhamdulillah ya Allah…. Saya bisa merasakan nikmat kala bisa memberi manfaat bagi yang lain. Sehingga menolong, membantu dan menjadi jalan demi kebaikan orang lain adalah satu kesenangan bukan jadi satu beban. Alhmdulillah…….hatiku berbisik dalam senyuman.
Disisi lain kulihat mas Wawan berdiri disamping ibu. Kebanyakan kulihat mas Wawan memeluk ibu untuk melindungi ibu dari dorongan penumpang lain atau para pedagang yang lalulalang. Ibu sendiri satu tangan memegang sandaran kursi sedangkan satu tangan memegang lengan mas Wawan. Sesekali mereka bercakap-cakap. Dan mas Wawan sering bercanda hingga kami tertawa geli. Panasnya gerbong kereta terkalahkan dengan hangatnya kebersamaan kami yang tidak setiap hari berkumpul. Hanya kurang lebih satu minggu mas Wawan dan mbak Zia berlibur ke Surabaya di lebaran kali ini. Sebentar lagi mereka meninggalkan kami dan kembali ke Bali tempat pilihan merantau mereka. Tak heran ibu terlihat senang dan bahagia bisa berkumpul bersama-sama mesti tidak semua anaknya bisa berkumpul. Mas Edi, mas Hari, dan Mbak Cici untuk tahun ini belum bisa ke Surabaya. Semoga untuk tahun depan kami bisa berkumpul. Itu harapan ibu yang selalu diucapkan padaku.
Di stasiun Tulungangung tempat duduk depan mas Wawan dan ibu berdiri penumpangnya turun. Ada tiga bangku kosong disana. Ibu memanggilku untuk menempati tempat duduk tersebut. Mbak Zia dan Lily juga akhirnya berpindah tempat duduk dekat kami. Alhamdulillah…akhirnya kami mendapatkan tempat duduk hingga kami tidak perlu berdiri selama perjalanan yang memakan waktu kurang lebih delapan jam.
Kusandarkan punggung dan melihat keluar jendela. Rumah-rumah penduduk berlarian menjauh dan tertinggal. Sedang kereta terus melaju kencang dan tetap berada dalam rel. Pandanganku menerawang dengan pikiran melayang mencoba merenungi ayat-ayat Allah yang terhampar ‘ehmm….coba kalau kereta ini berjalan di luar rel yang sudah ditentukan..... pasti sudah kacau dan gak mungkin sampai pada tujuan. Mungkin itu satu gambaran buat umat manusia. Barang siapa yang hidupnya berjalan di luar rel yang telah Allah tentukan pasti akan kacau dan tidak akan pernah sampai pada tujuan. Namun barang siapa yang berjalan dalam rel-rel yang telah Allah tetapkan, maka dialah yang selamat. Tapi… Sayang banyak orang yang tidak menyadari hal itu.
Ya….Allah…...
Semoga Engkau beri kekuatan kami untuk selalu berjalan di rel-rel yang telah Engkau tentukan.
Semoga kami tidak akan pernah melangkah menjauh atau bahkan meninggalkanMu.
Engkaulah tujuan kami ya Allah…….
Engkau tujuan kami …..
Tuntun dan bimbing kami untuk bisa sampai padaMu
Jangan kami terbelokan oleh yang lain
Jangan kami telena dengan nikmat dan ujian walaupun itu datangnya dariMu dan suruhanM….
Karena itu bukanlah tujuan kami. ….
Hanya Engkau ya Allah………..hanya Engkau tujuan kami
Dan hanya Engkau pulalah yang bisa membawa kami sampai padaMu
Lahaulawalahuata ilabillahil aliyil a’dhiim….
Lahaulawalahuata ilabillahil aliyil a’dhiim….
Hasbiallah…..Hasbiallah…..Hasbiallah..
Alaihi tawakaltu wahuwa rabbul arsyil adhiim…
****



Tidak ada komentar:
Posting Komentar