Selasa, 11 September 2007

Akh Pantas Kenyang

Kutundukan pandanganku dalam-dalam seakan ingin kumasuki pori-pori lantai ruang tengah itu. Begitu ramai suara yang berisik di dalam benakku. Ada penyesalan, ketakutan, keresahan, kegetiran, kegelisaan, juga kebingungan, semua tertumpuk dan diaduk-aduk menjadi satu. Mungkin kalo Gado-gado masih enak rasanya, tapi ini perasaan yang bergemuruh di hatiku yang tak kunjung mau berhenti. Akh.....dasar bodohnya aku ini..sesalku dalam diam.
Selengkapnya>>

Jumat, 24 Agustus 2007

Bersihnya Hati

Pagar rumah yang terkunci rapat, terlihat seolah -olah tiada penghuninya di rumah besar itu. Ku buka tas bagian depan untuk mencari sebuah kunci yang kumaksud. Setelah membebaskan gembok dari ikatan pagar, kubuka lebar hingga motorku pun bisa memasuki teras rumah. Terdengar dari dalam pintu rumah berbunyi tanda penghuni rumah melepaskan kunci lalu membukanya.
“Assalamu'alaikum...” ku sampaikan salam
“Wa'alikumsalam.... Aduhh nak...! ibu hari ini dapat teguran dari Allah. Wahh... seru poko'nya. Memang kesalahan ibu ini nak” jawab ibu diiringi deretan cerita yang sepertinya sudah sedari tadi ditahan untuk disampaikan. Kuhampiri beliau lalu kucium tangannya. Lalu kami memasuki rumah dengan tangan kami yang belum terlepas.

“Emangnya ada apa bu...?” sahutku melepaskan tangan sambil menuju ruang tengah dan menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Hp ibu hilang fit.”
“Lho..!! bukannya tadi pagi ada di meja ruang tamu? Fitri lihat lho bu..?”
“Iya...memang tadi di situ. Ibu lupa menaruhnya di kamar. Dan tadi itu ada seorang pengemis perempuan muda sambil gendong anaknya. Tapi ibu gak berani shuudon denganya. Masak dia... wong lihat wajahnya itu sepertinya gak mungkin kalau dia itu nak...!”
“Lha yang di rumah siapa saja?”
“Yaa...cuma ibu, mas Yuda, Eyang putri juga Eyang kakung. Kalau orang luar ya...cuma pengemis perempuan itu nak. Tapi masak itu ya..? Waktu pengemis itu datang sih yang dirumah cuma ada ibu dan Eyang putri. Dan lagian memang mencurigakan sih nak, pengemis itu langsung saja membuka pagar lalu duduk di depan pintu. Wong belum di suruh masuk juga sudah masuk. Habis itu ibu ambilkan minum untuk dia. Masak waktu itu ya dia nyelonong masuk ambil Hpnya? Tapi ibu gak berani berburuk sangka padanya.
Untuk hilangnya Hp sih ibu enggak terlalu menyesal. Enggak geton gitu lho nak. Ibu merasa itu teguran dari Allah karena seharian tadi ibu sibuk dengan tanaman Anggrek ibu, sampai lupa sholat Dhuha. Ibu enggak ingat sama sekali. Hp di situ juga enggak ingat. Baru tadi sore ibu habis sholat asyar ibu mau pakai telepon, baru ingat. Baru ketahuan ilangnya” Cerita ibu panjang lebar

“Kalau coba dihubungi bagaimana?”
“Sudah.......dicoba sama mas Yuda, tapi tidak aktif. Ini semua salah ibu. Sebenarnya ibu sudah ikhlaskan, tapi gak tau kok ya masi kepikiran.” kata ibu sambil membetulkan kacamatanya yang turun.
“Ini bisa dibilang teguran sekalian ujian buat ibu karena Allah sayang sama ibu..?”
“Lho kok bisa sih nak...gimana..gimana maksudnya?”
“Kalau dibilang teguran bisa, biar ibu jangan terlalu asyik dengan apa yang dikerjakan sehingga melupakan Allah. Bisa juga di bilang ujian demi meningkatkan kwalitas keimanan ibu, lalu dilihat bagaimana ibu dalam menghadapi kehilangan ini. Apa ibu marah, sedih, kecewa atau bagaimana? Dan saya lihat ibu tidak seperti itu. Jadi InsyaAllah Ibu nilainya bagus dech. Hehehe....selamat ya bu...”
“Oohh...gitu ya nak..Alhamdulillah..”

Kusandarkan punggunggku tuk hilangkan sedikit keletihan dari seharian sibuk di kantor.
“Ada sebuah riwayat bu yang pernah saya baca dari suatu buku. Ada seorang murid yang bercerita pada gurunya dengan penuh rasa kagum bahwa dia telah melihat orang sakti yang bisa berjalan di atas air. Sedangkan sang guru tidak terlihat kagum atau bagaimana. Lalu si murid bercerita lagi bahwa orang tersebut bisa terbang. Tapi sang guru tetap tidak menunjukan ekspresi yang terpukau. Lalu si murid dengan rasa penasarannya bertanya pada gurunya mengapa sang guru sama sekali tidak kagum atau sejenisnya.Sang gurupun menerangkan bahwa tiada pernah heran melihat orang yang berjalan di atas air karena ikan pun begitu. Untuk terbang di udarapun burung juga bisa. Dan semua itu golongan Jin dan Iblis dengan mudah melakukannya. Sang guru meneruskan keterangannnya bahwa dia akan kagum apabila menemukan orang yang memiliki sesuatu , lalu sesuatu itu hilang dan dia tidak menunjukan perubahan exspresi kekecewaan dan tetap dalam kehambaannya pada Allah.” ceritaku pada ibu yang terlihat sedikit kebingungan
“Jadi maksudnya bagaimana ya nak? Kok bisa kagum dengan orang yang tidak sakti”
“Yaa...berarti kan orang itu bisa sabar menerima ketentuan yang paling tidak enak yang telah diberikan Allah padanya. Dia telah mendapat Ridho Allah bu... dan InsyaAllah ibu pun begitu karena ibu tidak merasa sedih, kecewa ataupun marah dengan kehilangan Hp itu. Namun kalau bisa jangan cuman Hp aja yang bisa kuat ya bu....semuanya yang kita rasa kita miliki ini. Karena Hakekatnya semua ini kan titipan. Bukan milik kita, tapi milik Allah. Sebagaimana yang pernah saya baca bahwa keimanan yang sempurna itu keimanan yang merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun kecuali Allah. Jadi suatu saat jika di ambil ya...kita gak boleh protes baik dalam bentuk apapun dan jika kita mendapatkan sesuatupun kita meyakini itu semua dari Allah semata oleh karena itu layaknya kita syukuri. Waahhh jadi kepanjangan ya bu... Jadi malu nih, kaya' udah kebeneran saja..”

Senyum ibu merekah bagai bunga di depan rumah. “Eii...enggak papa nak, ibu malah suka kalau kamu cerita seperti itu. Kamu kan bisa belajar jadi ustadzah.”
“Jauuhhh bu... lagian gak berani mimpi. Saya cuma pingin jadi hamba Allah yang bener saja dech. Belajar tidak selingkuh menjadi hamba selianNya. Karena itu fitri terus belajar supaya bisa setia sama Allah. Hehehehe...” sahutku sambil menyalakan Televisi.
“Ada lagi lho cerita yang lucu nak, sudah ibu habis kehilangan HP. Ee...tadi sore ada orang laki parubaya mondar mandir di depan rumah sambil lihatin rumah kita ini terus. Ya..tentu saja ibu sedikit takut. Akhirnya ibu coba beranikan diri untuk menegurnya. Ternyata dia itu lagi sakit perut mau ke belakang. Mau numpang tapi sungkan.” cerita ibu meneruskan

“Terus...ibu kasih ijin enggak?” Tanyaku penasaran sambil mengarahkan pandanganku menatap lekat mata wanita tua di hadapanku penuh kecemasan.
“Iya ta kasih ijin nak, kan kasihan.. ibu itu membayangkan betapa sakit perutnya yang menahan mau kebelakang. Wong ibu lho pernah mengalaminya. Waktu jalan-jalan sama Ayah, ibu terasa pingin kebelakang. Dan ibupun cari tumpangan. Gitu aja rasanya seneng banget ada yang mau memberi tumpangan.”
“Alhamdulillah..... Ibu hebat...bener-bener hebat.”
“Lho?! Kenapa nak? Wong gitu aja kok hebat. Wong kasih tumpangan saja kok hebat.”

“Yee...ibu kok gak peka sih. Di sini saya melihat betapa Allah telah mendatangkan orang itu untuk menguji ibu kedua kalinya. Begini, ibu kan habis kehilangan HP. Itupun dengan adanya peristiwa pengemis perempuan yang aneh dan mencurigakan. Ibu tidak berani Shuudhon dengannya dan mencoba menghilangkan perasangka-perasangka buruk padanya itu sudah bagus. Dan ibupun tidak kecewa, sedih ataupun marah dengan kehilangan HP, itu lebih bagus lagi. Lalu Allah masih ingin menguji ibu kesekian kalinya dengan mengirimkan orang yang sakit perutnya dan numpang ke belakang. Intinya cuman satu bu, setelah sederetan cerita di awal apakah ibu masih tetap menjaga hati ibu untuk tidak menorehkan nota hitam di hati ibu dengan berburuk sangka pada orang lain?? Jarang bu, orang yang habis kehilangan itu dengan muda memberi kepercayaan pada orang asing. Kebanyakan bawaannya curiga melulu. Tapi, ternyata ibu mengijinkan orang tersebut untuk kebelakang, dan ibu sama sekali tidak menaruh curiga. Itu lebih dari hebat bu....T.O.P B.G.T istilahnya .. TOP BANGET... Berarti hati ibu bener-bener terjaga dan bersih. Subhanallah........Saya kagum sama ibu. Alhamdulillah ya Allah...” Rasa kagumku tidak terbendung lagi hingga tanpa terasa genangan air sudah memenuhi kelopak mataku. Kuraih tubuh wanita tua itu dan kami pun berpelukan.
Ya..Allah, semoga Engkau selalu memberi kekuatan kami untuk tetap teguh denganMu. Bertahan dalam kesabaran disetiap kemauan dan kehendakMu atas kami. Beri kekuatan kami ya Allah, untuk menyadari bahwa semua hakekatnya adalah diriMu yang ada. Bukan kami, bukan yang lain melainkan diriMu. Engkau yang memberi Ujian dan Engkau pula yang memberi kekuatan. Terimakasih ya Allah....terimakasih.

Kutinggalkan ibu dengan kesibukannya. Dengan berlari kecil kusambar handuk lalu menuju kamar mandi. Sebentar lagi Adzan mahgrip berkumandang dengan suaraNya yang menggetarkan. Begitu terasa indah undangan itu bagi kita hamba-hambaNya. Semoga kita memenuhinya dengan melepaskan semua kebisingan dunia yang kemudian tenggelam dalam asyiknya bercengkrama denganNya. Labaikallah...hummalabaik.....

********


Sumber: (Cerpen Harian)

Ibu……………Fitri Sayang Ibu

Lembut sentuhan embun pagi ini berlahan menerobos kecelah pori-pori tubuhku. Dingin yang terasa, bahkan bisa diakatakan sangat dingin. Memang akhir-akhir ini cuaca di kota kelahiranku ini terasa dingin bagaikan kota-kota pegunungan. Padahal kota ini terkenal dengan panas yang menjadi kuasa alamnya. Mungkin karena pergantian musim. Peralihan musim dingin yang sebentar lagi akan meninggalkan sedangkan musim panaspun telah siaga dengan gagahnya hendak menyapa. Itulah aturan alam yang terus berputar dan mewarnai bumi termasuk kota ini. Walaupun warna warninya sudah mulai sulit untuk bisa dipahami, tapi toh tetap berwarna. Hmm....indahnya... Alhamdulillah....

Jam berbentuk daun yang duduk manis di atas Televisi menunjukan pukul 07.15. Ku sambar tas kerja yang nongkrong di sisi pembaringan lalu bergegas menuruni anak tangga. Di ruang tengah terlihat wanita tua dengan kaca matanya yang sedikit melorot sedang asyik membaca kitab suci Al-Qur'an dan sesekali melirik terjemahan Inayah di sampingnya. Ibu memang rajin mempelajari arti ayat-ayat Al-Qur'an. Setiap hari selepas sholat subuh ibu mengikuti pengajian tafsir di Masjid Al-Islam yang tempatnya + 800 meter dari rumah. Selepas pulang mengaji ibu sibuk sebentar menyiapkan sarapan untukku. Dan sambil menunggu saya turun, ibu selalu menyibukan diri dengan mengulang-ngulang pelajaran yang baru didapatkan tadi. Apalagi bila menjelang akan diadakan ulangan, pasti ibu lebih terlihat banyak membolak-balik Al-Qur'an dan berguman sedikit keras untuk menghafalkannya. Bahkan sering terjadi ibu pada malam hari sengaja bangun lebih awal dari kami untuk belajar menghafal dan memahami Ayat-ayat yang akan di soalkan besok paginya. Di usia kepala 6 inipun sosok ibu masih tekun dan rajin mempelajari kitab suci itu. Memang tiada kata terlambat untuk mempelajari 'kata kunci' dari kehidupan yang telah Allah berikan bagi hambaNya di dunia ini. Rasa kagum dan haru menerobos begitu saja dalam bilik kalbuku. Hmm..yang tua begitu rajin, dan giat belajar, menghafal dan memahami kalam-kalam Allah Swt. Sedangkan aku..? Rasa malu kini yang menyapaku tanpa tanggung-tanggung. Ibu...ibu...semoga saya bisa meniru dan mewarisi semangatmu.

“ Ibu....!” sapaku sambil berlalu menuju teras menghidupkan motor dan kembali lagi menghampirinya.
“Ayoo nak, sarapan. Di tunggu ibu dari tadi kok gak turun-turun” sahut ibu sambil menutup kitab suci.
“ hehehe...” balasku sambil beranjak menuju lemari makan.
“Wahhh ada nasi goreng. Kapan belinya bu?” tanyaku
“Kemarin malam mas yuda yang belikan. Ibu lapar banget jadi nyuruh mas yuda beli. Sudah ibu hangatkan kok nak. Ayoo di makan berdua. Kalau sama fitri kan pas. Kalau di makan bertiga sama Hera ya gak cukup. Tapi Hera kan tidak pernah mau sarapan.” ibu menjelaskan.
Kami pun makan sepiring berdua. Sambil sesekali ngobrol kesana kemari.

Selesai sarapan aku pamitan berangkat kerja. Ku gapit tangan tua itu lalu kucium. Ini saat-saat yang kusuka. Saat mengukir kalbu dengan panjatan doa untuk mengiringi setiap langkah kakiku begitu keluar dari pagar rumah.
“Saya berangkat kerja ya Bu...”
“Iya nak, ibu doakan semoga Allah selalu menjagamu, menjaga hatimu, menjaga lisanmu, menjaga matamu, menjaga emosimu.mengabulkan apa yang kamu cita-citakan” berderet harapan-harapan mengalir dari bibir tua itu dengan tulus. Dan hal itu setiap hari selalu mengalir dan mengalir untuk memenuhi sungai-sungai dalam hatiku hingga bermuara di lautan tanpa batas.
“ Amien...amien.....”sahutku turut serta menggantungkan harapan padaNya
“Terimakasih ya bu...Ibu dirumah hati-hati. Jangan sibuk dengan tananaman aja, nanti jadi lupa sholat dhuhanya. Fitri doakan juga, semoga keinginan ibu naik haji segera dikabulkan Allah” balasku.
“Amien....” ibu menyambut dengan haru. Kutangkap bias matanya yang berkaca-kaca. Ibu memang sangat ingin berangkat haji. Karena itu ibu mulai ikut membuka tabungan haji di BRI dengan harapan bisa menyisihkan rejeki yang di dapatnya dari pensiun tiap bulannya.
“ Assalamu'alaikum...” kusampaikan salam padanya
“ Wa'alaikumsalam....hati-hati nak....” ibu menjawab diiringi senuyumnya sembari menutup pagar rumah.

Akhhh....indahnya hidup yang telah Engkau berikan ini ya Allah...dengan sosok Ibu yang penuh kasih tiba-tiba telah Engkau hadirkan dalam kehidupanku. Masih teringat saat pertama-tama kami bertemu. Di masjid Al-Islam pagi itu, waktu pertama kali kuikuti pegajian tafsir. Allah telah menentukan takdirNya padaku untuk duduk berdampingan dengan beliau. Selepas pengajian kami melanjutkan percakapan untuk saling kenal. Hingga ibu menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Karena ibu tinggal sendirian setelah Ayah meninggal setahun yang lalu. Sedangkan anak-anak beliau sudah berumahtangga dan tinggal di luar kota. Sementara yang bungsu tinggal di Surabaya, itupun sudah memiliki rumah sendiri. Begitu melihat lokasi rumah yang dekat dengan masjid, aku langsung senang dan menyetujuinya.

Sejak itu hari-hariku terasa lebih indah. Sebaris senyum yang selalu menyapaku dari bibirnya pun turut menyejukan hari-hariku. Kami selalu sholat ke masjid bersama, selepas mahgrip mengajar ngaji anak-anak sebentar lalu kami makan bersama sambil bercerita banyak hal. Dan bila malam telah menyelimuti kami, ibu yang paling sering terjaga lebih awal. Dengan sabar beliau menitih anak tangga menuju kamarku untuk membangunkan guna sholat malam. Masih teringat beberapa hari yang lalu kala ibu membangunkanku, kulihat pukul 02.00 malam sedangkan rasa kantuk masih merangkul erat mataku hingga akupun tertidur kembali. Dan pukul 03.00 ibu dengan sabar dan senyumnya yang mengembang membangunkanku lagi. Alhamdulillah.... sesungguhnya hanya Engkau yang menggerakkan dan memapahnya ya Allah.
Terimakasih...terimakasih ya Allah. Dan terimakasih juga untukmu ibu. Sebaris harap kucoba gantungkan padaNya, semoga Allah mengasihi dan mencintai ibu melebihi kasih dan cinta yang telah ibu berikan padaku. Amien...amien.....amien...
“Ibu...fitri sayang ibu... semoga kita bisa berangkat haji bersama-sama....”
;o)).
*********
(sumber: cerpen harian )

Kamis, 23 Agustus 2007

Fitri Islami




MF to capa ya.....

Dhuhur yang Sejuk

Dentam musik yang keluar dari soundsystem di tepi jalan itu hampir-hampir merobek-robek gendang telingaku. Namun toh begitu, kuikuti juga alunan lagu itu dengan hentakan kakiku di lantai ruang tamu rumah seorang sahabat. Memang sedang ada acara tasyakuran pada saat itu. Ditengah kebisingan dan gaduh semua orang yang mempersiapkan acara, kucoba belajar tetap mensunyikan hati bersama Allah di setiap getaran hatiku. Sesekali lepas dalam kealpaan, lalu kutegakkan lagi bersamaNya. Begitu dan begitu diriku berlatih mencoba untuk mempertahankanNya terus bersemayam di bilik yang sunyi dalam keramaian dan ramai dalam kesunyian.
Seorang gadis manis dengan kulitnya yang putih bersih duduk berhadapan denganku. Kunikmati pemandangan indah anugerah Allah yang telah memahat begitu cantik wajah di balik kacamata minus itu. Dengan kerudung warna pink dan style baju anak muda zaman sekarang menambah pesona yang gemerlap, dan pastilah banyak para lelaki yang menggandruinya pikirku.
“Nisa...Kamu ini anaknya kalem ya. Udah kalem cantik lagi. Komplit rasanya” kataku padanya. Dia tersenyum manis lalu menunduk sebentar lalu membalas tatapanku.
“ Ya...kelihatannya aja mbak. Saya itu orangnya gampang marah mbak. Enggak seperti kelihatannya” dengan polos dia mengaku
“Akh...masak....?”
“Iyaa...akhir-akhir ini saja alhamdulilah saya sudah mulai belajar untuk menahan rasa marah itu. Kalau melihat hal yang gak cocok di hati gitu sudah bawaannya uring-uringan. Huuhhhh....sebel gitu lho mbak. Wong teman-teman saya banyak yang bilang saya itu Judes” mengalir lancar begitu saja akhirnya pengakuan itu dari bibir Anisa.

“Yaaa....yang sabar ya nis, semua itu proses. Kita belajar dari kekurangan dan kelemahan kita untuk bisa memperbaikinya. Memang marah itu timbul dari hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tapi khan hidup ini memang tidak bisa semuanya seperti yang kita maukan. Apalagi yang berhubungan dengan orang lain. Melihat orang begini saja sudah marah, begitu marah. Ya....jadi bawaan marah terus donk. Sabar ya nis.... nanti lama-lama juga kan bisa” ucapku mencoba menenangkannya.
Jadi teringat masa laluku yang dulu juga gampang sekali marah. Sampai-sampai kuutarakan pada sahabaku bahwa cita-citaku adalah 'jangan marah'. Jadi disaat ada hal yang membuatku mau marah, cepat kuingat cita-citaku. Begitu juga sahabatku yang sering mengingatkan diriku akan cita-cita itu saat mengetahui merah padam mukaku menahan marah. Buntut-buntutnya kami malah ketawa geli karena cita-cita itu.

“Saya pernah baca buku tentang seratus dosa-dosa besar, dan ternyata marah itu termasuk dosa besar. Waahhhh....jadi saya takut sendiri. Ya Allah....jadi selama ini saya itu banyak dosanya.” Suara Anisa memecahkan lamunanku.
“ Marah itu bibit awal dari kedholiman lho nis. Makanya kita mesti hati-hati. Coba belajar di setiap kita menemukan sesuatau hal yang tidak kita sukai, kita harus ingat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang luput dari kehendak Allah walaupun itu daun kering yang jatuh dari rantingnya. Dan Allah tidaklah berbuat sia-sia atas yang terjadi. Pasti ada manfaatnya. Lha...kalau hal yang terjadi itu atas kehendak Allah apa kita pantas marah?? Kita memang sering tidak sadar memaksa Allah dengan keinginan kita. Lucu sebenarnya kalau dipikir. Mau kita begini, tapi saat yang terjadi begitu, Nah...lho! Kita marah. ya....gimana wong kemauan Allahnya begitu. Kita kok ngeyel. Jadinya yang sakit, yang sumpex, yang ngos-ngosan ya kita sendiri karena tidak bisa menerima ketentuanNya. Belajar nis.... sama, saya juga masih belajar untuk bisa tidak mudah marah, bahkan kalau bisa jangan sampai marah ya..” Panjang lebar kucoba menerangkannya.
Sedikit terkesima mata ini saat tertangkap olehku warna bening telah menggelantung di balik kacamata minus itu. Dan tak lama kemudian terjatuh. Kulihat Anisa membuka tas mungilnya untuk mencari sesuatu. Sebentar kemudian dia mengusap sekitar mata dan pipinya yang sudah basah dengan tissue yang ada dalam genggamannya. Ya..Allah.. dia menangis pikirku. Apa yang kukatakan hingga bisa membuat gadis cantik ini tersentuh? Lembut sekali hatinya. Ku coba untuk terus memberinya nutrisi bagi jiwanya yang haus dengan segala kemampuan yang Allah berikan padaku.

“Kalau nggak salah, ada beberapa macam jenis nafs atau jiwa itu nis, diantaranya ada Amarrah, Lauwamah dan yang paling bagus itu Mutmainah. Seperti yang tersebut dalam Al-Qur'an, Yaa aayyatuhannafsul muthmainnah,....'Wahai jiwa yang tenang'. Dan jiwa yang tenang itu yang bagaimana? Tenang kan berarti enggak pakai acara marah. Enggak buruh-buruh. Makanya Sholat itu juga gak baik kalau buru-buru. Lha wong sholat itu lho mestinya khan tumma'ninah. Tenang juga kan artinya. Marah, buru-buru, ragu-ragu itu jalannya setan lho nis. Coba kita lihat para kyia atau orang-orang yang sholeh, pasti bawaannya kalem, tenang dan menyejukan. Itu jiwa yang muthmainnah.” Kutarik nafas sebentar untuk mengatur hati dan jiwaku biar tidak loncat-loncat. Karena dalam hal begini setan kadang juga ikut nimbrung. Ikut aja boncengi.
“Kita mesti bisa mengenali diri kita sendiri karena di dalam diri kita ini setan dan malaikat sering beradu argumen untuk mempengarui kita dalam ambil keputusan. Makanya kita mesti sering membersihkan hati kita hingga nanti bisikan setan itu tidak dominan dan mudah kita kenali hingga kitapun tidak mengikutinya. Caranya bagaimana kita bisa tau ini bisikan setan, malaikat atau dari Allah sendiri. Kita mesti banyak dzikir mengingat Allah. Banyak-banyak mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadist. Ingat khan, riwayat ibu hawa dan nabi Adam di surga. Lha wong tingkat nabi kok bisa kalah sama setan hingga di turunkan ke dunia. Itu mengapa? Sebenarnya Allah memberi pelajaran pada kita, bahwa manusia itu tidak bisa mampu melawan yang namanya setan. Bagaimana bisa melawan, wong setan itu lho gak kelihatan, tapi dia bisa ngeliat kita. Setan tidak mati tapi kita juga mati. Kita butuh istirahat tidur,sedangkan setan sendiri tidak perlu tidur. Wah...payah kan. Caranya cuman ada satu, di saat manusia mau meminta pertolongan serta berserah diri pada Allah, itulah satu-satunya kekuatan terbesar yang kita miliki. Karena jadinya yang melawan setan itu bukan kita lagi, tapi Allah. Ya tentunya setan yang kalangkabut kalau sudah melihat seorang hamba itu punya dekengan Allah. Karena itu, banyak belajar nis....baca Al-Qur'an, baca buku-buku agama yang bisa menambah ilmu kita, biar gak kalah dengan setan.” Panjang lebar keteranganku dengan suara yang naik turun tersaingi suara musik yang bising. Anisa masih melihat lekat padaku dengan sesekali membuka kacamatanya dan mengusap kedua pelupuk mata indah miliknya.

Seperti masih kurang puas dengan ocehanku, Anisa pindah kursi duduk lebih dekat denganku. Dengan tangan yang diletakan di atas kakiku dia mencoba untuk mengaduh
“Sering mbak, saya merasa diremehkan orang. Sakit rasanya, tapi ya...saya coba untuk berfikir kalau saya memang pantas menerima itu karena saya dulu pun sering meremehkan orang. Dengan begitu saya mencoba menahan marah saya.”
“Iya...bagus itu. Tapi saranku, kalau bisa berfikirnya yang lebih bagus lagi. Begini, kamu merasa pantas diremehkan orang karena kamu pernah meremehkan orang. Lha kalau suatu saat nanti kamu sudah berjalan dalam pertaubatan dan tidak meremehkan orang lagi, tiba-tiba kamu diremehkan orang, bagaimana?!? Bisa-bisa kamu protes sama Allah. Ya...Allah, mengapa saya diremehkan orang padahal saya sudah tidak meremehkan orang. Tuh kan!! Karena kamu masih melihat apa yang telah kamu lakukan. Ingat...sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan itu atas pemberian Allah, dan kesalahan yang kita lakukan itu sebagai pembelajaran dari Allah untuk kita. Ada lho istilah 'Nikmatnya Maksiat'. Maksudnya apa? Maksudnya dengan kita di kehendaki Allah untuk berbuat maksiat, kita semakin menyadari kita ini kotor dan banyak dosa hingga kitapun lebih tersungkur di hadapan Allah untuk memohon AmpunanNya. Beda kan kalau orang yang tidak pernah berbuat maksiat, dan melihat amal ibadahnya yang sudah baik. Hingga diapun merasa suci. Dan suatu saat jika Allah memberi ujian padanya dia akan jatuh. Bahaya itu. Semua yang menimpah kita atas kehendak Allah enak ataupun enggak enak, jadi diterima saja. Jangan banyak dalih. Lha kalau seperti kamu diremehkan orang, alangkah baiknya jika kamu berfikir. 'Akh...biarin saya remeh di hadapan manusia, asal tidak di hadapan Allah'. Atau 'ya...emang ini yang dikehendaki Allah pada saya, jadi saya mesti sabar'.Udah, gitu aja. Yang penting kamu sudah benar dalam berperilaku sudah jangan terlalu dipikirin orang lain. Kan sudah ada rumusnya, kalau lagi gak enak ya sabar, kalau lagi dapat enak ya bersyukur. Apalagi kalau bisa bersyukur saat mendapat hal yang tidak enak...wah...itu lebih bagus lagi.” paparku melanjutkan.
Seakan-akan kesibukan orang-orang sekitar kami tidak pernah ada mengelilingi kami. Kami merasa berada di tempat lain, jauhh... Bukan di suasana tasyakuran yang banyak tamu dan hiruk pikuk orang melayani. Anisa masih dengan hikmat mendengarkan nyanyian merduku yang mencoba mengukir di balik kalbunya. Matanya mulai memerah dengan linangan-linangan yang tak mampu dia tahan. Sering kali dia tertunduk, mencoba menyelami makna tiap huruf-huruf yang kurangkai dalam mutiara-mutiara kata.
Tiba-tiba suara musik berhenti hingga kami celingukan mencari ada apa gerangan. Ternyata adzan dhuhur dikumandangkan dari masjid dekat rumah. Segera ku gapit tangan Anisa untuk melangkah menuju masjid.Kami berjalan berdampingan yang sesekali terlontar pertanyaan-petanyaan Anisa yang kemudian kucoba untuk menjawabnya.
Sholat kami sangat asyik dirasakan. Mungkin karena pembicaraan kami di rumah itu yang masih terngiang-ngiang di telinga kami hingga kami pun merasa tidak keberdayaan di hadapanNya. Tak lupa kuajak Anisa melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur padaNya yang telah memberi kekuatan kami untuk melakukan sholat dan masih mengingat dan berharap hanya padaNya. Lama kami tenggelam dalam sujud dihadapanNya. Kami larut dalam isak tangis dari mengharapkan rengkuhan tangan yang Maha kasih untuk mencurahkan RahmatNya atas kami. Hingga akhirnya walau dengan berat kami lepaskan ikatan kening dengan sajadah tempat kami sujud. Yang terlihat hanya bekas kening dan sajadah yang basah karena air mata kami.
“Nisa....” lirih suaraku memanggilnya yang masih sesenggukan di sampingku.
“Iya mbak...” sahut Anisa sambil mengusap matanya yang memerah.
“Boleh saya meminta sesuatu padamu..”
“Apa itu mbak..?”
“Boleh saya memelukmu..?” pintaku dengan suara gemetar.
Anisa menjawab dengan anggukannya yang lemah. Kurengkuh tubuh gadis yang terlihat lemah karena banyaknya air mata yang terkuras. Kami berpelukan dengan menumpahkan semua air mata yang tersisa.
Ya..Allah....ampuni dosa kami ya Allah....beri kekuatan kami untuk terus berada dalam pertaubatan kami. Beri kekuatan kami istiqomah ya Allah. Jaga kami ya Rabb....bimbing kami. Tiada yang mampu menyelamatkan kami selainMu, tiada yang mampu menjaga kami selainMu, dan tiada yang mampu memelihara kami selainMu. Karena itu, Selamatkn kami, jaga kami, dan pelihara kami untuk tetap taat padaM. Ya Allah....dzat yang menggenggam jiwa kami. Kami tak berdaya ya Allah....Lahaulawahuata ilabillah......

Rentetan doa kupanjatkan saat tubuh kami dalam pelukan. Pelukan kasih Sang Ilahi yang menyertai kami siang itu, di masjid itu. Subhanallah..... Sejuk benar waktu dhuhur yang kami rasakan. Seakan-akan para malaikat mengelilingi dan Allah pun turun menghampiri lalu mengusap kepala kami dengan penuh cinta dan kasihNya. Ya Allah... terimaksih....terimakasih...ya Allah... Segala puji bagiMu..
******
Sumber : ( Cerpen Harian )