Dentam musik yang keluar dari soundsystem di tepi jalan itu hampir-hampir merobek-robek gendang telingaku. Namun toh begitu, kuikuti juga alunan lagu itu dengan hentakan kakiku di lantai ruang tamu rumah seorang sahabat. Memang sedang ada acara tasyakuran pada saat itu. Ditengah kebisingan dan gaduh semua orang yang mempersiapkan acara, kucoba belajar tetap mensunyikan hati bersama Allah di setiap getaran hatiku. Sesekali lepas dalam kealpaan, lalu kutegakkan lagi bersamaNya. Begitu dan begitu diriku berlatih mencoba untuk mempertahankanNya terus bersemayam di bilik yang sunyi dalam keramaian dan ramai dalam kesunyian.
Seorang gadis manis dengan kulitnya yang putih bersih duduk berhadapan denganku. Kunikmati pemandangan indah anugerah Allah yang telah memahat begitu cantik wajah di balik kacamata minus itu. Dengan kerudung warna pink dan style baju anak muda zaman sekarang menambah pesona yang gemerlap, dan pastilah banyak para lelaki yang menggandruinya pikirku.
“Nisa...Kamu ini anaknya kalem ya. Udah kalem cantik lagi. Komplit rasanya” kataku padanya. Dia tersenyum manis lalu menunduk sebentar lalu membalas tatapanku.
“ Ya...kelihatannya aja mbak. Saya itu orangnya gampang marah mbak. Enggak seperti kelihatannya” dengan polos dia mengaku
“Akh...masak....?”
“Iyaa...akhir-akhir ini saja alhamdulilah saya sudah mulai belajar untuk menahan rasa marah itu. Kalau melihat hal yang gak cocok di hati gitu sudah bawaannya uring-uringan. Huuhhhh....sebel gitu lho mbak. Wong teman-teman saya banyak yang bilang saya itu Judes” mengalir lancar begitu saja akhirnya pengakuan itu dari bibir Anisa.
“Yaaa....yang sabar ya nis, semua itu proses. Kita belajar dari kekurangan dan kelemahan kita untuk bisa memperbaikinya. Memang marah itu timbul dari hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tapi khan hidup ini memang tidak bisa semuanya seperti yang kita maukan. Apalagi yang berhubungan dengan orang lain. Melihat orang begini saja sudah marah, begitu marah. Ya....jadi bawaan marah terus donk. Sabar ya nis.... nanti lama-lama juga kan bisa” ucapku mencoba menenangkannya.
Jadi teringat masa laluku yang dulu juga gampang sekali marah. Sampai-sampai kuutarakan pada sahabaku bahwa cita-citaku adalah 'jangan marah'. Jadi disaat ada hal yang membuatku mau marah, cepat kuingat cita-citaku. Begitu juga sahabatku yang sering mengingatkan diriku akan cita-cita itu saat mengetahui merah padam mukaku menahan marah. Buntut-buntutnya kami malah ketawa geli karena cita-cita itu.
“Saya pernah baca buku tentang seratus dosa-dosa besar, dan ternyata marah itu termasuk dosa besar. Waahhhh....jadi saya takut sendiri. Ya Allah....jadi selama ini saya itu banyak dosanya.” Suara Anisa memecahkan lamunanku.
“ Marah itu bibit awal dari kedholiman lho nis. Makanya kita mesti hati-hati. Coba belajar di setiap kita menemukan sesuatau hal yang tidak kita sukai, kita harus ingat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang luput dari kehendak Allah walaupun itu daun kering yang jatuh dari rantingnya. Dan Allah tidaklah berbuat sia-sia atas yang terjadi. Pasti ada manfaatnya. Lha...kalau hal yang terjadi itu atas kehendak Allah apa kita pantas marah?? Kita memang sering tidak sadar memaksa Allah dengan keinginan kita. Lucu sebenarnya kalau dipikir. Mau kita begini, tapi saat yang terjadi begitu, Nah...lho! Kita marah. ya....gimana wong kemauan Allahnya begitu. Kita kok ngeyel. Jadinya yang sakit, yang sumpex, yang ngos-ngosan ya kita sendiri karena tidak bisa menerima ketentuanNya. Belajar nis.... sama, saya juga masih belajar untuk bisa tidak mudah marah, bahkan kalau bisa jangan sampai marah ya..” Panjang lebar kucoba menerangkannya.
Sedikit terkesima mata ini saat tertangkap olehku warna bening telah menggelantung di balik kacamata minus itu. Dan tak lama kemudian terjatuh. Kulihat Anisa membuka tas mungilnya untuk mencari sesuatu. Sebentar kemudian dia mengusap sekitar mata dan pipinya yang sudah basah dengan tissue yang ada dalam genggamannya. Ya..Allah.. dia menangis pikirku. Apa yang kukatakan hingga bisa membuat gadis cantik ini tersentuh? Lembut sekali hatinya. Ku coba untuk terus memberinya nutrisi bagi jiwanya yang haus dengan segala kemampuan yang Allah berikan padaku.
“Kalau nggak salah, ada beberapa macam jenis nafs atau jiwa itu nis, diantaranya ada Amarrah, Lauwamah dan yang paling bagus itu Mutmainah. Seperti yang tersebut dalam Al-Qur'an, Yaa aayyatuhannafsul muthmainnah,....'Wahai jiwa yang tenang'. Dan jiwa yang tenang itu yang bagaimana? Tenang kan berarti enggak pakai acara marah. Enggak buruh-buruh. Makanya Sholat itu juga gak baik kalau buru-buru. Lha wong sholat itu lho mestinya khan tumma'ninah. Tenang juga kan artinya. Marah, buru-buru, ragu-ragu itu jalannya setan lho nis. Coba kita lihat para kyia atau orang-orang yang sholeh, pasti bawaannya kalem, tenang dan menyejukan. Itu jiwa yang muthmainnah.” Kutarik nafas sebentar untuk mengatur hati dan jiwaku biar tidak loncat-loncat. Karena dalam hal begini setan kadang juga ikut nimbrung. Ikut aja boncengi.
“Kita mesti bisa mengenali diri kita sendiri karena di dalam diri kita ini setan dan malaikat sering beradu argumen untuk mempengarui kita dalam ambil keputusan. Makanya kita mesti sering membersihkan hati kita hingga nanti bisikan setan itu tidak dominan dan mudah kita kenali hingga kitapun tidak mengikutinya. Caranya bagaimana kita bisa tau ini bisikan setan, malaikat atau dari Allah sendiri. Kita mesti banyak dzikir mengingat Allah. Banyak-banyak mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadist. Ingat khan, riwayat ibu hawa dan nabi Adam di surga. Lha wong tingkat nabi kok bisa kalah sama setan hingga di turunkan ke dunia. Itu mengapa? Sebenarnya Allah memberi pelajaran pada kita, bahwa manusia itu tidak bisa mampu melawan yang namanya setan. Bagaimana bisa melawan, wong setan itu lho gak kelihatan, tapi dia bisa ngeliat kita. Setan tidak mati tapi kita juga mati. Kita butuh istirahat tidur,sedangkan setan sendiri tidak perlu tidur. Wah...payah kan. Caranya cuman ada satu, di saat manusia mau meminta pertolongan serta berserah diri pada Allah, itulah satu-satunya kekuatan terbesar yang kita miliki. Karena jadinya yang melawan setan itu bukan kita lagi, tapi Allah. Ya tentunya setan yang kalangkabut kalau sudah melihat seorang hamba itu punya dekengan Allah. Karena itu, banyak belajar nis....baca Al-Qur'an, baca buku-buku agama yang bisa menambah ilmu kita, biar gak kalah dengan setan.” Panjang lebar keteranganku dengan suara yang naik turun tersaingi suara musik yang bising. Anisa masih melihat lekat padaku dengan sesekali membuka kacamatanya dan mengusap kedua pelupuk mata indah miliknya.
Seperti masih kurang puas dengan ocehanku, Anisa pindah kursi duduk lebih dekat denganku. Dengan tangan yang diletakan di atas kakiku dia mencoba untuk mengaduh
“Sering mbak, saya merasa diremehkan orang. Sakit rasanya, tapi ya...saya coba untuk berfikir kalau saya memang pantas menerima itu karena saya dulu pun sering meremehkan orang. Dengan begitu saya mencoba menahan marah saya.”
“Iya...bagus itu. Tapi saranku, kalau bisa berfikirnya yang lebih bagus lagi. Begini, kamu merasa pantas diremehkan orang karena kamu pernah meremehkan orang. Lha kalau suatu saat nanti kamu sudah berjalan dalam pertaubatan dan tidak meremehkan orang lagi, tiba-tiba kamu diremehkan orang, bagaimana?!? Bisa-bisa kamu protes sama Allah. Ya...Allah, mengapa saya diremehkan orang padahal saya sudah tidak meremehkan orang. Tuh kan!! Karena kamu masih melihat apa yang telah kamu lakukan. Ingat...sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan itu atas pemberian Allah, dan kesalahan yang kita lakukan itu sebagai pembelajaran dari Allah untuk kita. Ada lho istilah 'Nikmatnya Maksiat'. Maksudnya apa? Maksudnya dengan kita di kehendaki Allah untuk berbuat maksiat, kita semakin menyadari kita ini kotor dan banyak dosa hingga kitapun lebih tersungkur di hadapan Allah untuk memohon AmpunanNya. Beda kan kalau orang yang tidak pernah berbuat maksiat, dan melihat amal ibadahnya yang sudah baik. Hingga diapun merasa suci. Dan suatu saat jika Allah memberi ujian padanya dia akan jatuh. Bahaya itu. Semua yang menimpah kita atas kehendak Allah enak ataupun enggak enak, jadi diterima saja. Jangan banyak dalih. Lha kalau seperti kamu diremehkan orang, alangkah baiknya jika kamu berfikir. 'Akh...biarin saya remeh di hadapan manusia, asal tidak di hadapan Allah'. Atau 'ya...emang ini yang dikehendaki Allah pada saya, jadi saya mesti sabar'.Udah, gitu aja. Yang penting kamu sudah benar dalam berperilaku sudah jangan terlalu dipikirin orang lain. Kan sudah ada rumusnya, kalau lagi gak enak ya sabar, kalau lagi dapat enak ya bersyukur. Apalagi kalau bisa bersyukur saat mendapat hal yang tidak enak...wah...itu lebih bagus lagi.” paparku melanjutkan.
Seakan-akan kesibukan orang-orang sekitar kami tidak pernah ada mengelilingi kami. Kami merasa berada di tempat lain, jauhh... Bukan di suasana tasyakuran yang banyak tamu dan hiruk pikuk orang melayani. Anisa masih dengan hikmat mendengarkan nyanyian merduku yang mencoba mengukir di balik kalbunya. Matanya mulai memerah dengan linangan-linangan yang tak mampu dia tahan. Sering kali dia tertunduk, mencoba menyelami makna tiap huruf-huruf yang kurangkai dalam mutiara-mutiara kata.
Tiba-tiba suara musik berhenti hingga kami celingukan mencari ada apa gerangan. Ternyata adzan dhuhur dikumandangkan dari masjid dekat rumah. Segera ku gapit tangan Anisa untuk melangkah menuju masjid.Kami berjalan berdampingan yang sesekali terlontar pertanyaan-petanyaan Anisa yang kemudian kucoba untuk menjawabnya.
Sholat kami sangat asyik dirasakan. Mungkin karena pembicaraan kami di rumah itu yang masih terngiang-ngiang di telinga kami hingga kami pun merasa tidak keberdayaan di hadapanNya. Tak lupa kuajak Anisa melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur padaNya yang telah memberi kekuatan kami untuk melakukan sholat dan masih mengingat dan berharap hanya padaNya. Lama kami tenggelam dalam sujud dihadapanNya. Kami larut dalam isak tangis dari mengharapkan rengkuhan tangan yang Maha kasih untuk mencurahkan RahmatNya atas kami. Hingga akhirnya walau dengan berat kami lepaskan ikatan kening dengan sajadah tempat kami sujud. Yang terlihat hanya bekas kening dan sajadah yang basah karena air mata kami.
“Nisa....” lirih suaraku memanggilnya yang masih sesenggukan di sampingku.
“Iya mbak...” sahut Anisa sambil mengusap matanya yang memerah.
“Boleh saya meminta sesuatu padamu..”
“Apa itu mbak..?”
“Boleh saya memelukmu..?” pintaku dengan suara gemetar.
Anisa menjawab dengan anggukannya yang lemah. Kurengkuh tubuh gadis yang terlihat lemah karena banyaknya air mata yang terkuras. Kami berpelukan dengan menumpahkan semua air mata yang tersisa.
Ya..Allah....ampuni dosa kami ya Allah....beri kekuatan kami untuk terus berada dalam pertaubatan kami. Beri kekuatan kami istiqomah ya Allah. Jaga kami ya Rabb....bimbing kami. Tiada yang mampu menyelamatkan kami selainMu, tiada yang mampu menjaga kami selainMu, dan tiada yang mampu memelihara kami selainMu. Karena itu, Selamatkn kami, jaga kami, dan pelihara kami untuk tetap taat padaM. Ya Allah....dzat yang menggenggam jiwa kami. Kami tak berdaya ya Allah....Lahaulawahuata ilabillah......
Rentetan doa kupanjatkan saat tubuh kami dalam pelukan. Pelukan kasih Sang Ilahi yang menyertai kami siang itu, di masjid itu. Subhanallah..... Sejuk benar waktu dhuhur yang kami rasakan. Seakan-akan para malaikat mengelilingi dan Allah pun turun menghampiri lalu mengusap kepala kami dengan penuh cinta dan kasihNya. Ya Allah... terimaksih....terimakasih...ya Allah... Segala puji bagiMu..
******
Sumber : ( Cerpen Harian )
Kamis, 23 Agustus 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar