Jumat, 24 Agustus 2007

Bersihnya Hati

Pagar rumah yang terkunci rapat, terlihat seolah -olah tiada penghuninya di rumah besar itu. Ku buka tas bagian depan untuk mencari sebuah kunci yang kumaksud. Setelah membebaskan gembok dari ikatan pagar, kubuka lebar hingga motorku pun bisa memasuki teras rumah. Terdengar dari dalam pintu rumah berbunyi tanda penghuni rumah melepaskan kunci lalu membukanya.
“Assalamu'alaikum...” ku sampaikan salam
“Wa'alikumsalam.... Aduhh nak...! ibu hari ini dapat teguran dari Allah. Wahh... seru poko'nya. Memang kesalahan ibu ini nak” jawab ibu diiringi deretan cerita yang sepertinya sudah sedari tadi ditahan untuk disampaikan. Kuhampiri beliau lalu kucium tangannya. Lalu kami memasuki rumah dengan tangan kami yang belum terlepas.

“Emangnya ada apa bu...?” sahutku melepaskan tangan sambil menuju ruang tengah dan menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Hp ibu hilang fit.”
“Lho..!! bukannya tadi pagi ada di meja ruang tamu? Fitri lihat lho bu..?”
“Iya...memang tadi di situ. Ibu lupa menaruhnya di kamar. Dan tadi itu ada seorang pengemis perempuan muda sambil gendong anaknya. Tapi ibu gak berani shuudon denganya. Masak dia... wong lihat wajahnya itu sepertinya gak mungkin kalau dia itu nak...!”
“Lha yang di rumah siapa saja?”
“Yaa...cuma ibu, mas Yuda, Eyang putri juga Eyang kakung. Kalau orang luar ya...cuma pengemis perempuan itu nak. Tapi masak itu ya..? Waktu pengemis itu datang sih yang dirumah cuma ada ibu dan Eyang putri. Dan lagian memang mencurigakan sih nak, pengemis itu langsung saja membuka pagar lalu duduk di depan pintu. Wong belum di suruh masuk juga sudah masuk. Habis itu ibu ambilkan minum untuk dia. Masak waktu itu ya dia nyelonong masuk ambil Hpnya? Tapi ibu gak berani berburuk sangka padanya.
Untuk hilangnya Hp sih ibu enggak terlalu menyesal. Enggak geton gitu lho nak. Ibu merasa itu teguran dari Allah karena seharian tadi ibu sibuk dengan tanaman Anggrek ibu, sampai lupa sholat Dhuha. Ibu enggak ingat sama sekali. Hp di situ juga enggak ingat. Baru tadi sore ibu habis sholat asyar ibu mau pakai telepon, baru ingat. Baru ketahuan ilangnya” Cerita ibu panjang lebar

“Kalau coba dihubungi bagaimana?”
“Sudah.......dicoba sama mas Yuda, tapi tidak aktif. Ini semua salah ibu. Sebenarnya ibu sudah ikhlaskan, tapi gak tau kok ya masi kepikiran.” kata ibu sambil membetulkan kacamatanya yang turun.
“Ini bisa dibilang teguran sekalian ujian buat ibu karena Allah sayang sama ibu..?”
“Lho kok bisa sih nak...gimana..gimana maksudnya?”
“Kalau dibilang teguran bisa, biar ibu jangan terlalu asyik dengan apa yang dikerjakan sehingga melupakan Allah. Bisa juga di bilang ujian demi meningkatkan kwalitas keimanan ibu, lalu dilihat bagaimana ibu dalam menghadapi kehilangan ini. Apa ibu marah, sedih, kecewa atau bagaimana? Dan saya lihat ibu tidak seperti itu. Jadi InsyaAllah Ibu nilainya bagus dech. Hehehe....selamat ya bu...”
“Oohh...gitu ya nak..Alhamdulillah..”

Kusandarkan punggunggku tuk hilangkan sedikit keletihan dari seharian sibuk di kantor.
“Ada sebuah riwayat bu yang pernah saya baca dari suatu buku. Ada seorang murid yang bercerita pada gurunya dengan penuh rasa kagum bahwa dia telah melihat orang sakti yang bisa berjalan di atas air. Sedangkan sang guru tidak terlihat kagum atau bagaimana. Lalu si murid bercerita lagi bahwa orang tersebut bisa terbang. Tapi sang guru tetap tidak menunjukan ekspresi yang terpukau. Lalu si murid dengan rasa penasarannya bertanya pada gurunya mengapa sang guru sama sekali tidak kagum atau sejenisnya.Sang gurupun menerangkan bahwa tiada pernah heran melihat orang yang berjalan di atas air karena ikan pun begitu. Untuk terbang di udarapun burung juga bisa. Dan semua itu golongan Jin dan Iblis dengan mudah melakukannya. Sang guru meneruskan keterangannnya bahwa dia akan kagum apabila menemukan orang yang memiliki sesuatu , lalu sesuatu itu hilang dan dia tidak menunjukan perubahan exspresi kekecewaan dan tetap dalam kehambaannya pada Allah.” ceritaku pada ibu yang terlihat sedikit kebingungan
“Jadi maksudnya bagaimana ya nak? Kok bisa kagum dengan orang yang tidak sakti”
“Yaa...berarti kan orang itu bisa sabar menerima ketentuan yang paling tidak enak yang telah diberikan Allah padanya. Dia telah mendapat Ridho Allah bu... dan InsyaAllah ibu pun begitu karena ibu tidak merasa sedih, kecewa ataupun marah dengan kehilangan Hp itu. Namun kalau bisa jangan cuman Hp aja yang bisa kuat ya bu....semuanya yang kita rasa kita miliki ini. Karena Hakekatnya semua ini kan titipan. Bukan milik kita, tapi milik Allah. Sebagaimana yang pernah saya baca bahwa keimanan yang sempurna itu keimanan yang merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun kecuali Allah. Jadi suatu saat jika di ambil ya...kita gak boleh protes baik dalam bentuk apapun dan jika kita mendapatkan sesuatupun kita meyakini itu semua dari Allah semata oleh karena itu layaknya kita syukuri. Waahhh jadi kepanjangan ya bu... Jadi malu nih, kaya' udah kebeneran saja..”

Senyum ibu merekah bagai bunga di depan rumah. “Eii...enggak papa nak, ibu malah suka kalau kamu cerita seperti itu. Kamu kan bisa belajar jadi ustadzah.”
“Jauuhhh bu... lagian gak berani mimpi. Saya cuma pingin jadi hamba Allah yang bener saja dech. Belajar tidak selingkuh menjadi hamba selianNya. Karena itu fitri terus belajar supaya bisa setia sama Allah. Hehehehe...” sahutku sambil menyalakan Televisi.
“Ada lagi lho cerita yang lucu nak, sudah ibu habis kehilangan HP. Ee...tadi sore ada orang laki parubaya mondar mandir di depan rumah sambil lihatin rumah kita ini terus. Ya..tentu saja ibu sedikit takut. Akhirnya ibu coba beranikan diri untuk menegurnya. Ternyata dia itu lagi sakit perut mau ke belakang. Mau numpang tapi sungkan.” cerita ibu meneruskan

“Terus...ibu kasih ijin enggak?” Tanyaku penasaran sambil mengarahkan pandanganku menatap lekat mata wanita tua di hadapanku penuh kecemasan.
“Iya ta kasih ijin nak, kan kasihan.. ibu itu membayangkan betapa sakit perutnya yang menahan mau kebelakang. Wong ibu lho pernah mengalaminya. Waktu jalan-jalan sama Ayah, ibu terasa pingin kebelakang. Dan ibupun cari tumpangan. Gitu aja rasanya seneng banget ada yang mau memberi tumpangan.”
“Alhamdulillah..... Ibu hebat...bener-bener hebat.”
“Lho?! Kenapa nak? Wong gitu aja kok hebat. Wong kasih tumpangan saja kok hebat.”

“Yee...ibu kok gak peka sih. Di sini saya melihat betapa Allah telah mendatangkan orang itu untuk menguji ibu kedua kalinya. Begini, ibu kan habis kehilangan HP. Itupun dengan adanya peristiwa pengemis perempuan yang aneh dan mencurigakan. Ibu tidak berani Shuudhon dengannya dan mencoba menghilangkan perasangka-perasangka buruk padanya itu sudah bagus. Dan ibupun tidak kecewa, sedih ataupun marah dengan kehilangan HP, itu lebih bagus lagi. Lalu Allah masih ingin menguji ibu kesekian kalinya dengan mengirimkan orang yang sakit perutnya dan numpang ke belakang. Intinya cuman satu bu, setelah sederetan cerita di awal apakah ibu masih tetap menjaga hati ibu untuk tidak menorehkan nota hitam di hati ibu dengan berburuk sangka pada orang lain?? Jarang bu, orang yang habis kehilangan itu dengan muda memberi kepercayaan pada orang asing. Kebanyakan bawaannya curiga melulu. Tapi, ternyata ibu mengijinkan orang tersebut untuk kebelakang, dan ibu sama sekali tidak menaruh curiga. Itu lebih dari hebat bu....T.O.P B.G.T istilahnya .. TOP BANGET... Berarti hati ibu bener-bener terjaga dan bersih. Subhanallah........Saya kagum sama ibu. Alhamdulillah ya Allah...” Rasa kagumku tidak terbendung lagi hingga tanpa terasa genangan air sudah memenuhi kelopak mataku. Kuraih tubuh wanita tua itu dan kami pun berpelukan.
Ya..Allah, semoga Engkau selalu memberi kekuatan kami untuk tetap teguh denganMu. Bertahan dalam kesabaran disetiap kemauan dan kehendakMu atas kami. Beri kekuatan kami ya Allah, untuk menyadari bahwa semua hakekatnya adalah diriMu yang ada. Bukan kami, bukan yang lain melainkan diriMu. Engkau yang memberi Ujian dan Engkau pula yang memberi kekuatan. Terimakasih ya Allah....terimakasih.

Kutinggalkan ibu dengan kesibukannya. Dengan berlari kecil kusambar handuk lalu menuju kamar mandi. Sebentar lagi Adzan mahgrip berkumandang dengan suaraNya yang menggetarkan. Begitu terasa indah undangan itu bagi kita hamba-hambaNya. Semoga kita memenuhinya dengan melepaskan semua kebisingan dunia yang kemudian tenggelam dalam asyiknya bercengkrama denganNya. Labaikallah...hummalabaik.....

********


Sumber: (Cerpen Harian)

Ibu……………Fitri Sayang Ibu

Lembut sentuhan embun pagi ini berlahan menerobos kecelah pori-pori tubuhku. Dingin yang terasa, bahkan bisa diakatakan sangat dingin. Memang akhir-akhir ini cuaca di kota kelahiranku ini terasa dingin bagaikan kota-kota pegunungan. Padahal kota ini terkenal dengan panas yang menjadi kuasa alamnya. Mungkin karena pergantian musim. Peralihan musim dingin yang sebentar lagi akan meninggalkan sedangkan musim panaspun telah siaga dengan gagahnya hendak menyapa. Itulah aturan alam yang terus berputar dan mewarnai bumi termasuk kota ini. Walaupun warna warninya sudah mulai sulit untuk bisa dipahami, tapi toh tetap berwarna. Hmm....indahnya... Alhamdulillah....

Jam berbentuk daun yang duduk manis di atas Televisi menunjukan pukul 07.15. Ku sambar tas kerja yang nongkrong di sisi pembaringan lalu bergegas menuruni anak tangga. Di ruang tengah terlihat wanita tua dengan kaca matanya yang sedikit melorot sedang asyik membaca kitab suci Al-Qur'an dan sesekali melirik terjemahan Inayah di sampingnya. Ibu memang rajin mempelajari arti ayat-ayat Al-Qur'an. Setiap hari selepas sholat subuh ibu mengikuti pengajian tafsir di Masjid Al-Islam yang tempatnya + 800 meter dari rumah. Selepas pulang mengaji ibu sibuk sebentar menyiapkan sarapan untukku. Dan sambil menunggu saya turun, ibu selalu menyibukan diri dengan mengulang-ngulang pelajaran yang baru didapatkan tadi. Apalagi bila menjelang akan diadakan ulangan, pasti ibu lebih terlihat banyak membolak-balik Al-Qur'an dan berguman sedikit keras untuk menghafalkannya. Bahkan sering terjadi ibu pada malam hari sengaja bangun lebih awal dari kami untuk belajar menghafal dan memahami Ayat-ayat yang akan di soalkan besok paginya. Di usia kepala 6 inipun sosok ibu masih tekun dan rajin mempelajari kitab suci itu. Memang tiada kata terlambat untuk mempelajari 'kata kunci' dari kehidupan yang telah Allah berikan bagi hambaNya di dunia ini. Rasa kagum dan haru menerobos begitu saja dalam bilik kalbuku. Hmm..yang tua begitu rajin, dan giat belajar, menghafal dan memahami kalam-kalam Allah Swt. Sedangkan aku..? Rasa malu kini yang menyapaku tanpa tanggung-tanggung. Ibu...ibu...semoga saya bisa meniru dan mewarisi semangatmu.

“ Ibu....!” sapaku sambil berlalu menuju teras menghidupkan motor dan kembali lagi menghampirinya.
“Ayoo nak, sarapan. Di tunggu ibu dari tadi kok gak turun-turun” sahut ibu sambil menutup kitab suci.
“ hehehe...” balasku sambil beranjak menuju lemari makan.
“Wahhh ada nasi goreng. Kapan belinya bu?” tanyaku
“Kemarin malam mas yuda yang belikan. Ibu lapar banget jadi nyuruh mas yuda beli. Sudah ibu hangatkan kok nak. Ayoo di makan berdua. Kalau sama fitri kan pas. Kalau di makan bertiga sama Hera ya gak cukup. Tapi Hera kan tidak pernah mau sarapan.” ibu menjelaskan.
Kami pun makan sepiring berdua. Sambil sesekali ngobrol kesana kemari.

Selesai sarapan aku pamitan berangkat kerja. Ku gapit tangan tua itu lalu kucium. Ini saat-saat yang kusuka. Saat mengukir kalbu dengan panjatan doa untuk mengiringi setiap langkah kakiku begitu keluar dari pagar rumah.
“Saya berangkat kerja ya Bu...”
“Iya nak, ibu doakan semoga Allah selalu menjagamu, menjaga hatimu, menjaga lisanmu, menjaga matamu, menjaga emosimu.mengabulkan apa yang kamu cita-citakan” berderet harapan-harapan mengalir dari bibir tua itu dengan tulus. Dan hal itu setiap hari selalu mengalir dan mengalir untuk memenuhi sungai-sungai dalam hatiku hingga bermuara di lautan tanpa batas.
“ Amien...amien.....”sahutku turut serta menggantungkan harapan padaNya
“Terimakasih ya bu...Ibu dirumah hati-hati. Jangan sibuk dengan tananaman aja, nanti jadi lupa sholat dhuhanya. Fitri doakan juga, semoga keinginan ibu naik haji segera dikabulkan Allah” balasku.
“Amien....” ibu menyambut dengan haru. Kutangkap bias matanya yang berkaca-kaca. Ibu memang sangat ingin berangkat haji. Karena itu ibu mulai ikut membuka tabungan haji di BRI dengan harapan bisa menyisihkan rejeki yang di dapatnya dari pensiun tiap bulannya.
“ Assalamu'alaikum...” kusampaikan salam padanya
“ Wa'alaikumsalam....hati-hati nak....” ibu menjawab diiringi senuyumnya sembari menutup pagar rumah.

Akhhh....indahnya hidup yang telah Engkau berikan ini ya Allah...dengan sosok Ibu yang penuh kasih tiba-tiba telah Engkau hadirkan dalam kehidupanku. Masih teringat saat pertama-tama kami bertemu. Di masjid Al-Islam pagi itu, waktu pertama kali kuikuti pegajian tafsir. Allah telah menentukan takdirNya padaku untuk duduk berdampingan dengan beliau. Selepas pengajian kami melanjutkan percakapan untuk saling kenal. Hingga ibu menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Karena ibu tinggal sendirian setelah Ayah meninggal setahun yang lalu. Sedangkan anak-anak beliau sudah berumahtangga dan tinggal di luar kota. Sementara yang bungsu tinggal di Surabaya, itupun sudah memiliki rumah sendiri. Begitu melihat lokasi rumah yang dekat dengan masjid, aku langsung senang dan menyetujuinya.

Sejak itu hari-hariku terasa lebih indah. Sebaris senyum yang selalu menyapaku dari bibirnya pun turut menyejukan hari-hariku. Kami selalu sholat ke masjid bersama, selepas mahgrip mengajar ngaji anak-anak sebentar lalu kami makan bersama sambil bercerita banyak hal. Dan bila malam telah menyelimuti kami, ibu yang paling sering terjaga lebih awal. Dengan sabar beliau menitih anak tangga menuju kamarku untuk membangunkan guna sholat malam. Masih teringat beberapa hari yang lalu kala ibu membangunkanku, kulihat pukul 02.00 malam sedangkan rasa kantuk masih merangkul erat mataku hingga akupun tertidur kembali. Dan pukul 03.00 ibu dengan sabar dan senyumnya yang mengembang membangunkanku lagi. Alhamdulillah.... sesungguhnya hanya Engkau yang menggerakkan dan memapahnya ya Allah.
Terimakasih...terimakasih ya Allah. Dan terimakasih juga untukmu ibu. Sebaris harap kucoba gantungkan padaNya, semoga Allah mengasihi dan mencintai ibu melebihi kasih dan cinta yang telah ibu berikan padaku. Amien...amien.....amien...
“Ibu...fitri sayang ibu... semoga kita bisa berangkat haji bersama-sama....”
;o)).
*********
(sumber: cerpen harian )

Kamis, 23 Agustus 2007

Fitri Islami




MF to capa ya.....

Dhuhur yang Sejuk

Dentam musik yang keluar dari soundsystem di tepi jalan itu hampir-hampir merobek-robek gendang telingaku. Namun toh begitu, kuikuti juga alunan lagu itu dengan hentakan kakiku di lantai ruang tamu rumah seorang sahabat. Memang sedang ada acara tasyakuran pada saat itu. Ditengah kebisingan dan gaduh semua orang yang mempersiapkan acara, kucoba belajar tetap mensunyikan hati bersama Allah di setiap getaran hatiku. Sesekali lepas dalam kealpaan, lalu kutegakkan lagi bersamaNya. Begitu dan begitu diriku berlatih mencoba untuk mempertahankanNya terus bersemayam di bilik yang sunyi dalam keramaian dan ramai dalam kesunyian.
Seorang gadis manis dengan kulitnya yang putih bersih duduk berhadapan denganku. Kunikmati pemandangan indah anugerah Allah yang telah memahat begitu cantik wajah di balik kacamata minus itu. Dengan kerudung warna pink dan style baju anak muda zaman sekarang menambah pesona yang gemerlap, dan pastilah banyak para lelaki yang menggandruinya pikirku.
“Nisa...Kamu ini anaknya kalem ya. Udah kalem cantik lagi. Komplit rasanya” kataku padanya. Dia tersenyum manis lalu menunduk sebentar lalu membalas tatapanku.
“ Ya...kelihatannya aja mbak. Saya itu orangnya gampang marah mbak. Enggak seperti kelihatannya” dengan polos dia mengaku
“Akh...masak....?”
“Iyaa...akhir-akhir ini saja alhamdulilah saya sudah mulai belajar untuk menahan rasa marah itu. Kalau melihat hal yang gak cocok di hati gitu sudah bawaannya uring-uringan. Huuhhhh....sebel gitu lho mbak. Wong teman-teman saya banyak yang bilang saya itu Judes” mengalir lancar begitu saja akhirnya pengakuan itu dari bibir Anisa.

“Yaaa....yang sabar ya nis, semua itu proses. Kita belajar dari kekurangan dan kelemahan kita untuk bisa memperbaikinya. Memang marah itu timbul dari hal yang tidak kita inginkan terjadi. Tapi khan hidup ini memang tidak bisa semuanya seperti yang kita maukan. Apalagi yang berhubungan dengan orang lain. Melihat orang begini saja sudah marah, begitu marah. Ya....jadi bawaan marah terus donk. Sabar ya nis.... nanti lama-lama juga kan bisa” ucapku mencoba menenangkannya.
Jadi teringat masa laluku yang dulu juga gampang sekali marah. Sampai-sampai kuutarakan pada sahabaku bahwa cita-citaku adalah 'jangan marah'. Jadi disaat ada hal yang membuatku mau marah, cepat kuingat cita-citaku. Begitu juga sahabatku yang sering mengingatkan diriku akan cita-cita itu saat mengetahui merah padam mukaku menahan marah. Buntut-buntutnya kami malah ketawa geli karena cita-cita itu.

“Saya pernah baca buku tentang seratus dosa-dosa besar, dan ternyata marah itu termasuk dosa besar. Waahhhh....jadi saya takut sendiri. Ya Allah....jadi selama ini saya itu banyak dosanya.” Suara Anisa memecahkan lamunanku.
“ Marah itu bibit awal dari kedholiman lho nis. Makanya kita mesti hati-hati. Coba belajar di setiap kita menemukan sesuatau hal yang tidak kita sukai, kita harus ingat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang luput dari kehendak Allah walaupun itu daun kering yang jatuh dari rantingnya. Dan Allah tidaklah berbuat sia-sia atas yang terjadi. Pasti ada manfaatnya. Lha...kalau hal yang terjadi itu atas kehendak Allah apa kita pantas marah?? Kita memang sering tidak sadar memaksa Allah dengan keinginan kita. Lucu sebenarnya kalau dipikir. Mau kita begini, tapi saat yang terjadi begitu, Nah...lho! Kita marah. ya....gimana wong kemauan Allahnya begitu. Kita kok ngeyel. Jadinya yang sakit, yang sumpex, yang ngos-ngosan ya kita sendiri karena tidak bisa menerima ketentuanNya. Belajar nis.... sama, saya juga masih belajar untuk bisa tidak mudah marah, bahkan kalau bisa jangan sampai marah ya..” Panjang lebar kucoba menerangkannya.
Sedikit terkesima mata ini saat tertangkap olehku warna bening telah menggelantung di balik kacamata minus itu. Dan tak lama kemudian terjatuh. Kulihat Anisa membuka tas mungilnya untuk mencari sesuatu. Sebentar kemudian dia mengusap sekitar mata dan pipinya yang sudah basah dengan tissue yang ada dalam genggamannya. Ya..Allah.. dia menangis pikirku. Apa yang kukatakan hingga bisa membuat gadis cantik ini tersentuh? Lembut sekali hatinya. Ku coba untuk terus memberinya nutrisi bagi jiwanya yang haus dengan segala kemampuan yang Allah berikan padaku.

“Kalau nggak salah, ada beberapa macam jenis nafs atau jiwa itu nis, diantaranya ada Amarrah, Lauwamah dan yang paling bagus itu Mutmainah. Seperti yang tersebut dalam Al-Qur'an, Yaa aayyatuhannafsul muthmainnah,....'Wahai jiwa yang tenang'. Dan jiwa yang tenang itu yang bagaimana? Tenang kan berarti enggak pakai acara marah. Enggak buruh-buruh. Makanya Sholat itu juga gak baik kalau buru-buru. Lha wong sholat itu lho mestinya khan tumma'ninah. Tenang juga kan artinya. Marah, buru-buru, ragu-ragu itu jalannya setan lho nis. Coba kita lihat para kyia atau orang-orang yang sholeh, pasti bawaannya kalem, tenang dan menyejukan. Itu jiwa yang muthmainnah.” Kutarik nafas sebentar untuk mengatur hati dan jiwaku biar tidak loncat-loncat. Karena dalam hal begini setan kadang juga ikut nimbrung. Ikut aja boncengi.
“Kita mesti bisa mengenali diri kita sendiri karena di dalam diri kita ini setan dan malaikat sering beradu argumen untuk mempengarui kita dalam ambil keputusan. Makanya kita mesti sering membersihkan hati kita hingga nanti bisikan setan itu tidak dominan dan mudah kita kenali hingga kitapun tidak mengikutinya. Caranya bagaimana kita bisa tau ini bisikan setan, malaikat atau dari Allah sendiri. Kita mesti banyak dzikir mengingat Allah. Banyak-banyak mempelajari Al-Qur'an dan Al-Hadist. Ingat khan, riwayat ibu hawa dan nabi Adam di surga. Lha wong tingkat nabi kok bisa kalah sama setan hingga di turunkan ke dunia. Itu mengapa? Sebenarnya Allah memberi pelajaran pada kita, bahwa manusia itu tidak bisa mampu melawan yang namanya setan. Bagaimana bisa melawan, wong setan itu lho gak kelihatan, tapi dia bisa ngeliat kita. Setan tidak mati tapi kita juga mati. Kita butuh istirahat tidur,sedangkan setan sendiri tidak perlu tidur. Wah...payah kan. Caranya cuman ada satu, di saat manusia mau meminta pertolongan serta berserah diri pada Allah, itulah satu-satunya kekuatan terbesar yang kita miliki. Karena jadinya yang melawan setan itu bukan kita lagi, tapi Allah. Ya tentunya setan yang kalangkabut kalau sudah melihat seorang hamba itu punya dekengan Allah. Karena itu, banyak belajar nis....baca Al-Qur'an, baca buku-buku agama yang bisa menambah ilmu kita, biar gak kalah dengan setan.” Panjang lebar keteranganku dengan suara yang naik turun tersaingi suara musik yang bising. Anisa masih melihat lekat padaku dengan sesekali membuka kacamatanya dan mengusap kedua pelupuk mata indah miliknya.

Seperti masih kurang puas dengan ocehanku, Anisa pindah kursi duduk lebih dekat denganku. Dengan tangan yang diletakan di atas kakiku dia mencoba untuk mengaduh
“Sering mbak, saya merasa diremehkan orang. Sakit rasanya, tapi ya...saya coba untuk berfikir kalau saya memang pantas menerima itu karena saya dulu pun sering meremehkan orang. Dengan begitu saya mencoba menahan marah saya.”
“Iya...bagus itu. Tapi saranku, kalau bisa berfikirnya yang lebih bagus lagi. Begini, kamu merasa pantas diremehkan orang karena kamu pernah meremehkan orang. Lha kalau suatu saat nanti kamu sudah berjalan dalam pertaubatan dan tidak meremehkan orang lagi, tiba-tiba kamu diremehkan orang, bagaimana?!? Bisa-bisa kamu protes sama Allah. Ya...Allah, mengapa saya diremehkan orang padahal saya sudah tidak meremehkan orang. Tuh kan!! Karena kamu masih melihat apa yang telah kamu lakukan. Ingat...sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan itu atas pemberian Allah, dan kesalahan yang kita lakukan itu sebagai pembelajaran dari Allah untuk kita. Ada lho istilah 'Nikmatnya Maksiat'. Maksudnya apa? Maksudnya dengan kita di kehendaki Allah untuk berbuat maksiat, kita semakin menyadari kita ini kotor dan banyak dosa hingga kitapun lebih tersungkur di hadapan Allah untuk memohon AmpunanNya. Beda kan kalau orang yang tidak pernah berbuat maksiat, dan melihat amal ibadahnya yang sudah baik. Hingga diapun merasa suci. Dan suatu saat jika Allah memberi ujian padanya dia akan jatuh. Bahaya itu. Semua yang menimpah kita atas kehendak Allah enak ataupun enggak enak, jadi diterima saja. Jangan banyak dalih. Lha kalau seperti kamu diremehkan orang, alangkah baiknya jika kamu berfikir. 'Akh...biarin saya remeh di hadapan manusia, asal tidak di hadapan Allah'. Atau 'ya...emang ini yang dikehendaki Allah pada saya, jadi saya mesti sabar'.Udah, gitu aja. Yang penting kamu sudah benar dalam berperilaku sudah jangan terlalu dipikirin orang lain. Kan sudah ada rumusnya, kalau lagi gak enak ya sabar, kalau lagi dapat enak ya bersyukur. Apalagi kalau bisa bersyukur saat mendapat hal yang tidak enak...wah...itu lebih bagus lagi.” paparku melanjutkan.
Seakan-akan kesibukan orang-orang sekitar kami tidak pernah ada mengelilingi kami. Kami merasa berada di tempat lain, jauhh... Bukan di suasana tasyakuran yang banyak tamu dan hiruk pikuk orang melayani. Anisa masih dengan hikmat mendengarkan nyanyian merduku yang mencoba mengukir di balik kalbunya. Matanya mulai memerah dengan linangan-linangan yang tak mampu dia tahan. Sering kali dia tertunduk, mencoba menyelami makna tiap huruf-huruf yang kurangkai dalam mutiara-mutiara kata.
Tiba-tiba suara musik berhenti hingga kami celingukan mencari ada apa gerangan. Ternyata adzan dhuhur dikumandangkan dari masjid dekat rumah. Segera ku gapit tangan Anisa untuk melangkah menuju masjid.Kami berjalan berdampingan yang sesekali terlontar pertanyaan-petanyaan Anisa yang kemudian kucoba untuk menjawabnya.
Sholat kami sangat asyik dirasakan. Mungkin karena pembicaraan kami di rumah itu yang masih terngiang-ngiang di telinga kami hingga kami pun merasa tidak keberdayaan di hadapanNya. Tak lupa kuajak Anisa melakukan sujud syukur sebagai bentuk syukur padaNya yang telah memberi kekuatan kami untuk melakukan sholat dan masih mengingat dan berharap hanya padaNya. Lama kami tenggelam dalam sujud dihadapanNya. Kami larut dalam isak tangis dari mengharapkan rengkuhan tangan yang Maha kasih untuk mencurahkan RahmatNya atas kami. Hingga akhirnya walau dengan berat kami lepaskan ikatan kening dengan sajadah tempat kami sujud. Yang terlihat hanya bekas kening dan sajadah yang basah karena air mata kami.
“Nisa....” lirih suaraku memanggilnya yang masih sesenggukan di sampingku.
“Iya mbak...” sahut Anisa sambil mengusap matanya yang memerah.
“Boleh saya meminta sesuatu padamu..”
“Apa itu mbak..?”
“Boleh saya memelukmu..?” pintaku dengan suara gemetar.
Anisa menjawab dengan anggukannya yang lemah. Kurengkuh tubuh gadis yang terlihat lemah karena banyaknya air mata yang terkuras. Kami berpelukan dengan menumpahkan semua air mata yang tersisa.
Ya..Allah....ampuni dosa kami ya Allah....beri kekuatan kami untuk terus berada dalam pertaubatan kami. Beri kekuatan kami istiqomah ya Allah. Jaga kami ya Rabb....bimbing kami. Tiada yang mampu menyelamatkan kami selainMu, tiada yang mampu menjaga kami selainMu, dan tiada yang mampu memelihara kami selainMu. Karena itu, Selamatkn kami, jaga kami, dan pelihara kami untuk tetap taat padaM. Ya Allah....dzat yang menggenggam jiwa kami. Kami tak berdaya ya Allah....Lahaulawahuata ilabillah......

Rentetan doa kupanjatkan saat tubuh kami dalam pelukan. Pelukan kasih Sang Ilahi yang menyertai kami siang itu, di masjid itu. Subhanallah..... Sejuk benar waktu dhuhur yang kami rasakan. Seakan-akan para malaikat mengelilingi dan Allah pun turun menghampiri lalu mengusap kepala kami dengan penuh cinta dan kasihNya. Ya Allah... terimaksih....terimakasih...ya Allah... Segala puji bagiMu..
******
Sumber : ( Cerpen Harian )

Resah?!...Dzikir aja

Kubuka jendela kamar lalu kubiarkan angin malam menerpa wajahku. Hawa sejuk menyelinap dalam tubuhku yang kata kebanyakan orang sangat kurus. Padahal menurutku tidak kurus-kurus amat sih. Tapi ya...begitulah keadaannya.
Tiba-tiba Hpku bernyanyi, kubungkukan badan untuk meraihnya. Ternyata seorang teman lama menelepon.
“Assalmu'alaikum...” sapaku
“Wa'alaikumsalam...” jawab suara dari seberang
“Alhamdulillah....bagaimana kabar mb Ayu? Tumben nih ada acara telepon. Kangen ya...?” kataku menggoda.
“Iya dik...lama kita gak ngobrol. Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Anu dik, saya mau cuhat nih. Ganggu enggak ya?”
“Oohh... enggak kok mbak? Saya juga lagi nyantai. Ada apa mbak?”
“Begini, saya kok akhir-akhir ini merasa gak enak hati ya. Bawa'annya resah terus. Saya bingung mo ngapain. Saya buat sholat juga masih resah. Saya buat baca Al-Quran kok ya tetep aja. Rasanya kering gitu lho. Bagaimana ya saya seharusnya?”

“Sabar ya mbak.. resah itu sebenarnya sebagian dari panggilan Allah. Jika kita resah Itu berarti duduk hati kita di hadapan Allah masih kurang bener, Kurang pas. Jika boleh kita ambil contoh seperti orang lagi duduk sedangkan di tempat duduk kita terganjal sesuatu pasti kita tidak nyaman Ato kita duduknya miring-miring atau karena sempit tempatnya kita paksa pantat kita masuk, tentu rasanya enggak enak. Lalu kita akan coba mencari dan berusaha duduk yang pas dan enak. Tapi jika kita masih belum bisa membetulkan posisi duduk kita, kita pasti masih terus resah. Biasanya resah kita sering timbul dikarenakan kekecewaan kita dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan.” Jawabku panjang lebar.
“Kamu benar dik.... saya memang merasa kecewa. Saya merasa sudah berbuat baik, sholat, puasa, dan sebagainya. Tapi kok saya juga masih seperti ini.” keluh suara dari seberang yang terasa berat dengan beban yang dibawanya.
“Mbak, Semakin kita banyak mempunyai harapan-harapan, maka peluang kita kecewa juga akan semakin banyak. Apalagi harapan itu kita sandarkan pada selain Allah. Saya tau, mbak Ayu dekat dengan pak Ustad. Pasti mbak juga pernah menyandarkan harapan pada beliau. Kita merasa beliau dekat dengan Allah dan kitapun berharap beliau bisa menyampaikan hajat kita. ”
“lho..kok kamu ngerti dik?”

“Lha iya, wong saya sendiri pernah ngalami hal itu. Akhirnya saya malah di buat kecewa. Yaitu, karena salah letak duduk hati kita. Salah tempat yang semestinya kita duduk di hadapan Allah, malah kita duduk di hadapan mahluk. Dan satu hal yang perlu kita ingat mbak, bahwa harapan atau kehendak kita itu walaupun baik belum tentu sama dengan kehendak Allah. Dan baik menurut kita pun belum tentu baik menurut Allah kan? Jika suatu saat satu atau beberapa kehendak kita itu menjadi kenyataan dalam hidup kita itu sebenarnya hanya kebetulan saja kehendak kita sama dengan kehendak Allah. Dan jika di buat satu bentuk menang kalahnya kehendak kita dengan kehendak Allah, tentu yang menang adalah kehendak Allah. Dan yang penting kita harus tau, bahwa setiap pemberian Allah pada hambaNya itu pasti yang terbaik. Kita saja yang sering tidak meyakini dan kurang bersabar. Sakit memang, enggak enak memang, tapi itulah tempat kita untuk belajar mengenali kemauan Allah atas kita.
Belajar bersyukur mbak... saya juga masih belajar untuk itu. Karena saya membaca dalam Al-Quran bahwa jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatNya atas kita. Gak usa jauh-jauh kita dalam menggali rasa syukur. Kita mulai dari yang ringan saja jika kita menyadarinya kita pasti mampu mensyukurinya.” jelasku sambil menggeser pantat yang sudah mulai terasa panas.

“Dari hal-hal yang ringan bagaimana maksudnya dik?”
“Ya...misalnya dengan tubuh yang sehat saja kita mampu bersyukur kalau kita mengingat orang-orang yang sedang sakit. Dikala kita makan, kita akan mampu mensyukurinya jika kita ingat banyak orang-orang yang tidak bisa makan. Lha wong kita bisa bernafas yang gratis ini saja kita mestinya bersyukur sehingga kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki yang masih buruk-buruk pada diri kita. Bersyukur dari apa saja yang telah di berikan Allah pada kita. Apalagi seperti mbak Ayu ini, banyak lho karunia nikmat yang telah Allah berikan. Ayoo...masak gak mau mengakui. Jangan kufur lho mbak...” kataku yang langsung menohok dadanya.
“Iya dik ya... Tapi kan saya juga sudah beribadah dengan baik. Saya sholat, puasa dan ibadah yang lainnya sebagai wujud syukur saya ” suara yang gemetar itu melakukan pembelaan.

“Mbak Ayu.... Jika kita dalam beramal ibadah masih melihat diri kita dengan kemampuan kita, itu berarti ada takabur dalam diri kita dan tidak ikhlas. Hati-hati lho mbak... kita sering merasa sudah beribadah, dan sudah sepantasnya kita meminta balasan pahala pada Allah dengan hajat-hajat kita kan. Padahal kita lupa bahwa untuk bisa berbuat amal ibadah itupun sebenarnya karunia dari Allah juga. Coba kita lihat jika seseorang itu tidak mendapatkan hidayah dari Allah, tentunya tidak akan mampu melakukan ibadah. Jangan kan sholat, wong tersenyum sama orang lain saja kita akan merasa berat. Yang membuka dan menutup hati itu Allah mbak... karena itu bersyukur kita termasuk hamba-hamba yang di berikan kekuatan untuk beribadah. Banyak lho mbak orang muslim tapi gak sholat. Mengapa? Karena mereka tidak mendapatkan hidayah. Hatinya tertutup. Kasihan kan mbak. Dan banyak saya temukan di Al-Qur'an Allah berfirman bahwa Barang siapa yang dib eri petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Tuuhh...mbak, coba bayangkan kalau mbak Ayu dikehendaki Allah sesat. Ayoo bagaimana? Pasti ngeri kan.” Khotbaku meniru ulama-ulama kondang. Hening sejenak menyelimuti kami. Tidak ada suara dari seberang walau saya merasa telepon kami masih tersambung.
“ Hallo....mbak Ayu...kok diem? Jangan-jangan ketiduran nih. Hahahaha....” kelakarku memecahkan cermin kebekuan malam yang semakin larut. Kuarahkan pandanganku ke langit luas. Ternyata indah sekali malam ini. Bintang terlihat menari-nari dengan kerlipnya seakan memanggilku untuk turut merasakan indahnya keagungan ciptaan-Nya. Subhanallah.....
“Saya ini lagi mencoba mencerna dan memahami ulasanmu kok dik. Saya ini bener-bener pingin hati saya itu tenang.” sahut mbak Ayu.
“Yaa... Banyak dzikir aja mbak biar tenang, ”
“Sudah saya coba dik, tapi masih terasa kering. Atau cara dzikir saya yang salah ya..?”
“ Nah...ini yang seru...kita sering sudah merasa berdzikir tapi kok masih gak tenang. Padahal di Al-Qur'an menyebutkan Alaa bidzikrillahi tathmainnulqulub..Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Dzikir yang bagimana? Ini yang perlu kita bahas. Dari pelajaran-pelajaran yang saya dapat selama mengikuti pengajian ataupun membaca buku, saya mengambil satu kesimpulan untuk hal metode berdzikir ini. Pertama kita mesti tau bahwa nafas kita itu sangat berhubungan dekat dengan hati kita. Ternyata bernafas kita tanpa kita sadari telah menghubungkan antara otak dengan hati kita. Coba kita ingat. Mengapa kalau kita membaca Al-Qur'an kita dianjurkan membacanya dengan satu kali nafas. Jika berhenti di tengah kita harus mengulanginya. Ternyata pada saat itu kita sedang memasukan ayat-ayat yang kita baca itu ke dalam hati kita.Dan nafas yang lembutlah yang bisa membawa pesan-pesan yang kita bawa ke dalam hati kita. Nafas seperti orang tidur itu lho mbak.. Coba mbak Ayu rasakan. Nafas dengan pelan, halus dan rasakan saat menghembuskannya dengan dalam. Nah...saat itulah kita mesti memberi muatan-muatan yang positif untuk kita tanam dalam hati kita. Ini cara Dzikir yang menurut saya benar lho mbak. Jadi sampai masuk ke dalam hati. Mbak Ayu coba deh...gak usah kalimat panjang-panjang biar gak ribet. Coba begini mbak.. saat kita tarik nafas kita iringi dengan kata Huu...lalu saat menghembuskannya kita iringi dengan Allaah... pelaaan...dan rasakan dalam dada. InsyaAllah nanti bisa merasakan sensasi ketenangan dengan pola nafas kita. Dan hati kita yang letaknya di dada sebelah kiri akan terasa bergetar lembut. Wahh... nanti pasti hanya dengan nafas saja kita sudah bisa merasakan nikmat karunia-Nya mbak. Latihan mbak...di ulang-ulang sampai bisa. Bisa kan karena biasa. Hehehe. Jangan lupa iringi dengan doa mohon semoga diberi kekuatan oleh Allah.” paparku panjang lebar.

“Gitu ya... baiklah akan saya coba. Ya sudah dik, terimakasih banyak ya sudah mau menemani saya .Laen waktu insyaAllah saya maen kerumah.”
“ Sama-sama mbak, saya tunggu ya..”
“ Assalamu'alaikum..”
“ Wa'alikum salam...” kami mengakhiri pembicaraan. Telingaku terasa panas karena Hp yang terpakai lama akhirnya mengeluhkan penatnya.
Kulihat jam menunjukan pukul 22.10 menit. Kuraih daun jendela dan kututup rapat yang sebelumnya kusampaikan salam perpisahan dengan bulan dan bintang yang melihatku tersenyum. Akh....malam yang indah.Alhamdulillah...terimakasih ya Allah..atas semua karunia nikmatMu yang tidak bisa hamba sebutkan satu persatu.
Kurebahkan tubuhku diatas pembaringan bersiap-siap mengembalikan jiwa padaNya. BismikaAllahumma ahya wabismika amuut. ***%$&(Q#$(Selang beberapa hari mbak Ayu sms “ Ass.Dik, alhamdulillah sy bs mrskanny. Skrng sy lbh tenang. Trmkash y.Wass" " Alhamdulillah. Smg istqm 'Mk apbl km tlh mnylsaikn sholtm, ingtlah Allah d wkt brdri, du2k dn d wkt brbaring. (Qs.4.103)” balasku. Alhamdulillah, ternyata Allah menurunkan HidayahNya melalui rangkaian kalimatku. Terimakasih ya Allah...hamba telah Engkau jadikan jalan bagi kebaikan, bukan jalan kesesatan. Alhamdulillah....Lahaulawalahuata ilabillah


Sumber ( Cerpen Harian)




Bersihnya Hati

Pagar rumah yang terkunci rapat, terlihat seolah -olah tiada penghuninya di rumah besar itu. Ku buka tas bagian depan untuk mencari sebuah kunci yang kumaksud. Setelah membebaskan gembok dari ikatan pagar, kubuka lebar hingga motorku pun bisa memasuki teras rumah. Terdengar dari dalam pintu rumah berbunyi tanda penghuni rumah melepaskan kunci lalu membukanya.
“Assalamu'alaikum...” ku sampaikan salam
“Wa'alikumsalam.... Aduhh nak...! ibu hari ini dapat teguran dari Allah. Wahh... seru poko'nya. Memang kesalahan ibu ini nak” jawab ibu diiringi deretan cerita yang sepertinya sudah sedari tadi ditahan untuk disampaikan. Kuhampiri beliau lalu kucium tangannya. Lalu kami memasuki rumah dengan tangan kami yang belum terlepas.

“Emangnya ada apa bu...?” sahutku melepaskan tangan sambil menuju ruang tengah dan menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Hp ibu hilang fit.”
“Lho..!! bukannya tadi pagi ada di meja ruang tamu? Fitri lihat lho bu..?”
“Iya...memang tadi di situ. Ibu lupa menaruhnya di kamar. Dan tadi itu ada seorang pengemis perempuan muda sambil gendong anaknya. Tapi ibu gak berani shuudon denganya. Masak dia... wong lihat wajahnya itu sepertinya gak mungkin kalau dia itu nak...!”
“Lha yang di rumah siapa saja?”
“Yaa...cuma ibu, mas Yuda, Eyang putri juga Eyang kakung. Kalau orang luar ya...cuma pengemis perempuan itu nak. Tapi masak itu ya..? Waktu pengemis itu datang sih yang dirumah cuma ada ibu dan Eyang putri. Dan lagian memang mencurigakan sih nak, pengemis itu langsung saja membuka pagar lalu duduk di depan pintu. Wong belum di suruh masuk juga sudah masuk. Habis itu ibu ambilkan minum untuk dia. Masak waktu itu ya dia nyelonong masuk ambil Hpnya? Tapi ibu gak berani berburuk sangka padanya.
Untuk hilangnya Hp sih ibu enggak terlalu menyesal. Enggak geton gitu lho nak. Ibu merasa itu teguran dari Allah karena seharian tadi ibu sibuk dengan tanaman Anggrek ibu, sampai lupa sholat Dhuha. Ibu enggak ingat sama sekali. Hp di situ juga enggak ingat. Baru tadi sore ibu habis sholat asyar ibu mau pakai telepon, baru ingat. Baru ketahuan ilangnya” Cerita ibu panjang lebar

“Kalau coba dihubungi bagaimana?”
“Sudah.......dicoba sama mas Yuda, tapi tidak aktif. Ini semua salah ibu. Sebenarnya ibu sudah ikhlaskan, tapi gak tau kok ya masi kepikiran.” kata ibu sambil membetulkan kacamatanya yang turun.
“Ini bisa dibilang teguran sekalian ujian buat ibu karena Allah sayang sama ibu..?”
“Lho kok bisa sih nak...gimana..gimana maksudnya?”
“Kalau dibilang teguran bisa, biar ibu jangan terlalu asyik dengan apa yang dikerjakan sehingga melupakan Allah. Bisa juga di bilang ujian demi meningkatkan kwalitas keimanan ibu, lalu dilihat bagaimana ibu dalam menghadapi kehilangan ini. Apa ibu marah, sedih, kecewa atau bagaimana? Dan saya lihat ibu tidak seperti itu. Jadi InsyaAllah Ibu nilainya bagus dech. Hehehe....selamat ya bu...”
“Oohh...gitu ya nak..Alhamdulillah..”

Kusandarkan punggunggku tuk hilangkan sedikit keletihan dari seharian sibuk di kantor.
“Ada sebuah riwayat bu yang pernah saya baca dari suatu buku. Ada seorang murid yang bercerita pada gurunya dengan penuh rasa kagum bahwa dia telah melihat orang sakti yang bisa berjalan di atas air. Sedangkan sang guru tidak terlihat kagum atau bagaimana. Lalu si murid bercerita lagi bahwa orang tersebut bisa terbang. Tapi sang guru tetap tidak menunjukan ekspresi yang terpukau. Lalu si murid dengan rasa penasarannya bertanya pada gurunya mengapa sang guru sama sekali tidak kagum atau sejenisnya.Sang gurupun menerangkan bahwa tiada pernah heran melihat orang yang berjalan di atas air karena ikan pun begitu. Untuk terbang di udarapun burung juga bisa. Dan semua itu golongan Jin dan Iblis dengan mudah melakukannya. Sang guru meneruskan keterangannnya bahwa dia akan kagum apabila menemukan orang yang memiliki sesuatu , lalu sesuatu itu hilang dan dia tidak menunjukan perubahan exspresi kekecewaan dan tetap dalam kehambaannya pada Allah.” ceritaku pada ibu yang terlihat sedikit kebingungan
“Jadi maksudnya bagaimana ya nak? Kok bisa kagum dengan orang yang tidak sakti”
“Yaa...berarti kan orang itu bisa sabar menerima ketentuan yang paling tidak enak yang telah diberikan Allah padanya. Dia telah mendapat Ridho Allah bu... dan InsyaAllah ibu pun begitu karena ibu tidak merasa sedih, kecewa ataupun marah dengan kehilangan Hp itu. Namun kalau bisa jangan cuman Hp aja yang bisa kuat ya bu....semuanya yang kita rasa kita miliki ini. Karena Hakekatnya semua ini kan titipan. Bukan milik kita, tapi milik Allah. Sebagaimana yang pernah saya baca bahwa keimanan yang sempurna itu keimanan yang merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun kecuali Allah. Jadi suatu saat jika di ambil ya...kita gak boleh protes baik dalam bentuk apapun dan jika kita mendapatkan sesuatupun kita meyakini itu semua dari Allah semata oleh karena itu layaknya kita syukuri. Waahhh jadi kepanjangan ya bu... Jadi malu nih, kaya' udah kebeneran saja..”

Senyum ibu merekah bagai bunga di depan rumah. “Eii...enggak papa nak, ibu malah suka kalau kamu cerita seperti itu. Kamu kan bisa belajar jadi ustadzah.”
“Jauuhhh bu... lagian gak berani mimpi. Saya cuma pingin jadi hamba Allah yang bener saja dech. Belajar tidak selingkuh menjadi hamba selianNya. Karena itu fitri terus belajar supaya bisa setia sama Allah. Hehehehe...” sahutku sambil menyalakan Televisi.
“Ada lagi lho cerita yang lucu nak, sudah ibu habis kehilangan HP. Ee...tadi sore ada orang laki parubaya mondar mandir di depan rumah sambil lihatin rumah kita ini terus. Ya..tentu saja ibu sedikit takut. Akhirnya ibu coba beranikan diri untuk menegurnya. Ternyata dia itu lagi sakit perut mau ke belakang. Mau numpang tapi sungkan.” cerita ibu meneruskan

“Terus...ibu kasih ijin enggak?” Tanyaku penasaran sambil mengarahkan pandanganku menatap lekat mata wanita tua di hadapanku penuh kecemasan.
“Iya ta kasih ijin nak, kan kasihan.. ibu itu membayangkan betapa sakit perutnya yang menahan mau kebelakang. Wong ibu lho pernah mengalaminya. Waktu jalan-jalan sama Ayah, ibu terasa pingin kebelakang. Dan ibupun cari tumpangan. Gitu aja rasanya seneng banget ada yang mau memberi tumpangan.”
“Alhamdulillah..... Ibu hebat...bener-bener hebat.”
“Lho?! Kenapa nak? Wong gitu aja kok hebat. Wong kasih tumpangan saja kok hebat.”

“Yee...ibu kok gak peka sih. Di sini saya melihat betapa Allah telah mendatangkan orang itu untuk menguji ibu kedua kalinya. Begini, ibu kan habis kehilangan HP. Itupun dengan adanya peristiwa pengemis perempuan yang aneh dan mencurigakan. Ibu tidak berani Shuudhon dengannya dan mencoba menghilangkan perasangka-perasangka buruk padanya itu sudah bagus. Dan ibupun tidak kecewa, sedih ataupun marah dengan kehilangan HP, itu lebih bagus lagi. Lalu Allah masih ingin menguji ibu kesekian kalinya dengan mengirimkan orang yang sakit perutnya dan numpang ke belakang. Intinya cuman satu bu, setelah sederetan cerita di awal apakah ibu masih tetap menjaga hati ibu untuk tidak menorehkan nota hitam di hati ibu dengan berburuk sangka pada orang lain?? Jarang bu, orang yang habis kehilangan itu dengan muda memberi kepercayaan pada orang asing. Kebanyakan bawaannya curiga melulu. Tapi, ternyata ibu mengijinkan orang tersebut untuk kebelakang, dan ibu sama sekali tidak menaruh curiga. Itu lebih dari hebat bu....T.O.P B.G.T istilahnya .. TOP BANGET... Berarti hati ibu bener-bener terjaga dan bersih. Subhanallah........Saya kagum sama ibu. Alhamdulillah ya Allah...” Rasa kagumku tidak terbendung lagi hingga tanpa terasa genangan air sudah memenuhi kelopak mataku. Kuraih tubuh wanita tua itu dan kami pun berpelukan.
Ya..Allah, semoga Engkau selalu memberi kekuatan kami untuk tetap teguh denganMu. Bertahan dalam kesabaran disetiap kemauan dan kehendakMu atas kami. Beri kekuatan kami ya Allah, untuk menyadari bahwa semua hakekatnya adalah diriMu yang ada. Bukan kami, bukan yang lain melainkan diriMu. Engkau yang memberi Ujian dan Engkau pula yang memberi kekuatan. Terimakasih ya Allah....terimakasih.

Kutinggalkan ibu dengan kesibukannya. Dengan berlari kecil kusambar handuk lalu menuju kamar mandi. Sebentar lagi Adzan mahgrip berkumandang dengan suaraNya yang menggetarkan. Begitu terasa indah undangan itu bagi kita hamba-hambaNya. Semoga kita memenuhinya dengan melepaskan semua kebisingan dunia yang kemudian tenggelam dalam asyiknya bercengkrama denganNya. Labaikallah...hummalabaik.....

********


Sumber: (Cerpen Harian)

Akh...Pantas kenyang

Kutundukan pandanganku dalam-dalam seakan ingin kumasuki pori-pori lantai ruang tengah itu. Begitu ramai suara yang berisik di dalam benakku. Ada penyesalan, ketakutan, keresahan, kegetiran, kegelisaan, juga kebingungan, semua tertumpuk dan diaduk-aduk menjadi satu. Mungkin kalo Gado-gado masih enak rasanya, tapi ini perasaan yang bergemuruh di hatiku yang tak kunjung mau berhenti. Akh.....dasar bodohnya aku ini..sesalku dalam diam.

“Fiitt... ada apa nak? Kamu kelihatan lagi mikir sesuatu ya? Ayoo cerita sama ibu siapa tahu ibu bisa bantu” suara ibu yang lembut sedikit melonggarkan urat syarafku. Ku coba tersenyum lalu kurebahkan tubuhku di sofa dengan kepala kujatuhkan di pangkuan ibu. Dengan penuh sayang ibu membelai rambutku.
“Kenapa..? kamu enggak seperti biasanya. Kok enggak bisa tersenyum sih.” ibu mencoba mengulangi untuk mencari tahu keresahanku.
“Saya sedih bu..”
“Pasti ada masalah. Masalah apa yang membuat kamu sedih begitu?”
“Saya tadi kelepasan lagi bu.... Saya ini memang bodoh, gak bisa menahan diri. Malu saya sama diri sendiri. Bisanya ngomong gak bisa jalanin. Huuhhh....bodoh...bodoh...bodoh!!!” sesalku sambil memukul-mukul kakiku sendiri.
“Eee...kok gitu sih...Sudah-sudah. Emangnya kamu itu kelepasan apa sih? Jangan muter-muter gitu kalau cerita. Bikin ibu bingung.” sahut ibu sambil menahan tanganku.
“Fitri lho bu..tadi makan bangkai alias ngrasanin orang. Bener-bener kalau uda ngobrol enak banget bawaannya. Sampai berbusa bibirnya juga enggak terasa. Akh...pantes aja kenyang. Buntut-buntutnya baru nyadar kalau itu dosa. hmmm....mesti gitu dech.” keluhku dengan kesal

“Makanya jaga lisanmu nak... Jangan banyak bicara jika itu gak perlu, mending di hindari. Ibu saja kalau pulang ngaji, mesti jalan duluan pakai alasan keburu masak biar gak jalan sama-sama. Karena kalau sudah sama-sama teman itu memang bawaannya enak sekali ngomongin orang. Lagian ngomongin siapa sih, kamu kok sampai asyik gitu?”
“Wiss...lengkap dech bu, awalnya dari selebritis sampai akhirnya kemana-mana. Tapi tadi begitu sadar langsung sih..fitri berhenti enggak ikut nimbrung. Tapi kan masih sempat juga ikutan. Uda terlanjur kenyang.” sahutku sembari memonyongkan bibir.
“Yaa...semua itu kan bisa kamu buat pelajaran nak. Karena itu hati-hati kalau mau ikutan ngobrol sama teman, walaupun itu teman akrabmu. Sudah jangan terlalu difikirkan. Banyak istiqfar saja, yang penting jangan di ulangi. Semua kan masih belajar. Jadi mesti terus latihan. InsyaAllah, lama-lama nanti kan bisa.”

“Saya ingat satu riwayat yang pernah saya baca itu lho bu yang membuat saya jadi terus merasa bersalah.”
“Bagaimana? Coba kamu cerita sih, biar ibu ikut tahu ceritanya”
“Ceritanya, ada orang yang alim sedang menghadiri pemakaman seorang sahabatnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang pengemis. Si alim tadi berfikir dalam benaknya 'coba orang ini mau berusaha sedikit saja untuk dirinya, tentu dia tidak perlu menginakan dirinya menjadi seorang pengemis'. Lalu pada malam harinya saat si alim hendak melakukan wirid yang biasa dia lakukan, dia merasa berat sekali hingga akhirnya tertidur.” kuhentikan ceritaku sejenak. Lalu duduk bersandar sambil kuperhatikan ibu yang mulai mengupas buah jeruk kesukaannya..
“Terus bagiamana?” tanya ibu sambil melirik kearahku
“Terus, dalam tidurnya itu si alim bermimpi orang-orang membawa nampan yang diatasnya ada si pengemis tua itu. Lalu orang-orang tersebut mempersilahkan pada si alim untuk makan daging pengemis tersebut karena dia telah menghibah si pengemis itu.” Ibu langsung berhenti mengupas buah jeruk yang ada di tangannya. Beliau menatapku begitu dalam. Entah apa yang ada dalam benak beliau. Yang kutangkap beliau masih menunggu kelanjutan ceritaku.

“Begitu bangun si alim baru menyadari bahwa dia tadi menghibah si pengemis. Kemudian, keesokan harinya si alim mencari si pengemis tua untuk mencari ridhonya dengan meminta maaf. Hingga akhirnya si pengemis ditemukannya di tepi hutan sedang memunggut daun-daun kering. Belum sempat si alim berkata pengemis tua itu berkata 'apakah engkau akan mengulangi lagi perbuatan bodohmu itu wahai fulan'. Si alim pun merasa malu pada pengemis tua dan meminta maaf padanya.” kutarik nafas panjang untuk memengendorkan ketegangan yang kurasakan lalu kuteruskan lagi.
“ Bayangin bu....belum sempat dia ngomong sama orang lain. Masih terbesit dalam pikiran saja sudah digambarkan bahwa si alim sudah mengghibah. Lalu bagaimana dengan saya yang dengan asyiknya ngobrolin aib orang walaupun toh itu selebritis. Emangnya kalau ngomongin selebritis itu enggak apa-apa ? Selebritis kan juga manusia yang harus kita hargai apapun itu keadaannya bukan seenaknya kita obral aibnya. Itu kan sama saja dosanya seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Lha wong makan bangkai saja lho kok seneng. Saya heran dengan diri saya sendiri.”

“ Waahhhh...kalau mengikuti seperti ceritamu tadi. Sulit sekali. Ibu sendiri juga sering mengalami hal itu nak. Bukan cuma kamu saja, lha ibu berarti juga banyak dosanya. Bagaimana ya caranya nak. Ibu jadi ikut bingung.” sahut ibu sambil mulai makan buah jeruk yang diletakan di atas mangkuk kecil di pangkuannya. Dan tanpa kuminta ibu suapi diriku dengan belahan jeruk kupasannya. Manis asam rasanya. Segar kemudian menyirami kerongkonganku.
“Itulah bu...yang membuat benak saya ramai saat ini. Memang sulit kalau kita fikirkan. Tapi kita kan gak boleh putus asa untuk mendapatkan pertolongan Allah bu. Yaa... semoga saja Allah memberi kemudahan bagi kita ya bu....semoga fitri enggak kecolongan lagi. Bismillah....ya Allah, semoga Engkau jaga hati, fikiran dan lisan kami ya Allah...” ocehku dalam tumpukan harap pdaNya.
“Aamieen....” ibu menjawab doaku
“Sebenarnya kalau di lihat itu intinya ada di fikiran kita ya bu..?” lanjutku
“Maksudmu bagiamana nak?”
“Ya...seperti cerita tadi, kan muncul di pikiran saja sudah dibilang mengghibah. Jadi kita mesti menjaga fikiran ini untuk tidak berfikir yang buruk-buruk dalam menilai orang. Lha sebelum sampai ke lisan kan awalnya dari pikiran kita.”
“Iyaa..kamu benar nak... kita mestinya enggak usah mikir yang aneh-aneh pada orang lain. Biarin juga orang mau ngapain atau apa saja. Yang penting kita menjaga diri kita sendiri ya...”
“Tapi.. kadang tanpa sadar kita melihat orang hitam gitu aja, kita dengan santai bilang di benak kita 'orang itu hitam sekali ya' . Itu kan juga enggak boleh ya..bu?”
“He em. Makanya daripada kita buat mikirin orang, uda...lebih baik kita sibukan diri kita dengan mikir dan mengingat Allah saja. Dan kita mesti banyak-banyak istiqfar nak...biar kesalahan kita diampuni Allah.”
“Asstaqfirullahal 'adhiim... ampuni dosa kami ya Allah....” sahutku sambil menyingkirkan mangkuk di pangkuan ibu dan kuganti dengan merebahkan kepalaku. Sempat kutangkap senyum ibu yang mengembang melihat ulah manjaku.
Ibu meraih remote lalu mengganti chanel televisi mencari acara yang enak untuk ditonton. Tapi semua cerita sudah penuh dengan sinetron percintaan remaja yang kurang sedap dipandang mata. Akhirnya chanel itu berhenti pada acara Mamamia Show yang seru.. kami hanyut dalam suasana meriah studio sarbini yang kami tangkap malam itu dari layar kaca ukuran 21' dalam rumah kami. Kemesraan seorang mama dan anak. Dan entah, apakah itu tulus ataukah hanya di buat-buat demi mendapat penilaian lebih oleh publik. Sedangkan kami tidak mau ketinggalan dengan kemesraan yang hangat di ruang tengah malam itu. Hmmm...hangatnya rebah dalam pangkuan ibu yang mengasihi dan menyayangi. Berkurang sudah berat di dada karena bisa bermanja di pangkuan seorang wanita tua yang menyayangi dan mencintai sebagai wujud cinta kasihNya. Akh...Alhamdulillah... terimakasih ya Allah..

******
Sumber: Cerpen Harian

Kenangan Indah Penuh Hikmah

-----Original Message-----From: "Administrasi ACCOUNTING" To: "CID Administrasi" , "administrasi welfare" , "Administrasi Utility" , "Administrasi SKT" , "Administrasi SKM" , "Administrasi Security" , "Administrasi SE" , "Administrasi Safety" , "Administrasi Raw Material Deve" , "Administrasi R&D Sensory Evalu" , "Administrasi R&D Flavour" , "Administrasi R&D Process Devel" , "Administrasi R&D" , "Administrasi QA Petemon Barat" , "Administrasi QA Jember" , "Administrasi Purchasing" , "Adm Personalia Tandes 9" , "Admpayroll18" , "CID Software Implementer" , "Devita Damayanti" , "Nurilliyah" , "Choirul Hakam" , "Suharno" , "Andik Darmawan" , "Aprilian Sri Saptani" , "Administrasi ACCOUNTING" Date: Tue, 03 Oct 2006 13:44:56 +0700Subject: Dia Pergi....
Kenangan indah Surabaya, 22 April 2006

Di pagi yang cerah itu tiada terasa indah bagi sosok Nani yang sedang sibuk dengan urusan administrasi pendaftaran rawat inap di salah satu rumah sakit negeri . Terlihat nani mondar mandir dengan membawa surat pengantar dari Rs. Swasta untuk di serahkan kepada dokter yang bertugas. Di sisi tengah ruang tunggu IRD sepasang mata yang sayu lekat melihat nani dengan menahan rasa yang tiada terucap hanya sesekali merintih. Selang-selang infus yang mengikatnya dan bantuan oksigen yang diberikan oleh perawatpun menjadikan pemandangan semakin menyayat hati. Nafas yang turun naik begitu cepat menunjukan betapa terasa sesak dan berat dada yang menahan sakit. Lemas terkulai tak berdaya dengan segala kepasrahan yang ada hanya tercurah pada sang Pencipta. Menunggu dan menanti apa yang akan diberikan Tuhan atas diri yang pilu. Akankah semua menjadi baik dan kembali hingga senyum yang manispun akan berkembang lagi dari bibir mungil itu.

Begitu selesai urusan administrasi dengan tersenyum nani pun menghampiri mata sayu yang sedari tadi mengamatinya. Dengan gemetar suara itupun akhirnya mengalir dari bibir mungil itu “ Bu, aku enggak kuat”. Seakan dinding-dinding ruang tunggu IRD itu hancur berkeping dan menindi tubuh yang tergolong kurus itu. Dadanya bergemuru kencang dan deras terasa air yang akan tertumpahkan. Pecah sudah pertahanannya untuk bisa tetap tersenyum.
“Jangan bilang gitu sayang, Ayi' pasti kuat. Kita berdoa sama Allah biar Ayi' sembuh ya...” begitu nani memberikan semangat pada buah hatinya yang sudah tidak berdaya. Dan terlihat butiran bening telah membentuk anak sungai di pipi yang tidak terlapiskan bedak itu. Hanya menggangguk lemah Ayi' memberi tanda pada sang ibu.

Seorang perawat menghampiri dan mulai memberitahukan kamar yang semestinya ditempati. Melalui lorong-lorong rumah sakit serta melewati lalulalang orang dalam kesibukannya petugas mendorong troli yang diikuti nani berjalan dengan sedikit berlari karena takut ketinggalan menuju kamar untuk menginap buah hatinya. 'Tenang.....tenang dan sabar' bisik nani dalam hati untuk dirinya sendiri. Begitu lelah wajah yang berusaha untuk sembunyikan dukanya itu. Sudah dua hari buah hatinya rawat inap di Rs Swasta dengan diagnosa Typus oleh dokter ternyata di hari ketiga ini malah mendapatkan rujukan untuk di kirim ke Rs Negeri karena diagnosa dokter kini mengarah pada DB ( Demam Berdara ) sedangkan peralatan tidak memadai. 'Ya Allah.....apapun ketentuanMu atas kami berilah kami kekuatan untuk menghadapinya' itulah sepercik harapan yang melintas dalam benak hati nani pada Tuhannya.

Di ruangan itu sudah banyak pasien anak-anak yang lainnya. Sedangkan buah hati nani yang semula di tempatkan bersama mereka namun kemudian dipindah lagi ke ruang observasi atas permintah dokter yang menanganinya. Di ruang itu Ayi' mendapatkan perhatian yang intensive oleh perawat dan dokter. Bahkan dokter tidak meninggalkannya melainkan hanya sebentar-sebentar. Berbagai macam tindakan telah dilakukan oleh dokter dan suster untuk memastikan diagnosa mereka akan jenis penyakit yang menimpa Ayi'. Mulai dari periksa darah, foto, USG dan sebagainya.

Nani terlihat sudah mulai tenang dengan berbagai pelayanan yang diberikan pihak Rs pada buah hatinya. Di hampirinya buah hatinya yang tengah berjuang melawan rasa sakit dan keresahan jiwa.
“Bu...ayo pulang...” pintanya
“Iya....sebentar lagi kalau Ayi' sembuh”
“Bu...mas kiki kok gak kesini..? katanya ibu kesini” tanya Ayi' atas janji nani yang mengatakan bahwa mungkin nanti anak temannya yang bernama Kiki akan datang menjenguk, karena Ayi' suka maen sama Kiki yang sepantaran dengannya.
“Iya...belum. Biar ibu telepon dulu ya...?” sahut nani
“Gak usa bu..gak usa” balas Ayi'
“Bu, aku gak tahan pakai ini...” sambil menunjukan selang oksigen yang masuk di lubang hidungnya Ayi' mengiba.
“Lho..harus pakai ini sayang..biar Via cepat sembuh” nani menenangkan
“Pakai ya...kalau tidak mau ibu mau kerja aja gak mau nungguin Ayi''”bujuk nani sambil menahan rasa sedih.
“Emooh... jangan kerja” pintah Ayi' merintih
“Iya...makanya pakai ini biar Ayi' nafasnya gak sesak. Ibu tinggal sholat dulu ya sayang...” tutur nani meminta ijin yang disambut dengan anggukan.

Nani sholat di samping ranjang buah hatinya. Sementara perawat dan dokter silih berganti memeriksa keadaan Ayi' Selang beberapa waktu dokter memanggil nani untuk membicarakan sesuatu.
Dokter: “Bu...anak ibu positif kena DB dan kita butuh darah”
Nani: “Terus bagaimana dokter....?”
Dokter: “Ibu jaga sendiri? Ayahnya mana?”
Nani: “Tidak ada. Memang kenapa dok? Apa harus ayahnya? Bagaimana kalau darah saya saja yang dipakai?”
Dokter: “Bukan begitu bu, kita mesti beli darah di PMI, bukan darah yang bisa di transfusi langsung. Tapi darah yang sudah di olah dulu dan yang ada hanya di PMI. Jadi harus ada yang ambil.”
Nani: “ Biar saya telepon saudara saya untuk ambil Dok.”
Dokter: “ya ...silakan. Ini surat pengantarnya”
Kemudian nani beranjak dan telepon saudaranya yang kebetulan sedang kerja diminta untuk segera ke Rs untuk ambil darah. Selang beberapa waktu yang cukup lama saudara Ratih muncul. Sebentar menghampiri pembaringan Ayi' lalu segera berangkat lagi ke PMI untuk ambil darah. Tak lupa naniberpesan untuk cepat yang dibalas dengan anggukan.

Detik demi detik berjalan tanpa mau menunggu atau istirahat barang sebentar. Seiring keresahan yang tersembunyi nani mencoba untuk tenang dan tetap mendampingi putri semata wayangnya itu. Di temani saudara sepupunya nani mencoba terus membujuk Ayi' yang sudah resah dengan selang infus dan oksigen yang menempel di hidungnya. Sesekali dia berontak untuk melepas selang oksigen yang dirasa mengganggu. Padahal nafas yang ada terlihat sesak dan sulit untuk bernafas. Sampai-sampai nani dan saudara sepupunya pun memegangi tangan Ayi' yang selalu berusaha melepas selang oksigen yang menjadi penyambung nafasnya.

Hingga akhirnya darah hitam keluar dari mulut Ayi'. Kontan seluruh perawat dan dokter sibuk dengan berbagai alat dan membersihkan muntahan darah yang membasahi baju Ayi'. Terlihat bibir Via terbata-bata dan nafasnya mulai mengendur hingga..............tiada gerak dan tiada suara yang ia keluarkan. Yang ada jeritan dari bibir nani dan sepupuhnya. Diciumi kaki yang tidak bergerak itu dengan segala rasa yang tiada bisa terlukiskan.

'Ya...Allah....saya tidak berdaya dengan kuasaMu dan saya tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau beri kekuatan padaku. Lahaulawalakuata ilabillah.....Hasbiallah alaihi tawakaltu wahua rabbil arsyil adhim...' itu dan begitu terus bibir nani tiada berhenti mencari kekuatan.
Dokter dan perawat sibuk untuk mengupayakan keadaan Ayi' yang terkulai lemah dan tak bergerak. Sedangkan nani beranjak pergi mengambil air wudlu dan melakukan sholat asyar. Dalam takbirnya nani mendengar jeritan sepupuhnya dari mengetahui bahwa dokter sudah tidak mampu menolong Ayi'. Dia telah pergi......Innalillahiwainnaillaihi roji'un. nani tersungkur dalam sujudnya dengan segala kepasrahan. Mengalir dari bibirnnya permohonan ampun pada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan dalam menjaga amanah yang diberikan. 'Ya....Allah, Engkau ambil dari apa yang Kau titipkan. Dan aku benar-benar tak berdaya. Terimalah dia dengan segala cintaMu pada hambaMu. Dan Ampuni hamba jika selama dia Kau titipkan pada hamba, hamba salah dalam mendidiknya, hamba kurang dalam merawatnya, hamba tidak benar dalam menjaganya. Ya Allah.....hamba tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau memberi kekuatan pada hamba. Jangan tinggalkan hamba yang memerlukanMu. Dan jangan biarkan hamba berputusasa atas rahmatMu'. Tersungkur nani dalam isak tangisnya yang tak berdaya.


Ayang..... Ayi'ku Sayang
Getar nadimu kurasakan mengalir dalam tubuhku
Gerakmu menari-nari menghiasi pelupuk mata yang sayu
Pelukmu masih hangat dalam dekapanku
Lembut terasa genggaman mungil tanganmu
Berbekas halus di jari-jari yang penuh peluh

Ayang...Ayi'ku sayang
Bunda menyayangimu...
Bunda mencintaimu.......
Bundapun selalu merindukan tangis manjamu
Bunda selalu tersenyum dalam kenangan indah bersamamu

Ayang...Ayi'ku Sayang
Dirimu adalah bunga dalam hidup bunda
Drimu adalah bulan dalam alunan langkah bunda
Jauh pun dirimu terasa selalu bersama bunda
Tiada pernah kita berpisah melainkan selalu bersama
Bersama dalam naungan Cinta Sang Kekasih Abadi


Ayang...Ayi'ku Sayang
Sampaikan salam bunda pada Sang Kekasih
Sampaikan kerinduan bunda pada Sang Kekasihku
Sampaikan pula betapa bunda menanti di tepi-tepi pintu_Nya
Akankah terbuka dan mau menerima
Semoga.......

“Dan Dia-lah yang telah menghidupkan dan Mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Qs. Al-Mu'minun 80)

Dalam renungan panjang .....
Tertegun dalam lamunan panjang. Semoga diberi kekuatan dan ketabahan. Tanpa dibayangkan dan tanpa diduga, dalam hitungan beberapa hari yang dicinta pergi tanpa kembali. Apakah kita merasa memiliki sesuatu hingga kita merasa kehilangan dari yang bukan milik kita?
Ini benar telah terjadi. Dan tertegun dalam terkejutan akan pelajaran yang Allah berikan pada seorang hamba.
Kita berencana dan Allah pun punya rencana. Tiada mampu kita memaksaNya. Biarlah sudah menjadi ketentuanNya dan kemauanNya atas hamba-hambaNya. Bersabar...bersabar...dan bersabarlah....
Ini benar telah terjadi pada Ayi' dan apakah tidak mungkin bisa menimpa diri kita? Mungkin dan bisa saja. Maka bersiap-siaplah dalam menghadapi semua kemungkinan yang diluar dugaan kita walaupun itu menyakitkan atau menyenangkan. Sebagaimana dengan kisah yang menimpa diri saya. Saya tiada pernah menyangkah buah hati yang dicinta akan pergi begitu cepat. 5 tahun 4 bulan tepat usianya. Lalu kapan untuk kita? Dan siapkah kita?

Apakah setelah ini kita masih bisa mengatakan dan meremehkan kematian atas diri kita , saudara kita, orangtua kita, kerabat dekat kita?. Apakah kita masih mampu mengatakan kematian kita masih lama lagi? Apakah setelah ini masih kita mampu tertawa lepas hingga melupakan Izroil yang mungkin tengah mengintai kita? Apakah kita masih merasa terlalu muda untuk ukuran kematian? Apakah karena kita merasa diri kita masih dalam kondisi yang 'sehat'? Apakah bisa jika kematian itu datang menghampiri kita, lalu kita memintanya kembali beberapa waktu lagi? Apakah kita mampu menerima kematian dengan senyuman?

Riwayat mengatakan Rasulullah Saw. Pernah keluar ke masjid, beliau mendapatkan kami saat itu sedang berbincang-bincang dan tertawa. Beliau bersabda,”Ingatlah mati. Ingat, Demi Tuhan yang jiwaku di tanganNya, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.”

Anas ra. Berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati, karena hal itu dapat membersihkan dosa dan mendorong sikap zuhud terhadap dunia.” Nabi Muhammad Saw bersabda,”Cukuplah kematian sebagai sesuatu yang memberi nasehat.”

Kematian datang atas kehendakNya dan tiada mampu kita menghindarinya. Dan tiada mungkin kita mampu menghadapinya tanpa berpegang dalam pertolonganNya.Oleh karena itu siapkan diri kita untuk menjemputnya dengan salalu meneguhkan keimanan pada Allah Swt. Kematian bukanlah hal yang menakutkan namun perlu kita perioritaskan persiapannya karena dia pasti datangnya. Artinya kita mesti pada kondisi yang tidak terlena dengan dunia yang hanya sesaat dan cenderung menggoda kita. Gemerlapnya dunia jangan jadikan kita silau hingga lupa kematian mengitari kita dan bisa datang sewaktu-waktu. Lalu dalam kondisi apakah kita nantinya saat kematian itu menjemput.?
Ingatkah kita akan firmanNya:

“ Kami tidak Menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu(Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai Cobaan ( yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( Qs. Al-Anbiya' 34-35)

Ada semua cerita yang baik yang pernah diputar di televisi yang InsyaAllah bisa kita ambil pelajaran. Dimana dua bersaudara dengan dua karakter yang berbeda. Si sulung terkenal dengan kesholehannya sedangkan si bungsu terkenal dengan kemaksiatannya yang na'udzubilahimindalik. Namun yang jadi ngiris di hati dimana akhir dari keduanya sangat ironis sekali. Saat terjadi bencana alam diantara korbannya adalah dua bersaudara tersebut. Si sulung ditemukan mayatnya di tempat hiburan lokalisasi milik adhiknya. Sedangkan si bungsu ditemukan mayatnya di masjid. Subhanallah.....
Hanya karena si sulung tergoda dari bisikan setan yang mengatakan bahwa dia terkenal anak yang sholeh dan tidak pernah berbuat maksiat jadi sesekali tidak apa-apa mencoba. Toh Allah maha pengampun. Jadi setelah melakukan maksiat dia akan minta ampun pada Allah lagi.
Sementara si bungsu merasa dirinya banyak dosa dan ingin membersihkan diri dengan bertaubat.
Adakah mereka tau akan kematian mereka yang ternyata ada di depan mata..?

Saudara... begitupun dengan kita yang tiada pernah tau.... maka mari kita berhati-hati....
Tiada dosa besar jika itu diampuni oleh Allah dan tiada dosa kecil jika itu dipertanyakan dan dihitung oleh Allah. Oleh karena itu jangan meremehkan sesuatu walaupun itu kecil. Selamatkan diri kita dari kemaksiatan walaupun itu baru terbesit dalam hati. Bersihkan dengan memohon ampunan...

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah Berfirman kepada mereka,”Matilah kamu” kemudian Allah Menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah Mempunyai Karunia terhadap manusia tetapi kebanyakam manusia tidak bersyukur.” ( Qs. Al-Baqarah 243)

Wahai orang tua..... Sadari anak-anak bukanlah milik kita. Kita hanya bertugas untuk menjaganya maka janganlah merasa punya hak untuk menguasainya. Banyak orang tua menjadi gila karena ditinggal buah hatinya meninggal. Itu semua karena kita dalam kondisi yang tidak siap dengan ketentuan Allah atas mereka. Begitupun saya yang tiada pernah menyangkah jika Allah mengambil buah hati saya dengan begitu cepat. Namun Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya untuk bisa bertahan. Memang berat melepaskannya. Memang sedih ditinggalkannya. Memang akan terasa tidak rela. Tapi dikala kita kembalikan kesadaran bahwa itu semua titipan, yang mengambil yang punya dan kita tidak punya hak untuk minta perpanjangan disaat yang punya sudah memutuskan. Maka bersabarlah dan terimalah dengan keridhoanNya. Allah punya rencana untuk kita yang telah dipersiapkanNya.

“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan(bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” ( Qs. Ath-Thalaq 15)

Saudaraku semua......
Siapkan diri kita dengan segala ketentuanNya atas kita, dan tempatkan diri kita dengan berserah diri hanya padaNya hingga yang terasa hanyalah keikhlasan karena Allah lah yang mengatur segalanya dan pasti semua terbaik buat kita.
Kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari, nanti malam ataupun sesaat lagi.... jadi berhati-hatilah....dan siaplah dengan segala kemungkinanNya.


Semoga bermanfaat.......