Selasa, 04 Desember 2007

Hatiku Sewot


Selepas sholat shubuh, berhamburan jamaah satu persatu meninggalkan masjid. Semalaman aku berdiam di masjid ini bersama yang lainnya. Demi mengikuti rangkaian acara pendekatan diri pada Sang Khaliq, kami tinggalkan kasur empuk milik kami yang merengek – rengek memanggil. Tapi kami hanya tersenyum memandanginya.

Lumayan banyak yang ikut baik dari kalangan wanita ataupun laki-lakinya. Berjubah lebar pakaian yang digunakan sebagian besar wanitanya sebagaimana mestinya muslimah berbusana. Terlihat nuansa islami dengan saling bersalam-salaman dan menempelkan kedua pipi bentuk keakraban diantara kami. Sedangkan yang pria pun tidak kalah dengan baju gamisnya yang membuat sejuk di pandangan mata.

Tampak sebagian yang datang berkelompok membuat lingkaran tersendiri dan membaca Kitab Suci dengan saling menyimak. Kami semalaman tenggelam dalam khusyuknya beribadah demi mencari Ridho dan Cinta dari yang Maha Cinta. Berbagai sholat sunnah kami dirikan secara berjamaah. Hanyut dalam lantunan doa. Merangkai ranting-ranting keyakinan dan kepasrahan tuk kuatkan rasa Cinta pada Sang Kekasih yang Hakiki. Hingga malampun berganti pagi.

“Dik, pulang duluan ya.. Semoga kita bisa bertemu lagi” mbak Etik, wanita yang baru kukenal semalam mengulurkan tangan berpamitan.
“ Silahkan mbak… InsyaAllah… hati-hati dijalan mbak, masih gelap” sahutku sambil menyambut erat uluran tanganya.
“Iya terimakasih…kamu masih tinggal ta?”
“ Hehehe…pinginnya sekalian nunggu dhuha mbak. InsyaAllah…”Jawabku dengan melempar senyum pada mbak Etik yang sudah bangkit berdiri.
“Ya sudah…saya duluan. Assalamu’alaikum….”
“ Wa’alaikumsalam warahmatullahiwabarakhatuu…”

Kulihat yang lain menyusul meninggalkanku yang masih asyik berdiam diri diatas hamparan karpet bergambar masjid berjajar membentuk shaf-shaf. Tampak juga olehku sekelompok muslimah yang sejak datang semalam sedikit menarik perhatianku demi melihat keakraban dan kehangatan diantara mereka. Sepertinya mereka sangat dekat sekali. Mungkin mereka dari satu tempat pengajian atau organisasi tertentu. Mungkin.

Bergulir waktu tanpa terasa sang mentari pagi pun terbangun terusik dengan riuh suara burung yang bernyanyi sambil menari-nari diatas kubah masjid.
Selesai sholat dhuha, kurapikan mukenah dan kumasukan dalam tas tenteng. Segera aku beranjak hendak meninggalkan masjid yang penuh dengan kenangan indah. Kuletakan kembali meja lipat yang semalam kuambil dari tempatnya. Sejenak kurapikan yang sedikit berantakan dalam tumpukan.

Kulangkahkan kakiku menuju pintu masjid. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan pemandangan yang ada saat mataku menebarkan pandangan ke sekeliling ruang masjid tempat jamaah wanita yang baru kami gunakan semalaman. Banyak kutemukan meja lipat tergeletak begitu saja. Kitab Suci pun masih betengger di tempat-tempat yang bukan semestinya. Yaa…masih tertinggal di tempat para jamaah yang menggunakannya semalam. Padahal pihak takmir sudah mengingatkan lebih dari satu kali untuk mengembalikan di tempatnya semula setelah menggunakannya. Tapi yang terjadi… banyak yang masih berserakan. Bahkan kutemukan juga kantong plastik, botol kosong, kertas, atau tissue. MasyaAllah…..

Ya Allah…kok begini sih? Kok mereka tinggalin begitu saja?Mana tanggungjawabnya? Sebegitunya…ya Allah…hatiku bergeming. Kuletakan lagi tasku di tepi pilar. Lalu kucoba merapikan meja lipat dan kitab suci yang berserakan dengan mengembalikannya di rak-rak yang ada. Kupungut juga botol air minum, plastik, tissue,kertas dan sebagainya yang terlihat mengotori.
Kucoba menenangkan hatiku yang terus bergemuruh. Tapi aku tak mampu. Begitu keras celotehnya hingga menggetarkan jiwaku…

Ya Allah…mengapa begini? Bukankah semalaman kami disini mencari ridho dan cintaMu. Kami mengaji membaca kitabMu, kami mendirikan sholat untuk bermi’raj kepadaMu. Kami bertafakur untuk mengoreksi kebodohan dan kesalahan kami. Tapi mengapa masih begini?
Wahai saudariku sesama muslimah, bukankah ini rumah Allah? Lalu mengapa engkau tinggalkan sampah di dalamnya? Bukankah bersih dan rapi itu sifatNya? Lalu mengapa setelah engkau memakai meja lipat dan kitab suci, engkau tinggalkan begitu saja ?Siapa yang kamu harapkan untuk membersihkan dan merapikannya? Apa karena sudah ada tukang bersih-bersih sehingga dengan seenaknya kamu meninggalkannya begitu saja? Apa karena kamu merasa sudah memasukan lembaran rupiah kedalam kotak amal sehingga itu sudah berarti engkaupun telah membayarnya? Mengapa kita menjadi beban bukan malah membantu meringankan?

Wahai saudariku, bukankah kita semalaman mencari ridho dan cintaNya? Lalu mengapa kini kita melakukan yang berlawanan dari sifatNya? Bagaimana kita bisa berbuat baik di luar sana sedang masih di dalam rumahNya kita sudah tidak beretika? Bagaimana kita mengharapkan Allah menganugerahkan yang lebih besar, sedang yang kecil begini luput dari perhatian kita? Apakah menurutmu ini sepeleh sehingga kamu menyepelehkannya? Bukankah Rosul mengatakan bahwa hakekat beragama adalah ahlaqul karimah? Lalu bagaimana dengan ahlaq kita yang masih seperti ini?

Wahai saudariku, Bukankah setiap apa yang kita lakukan akan diminta pertanggungjawabannya kelak dihadapanNya? Sekecil apapun itu. Lalu apa yang akan kita jawab dari kelalaian kita ini? Ya Allah…Tuhan yang maha pengampun, ampuni dosa dan kelalaian kami ya Allah…

Keras sekali suara hati ini berceloteh dalam rintihannya. Kucoba melepaskannya. Berat, namun terus kulepaskan. Kukembalikan semua pada Allah yang menguasai tiap-tiap peristiwa yang terjadi. Tiba-tiba kurasakan hatiku berbisik …

“ Sudahlah fit, kamu jangan sewot begitu. Ini semua kan bisa jadi jalan kamu berbuat baik dengan turut membersihakan rumah Allah. Kalau tidak begini mana mungkin kamu bersih-bersih. Tenangkan hatimu, yang penting kamu hati-hati dengan setiap apa yang kamu lakukan. Jangan sampai hal semacam ini kamu turut melakukannya. Kamu tahu satu hal dari keburukan, maka jaga dirimu dari keburukan itu. Turutlah membersihkan, memperbaiki jangan turut merusak dan mengotori.“

Ups!!…iya-ya…mengapa aku jadi sewot begini. Hehehe… Hmm Ya Allah…semoga Engkau senantiasa membimbing dan menjaga diriku dari kebodohanku.…harap hatiku yang diiringi cerah suasana di pagi hari ini.

*****

Wanita Mabuk

Kususuri jalan raya yang masih sepi di pagi yang cerah itu. Dengan mengendarai motor bututku, kucoba menikmati kesejukan udara yang mengikuti disetiap perjalanan kami. Yuli melingkarkan tangannya di pinggangku dengan erat. Sesekali ocehan kami mengisi ruang-ruang kosong di pagi yang masih belum begitu bising. Maklum, hari ini minggu, jadi sebagian besar penghuni kota ini lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah dengan keluarga dari setelah enam hari sudah mereka ditinggalkan untuk bekerja.

Melihat jarum penunjuk bensin berada di bawah, maka kumasuki SPBU yang berada di sebelah kanan jalan. Yuli turun dari boncenganku dan menunggu di tepi lain areal pengisian bensin. Kali ini tidak begitu ngantri jadi dengan mudah kudekatkan motorku pada petugas pengisi bensin. Di tengah kami mengisi bensin, kami dikejutkan dengan kegaduhan orang-orang di samping kamar kecil yang terletak di pojok. Terlihat seorang wanita digendong oleh seorang pemuda keluar dari kamar kecil tersebut. Badannya limbung begitu pemuda itu mencoba memberdirikannya. Hingga akhirnya si pemuda membopong lagi wanita itu untuk dibawa masuk ke dalam taxi yang pada saat itu baru saja di panggil orang-orang sekitar. Dengan memakai rok mininya, terlihat bagian-bagian tubuh wanita itu saat di bopong sang pemuda. Sungguh pemandangan yang ngiris di hati kami.

Kaget campur penasaran mata kami yang melihat dari kejauhan mengikuti adegan yang tidak terjadi di setiap harinya. Setelah pintu taxi di tutup dan mulai berjalan, si pemuda mengikuti dari belakang dengan mengendarai motor. Namun selang beberapa meter taxi berhenti, dan terlihat wanita itu keluar dan duduk di tepi jalan sambil bertiak memanggil si pemuda. Sepertinya dia takut jika di tinggalkan sendirian oleh si pemuda itu. Kemudian pemuda itu mencoba memberi penjelasan bahwa dia mengikuti dari belakang. Lumayan lama si pemuda itu untuk meyakinkan wanita tersebut yang akhirnya didapatkan si wanita menyetujui untuk naik taxi sedangkan si pemuda mengikuti dari belakang. Dan taxi itupun merambat lagi meninggalkan kami yang seperti terhipnotis dalam hitungan menit yang berlalu.
“ Ada apa ya mas..?” tanyaku pada petugas
“ Biasa mbak, mabuk.!”
“ Astaqfirullahal a'dhiim....” sahutku sambil meninggalkan petugas pengisi bensin yang mulai sibuk dengan orang-orang yang sudah berada di barisan belakangku.
Kuhampiri Yuli yang sudah menunggu sedari tadi. Sepertinya dia juga menikmati pemandangan pagi itu tanpa melewatkan adegan wanita dan si pemuda barusan. Bibirnya nyengir memberi tanda kengirisan hatinya dari tingkah wanita tadi.

Kami melanjutkan perjalanan dengan masih tercekap kebisuan dalam alam pikiran masing-masing mengenang peristiwa yang baru saja kami saksikan. Wanita cantik yang mabuk hingga membuat semua mata tertuju padanya. Tiba-tiba rasa sedih menyapaku tanpa permisi terlebih dahulu.
“ Kasihan ya Yul, wanita itu..” kulempar juga akhirnya kata-kata itu
“ Orang mabuk kok dikasihani, ya biarin. Malu-maluin”
“ Jangan gitu Yul, dia itu perlu kita kasihani. Dia seperti itu sebenarnya kan juga bukan kemauannya.”
“ Lho..! lantas kemauan siapa? Lha wong dia yang mabuk kok. Ya jelas dia yang salah”

“ Iya...dia salah kalau kita lihat dari sisi kesalahannya. Tapi tidak bisa ku pungkiri hati kecilku yang ingin memberi rasa kasihan padanya. Sekarang coba kamu pahami.... mana ada orang yang pingin jadi orang yang gak bener. Emang ada? Enggak ada Yul. Di dunia ini sebenarnya semua manusia itu pinginnya jadi orang baik,.. Kalau gak percaya, coba kamu tanyakan sama perampok sana...apa dia dulu cita-citanya jadi perampok? Pasti jawabnya tidak.” suaraku mulai lebih keras untuk mengimbangi deru kendaraan yang mulai ramai mengisi jalanan.

“ Tapi tiap manusia itu kan bisa menentukan pilihannya dalam hidup ini. Apa dia mau jadi baik atau jelek. Lha kalau pilihannya jelek kan jadinya juga jelek. Kalau pilihannya baik jadinya juga pasti baik.”

“ Iyaa...kamu benar. Tapi jika kita memandang orang dengan cara pandangmu seperti itu, yang ada nanti kita akan selalu menyalahkan orang. Apa kita lupa bahwa kita ini hanya seorang hamba Allah yang notabenenya jelas Lahaulawalahuata ilabillah . Coba kita ganti sudut pandang kita dari sisi seorang hamba. Simpati atas dasar sesama hamba. Kan sama kita dengan wanita tadi. Sama-sama mahluk Allah dalam wujud manusia. Cuma bedanya, kita mendapat pertolongan dari Allah hingga kita bisa menang melawan nafsu kita sehingga tidak terjerat oleh kemaksiatan. Sedangkan wanita itu kalah dengan nafsunya. Dia tidak mendapatkan pertolongan dari Allah. Kan kasihan... karena itu kita ini mesti banyak bersyukur tidak sampai begitu. Alhamdulillah Yul....dan jangan juga sombong. Karena amal baik kita juga atas anugerah Allah. Bukan kemampuan kita. ”

“ Lha mengapa dia tidak minta tolong sama Allah biar selamat. Kan salahnya juga kenapa tidak berusaha.”
“ Lho... kamu juga kan belum tau latar belakang dari wanita itu. Dan Allah membuat keadaan demikian juga pasti ada manfaatnya. Sekarang coba bayangkan, kalau semua orang ini baik semua. Tentu istilah baik sudah ilang. Karena enggak ada pasangannya. Ada keburukan pasti ada kebaikan. Seperti wanita itu tadi sebenarnya kan jadi tugas kita untuk mengingatkannya. Tinggal nanti ada hidayah atau tidak ya....apa kata Allah. Itu sudah di luar urusan kita. Tugas kita hanya menyampaikan dan menunjukan kebenaran.”

Kuhentikan ocehanku diiringi berhentinya motor kami melihat lampu merah di perempatan jalan pusat kota yang mulai ramai dengan asap knalpot baik dari roda dua maupun roda empat. Di sisi kanan jalan terlihat anak penjaja koran menawarkan dagangannya sedang menghampiri para pengendara yang berhenti. Dalam hitungan detik lampu merah sudah berganti dengan warna kuning dan diikuti warna hijau. Kamipun melanjutkan perjalanan. Membela hiruk pikuknya orang-orang yang sudah lalu lalang.

“ Lha wong kenal aja tidak kok jadi tugas kita sih fit... kamu itu bagaimana. ya....tugas bapak ibunya donk....” Yuli menyambung bahasan kami.
“ Maksudku itu bukan wanita itu pastinya. Tapi saat orang-orang sekitar kita jika ada yang kita tau tidak benar, itulah tugas kita untuk mengingatkan. Wanita itu ya...biar diurus lingkungannya sendiri.”
“ Ee...belok kiri non...” Yuli mengingatkanku

Cepat-cepat kubanting setir arah kiri dengan mendadak. Untung di belakang kami tidak begitu ramai pengendara lainnya. Coba kalau ada pasti kami sudah tertabrak.
“ Hehehe....iyaa...jadi lupa jalan nih. Sudah, kamu gimana? Masih menyalahkan wanita itu? Masa enggak kasihan blas. Kasihan...dia tidak bisa memenangkan pertempuran dalam batinnya hingga yang menang setan yang selalu menyesatkan.” sambungku.

“ Ya....kalau dipikir seperti yang kamu sampaikan itu sih.. emang..jadi kasihan juga. Ngeri kalau sampai nafsu kita yang lebih berkuasa. Pasti raja setan merasa merdeka dan tepuk tangan seneng banget.”
“ Makanya jika melihat orang yang berbuat keburukan, jangan membencinya. Malah kita rangkul penuh kelembutan dan kasih sayang. Islam kan Rahmatan lil a'lamiin. Kita bantu mereka menemukan kebenaran. Baik dengan nasehat, atau apa saja yang bisa kita upayakan. Setidaknya dengan doa yang bisa kita berikan. Doa kan gratis.”
“ iya...iya bu nyai... tapi sambil lihat jalannya ya....nanti salah arah lagi. Kebanyakan mikir wanita tadi sih...” sela Yuli mengingatkan karena kami sudah dekat dengan tujuan.
“ Hehehe....” sahutku sekenanya.

Tiba-tiba adegan wanita mabuk di POM bensin itu membayang lagi di benakku. Mulai dia dipapah masuk ke kamar kecil hingga di gendong masuk taxi dan keluar lagi duduk di tepi jalan, dan akhirnya masuk ke dalam taxi dan berlalu begitu saja. Masih lekat wajah cantik dengan kepucatan wajahnya saat menahan pusing dan mual yang mungkin mengaduk-aduk perutnya. Sebenarnya peristiwa itu terjadi hanya sebentar saja di hadapan kami. Jika di kisarkan tidak lebih dari 15 menit. Tapi dalam waktu yang singkat itu mampu menggetarkan hati kami yang menyaksikan. Rasa kasihan datang lagi menyapaku. Sedih tiba-tiba juga sudah menjadi teman dalam hati. Hingga yang ada akhirnya untaian do'a yang kucoba panjatkan

Ya Allah....Tuhan yang penuh kasih
Kasihanilah wanita mabuk tadi ya Allah...
Dengan luasnya ampunanMu, ampunilah dosa-dosanya

Sungguh ya Allah.... dia tidak akan mampu melawan dirinya sendiri
Dia tidak akan sanggup melawan setan yang selalu berbisik dihatinya
Tanpa Engkau memberi pertolongan baginya.

Selamatkan dia ya Allah.....jaga dia ya Allah....
Dia juga hambaMu yang tidak berdaya sebagaimana diriku...
Hanya Engkau yang berkuasa membuka dan menutup hati tiap-tiap anak manusia.

Bukalah hatinya untuk bisa melihat kebenaran
Dan beri kekuatan dia untuk berjalan dalam kebenaranMu ya Allah
Dan bukalah hatinya untuk bisa melihat keburukan serta beri kekuatan dia untuk meninggalkannya.

Turunkan hidayah untuknya ya Rabb....
Ya Allah.....kami semua lemah tanpa pertolonganMu...kami lemah ya Allah...
Lahaulawalahuata ilabillah......


Tak tahan diriku dengan gemuruh di hati. Panas lalu basah sudah kedua bola mataku. Sedih mencoba menguasai hatiku, namun dengan sekuat tenaga kutahan untuk tidak berkelanjutan. Kutenangkan kembali hatiku dengan menyerahkan semuanya pada yang Maha berkuasa nan bijaksana. Allah pasti memberi yang terbaik bagi kami hamba-hambanya bisiku dalam hati dengan menyunggingkan senyuman. Kutarik nafas panjang untuk melepaskan pelukan rasa sedih. Lapang yang ada.

Di depan sebuah masjid yang berpagar warna hijau itu kami berhenti. Yuli turun dari boncenganku dan merapikan krudungnya. Ku parkir motorku di area parkir yang sudah disediakan. Lalu kami berjalan beriringan memasuki serambi masjid yang masih sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat sudah datang. Mungkin sebentar lagi yang lain akan datang. Lalu kami menggabungkan diri sambil menunggu pengajian yang sebentar lagi dimulai. Masih ada waktu 15 menit untuk istirahat. Akh....alhamdulillah, kami tidak terlambat.

****

Rabu, 28 November 2007

Nasehat Seorang Sahabat

Gemerisik daun yang saling bergesekan melalui jendela kamar yang terbuka lebar menyapaku begitu lembut. Pekatnya malam pun turut menerobos masuk menemani. Sedangkan sang angin kubiarkan memeluku mesrah dibawah sinar lampu kamar yang menatap tanpa enggan untuk berkedip.

Dihadapanku sebuah buku favorit sudah siap menunggu untuk ku baca ulang. Sudah ketujuh kali kubaca buku ini. Entahlah, sangat suka aku membacanya. Rasa nyaman mengaliri bilik-bilik kalbuku.

Tiba-tiba Hpku memanggil dengan nada singkat miliknya. Kutengok siapa gerangan yang kirim pesan di malam yang mulai larut ini. Ternyata Kang Sono, sahabatku yang tinggal jauh di luar kota menyapa dengan sebuah kalimat hikmah pencerah jiwa.
“Bila Allah Swt mencintai seorang hamba, Dia memberinya kesusahan yang banyak. Bila Allah Swt membencinya, dunia si hamba itu dileluasakan (Al-Dudhail bin Iyadh) iki fit.”
Tersenyum aku membacanya dengan tak lupa ucap syukur pada Allah yang telah mengirim Kang Sono untuk memberikan pencerahan di hati. Lalu aku membalasnya “ Alhamdulillah, terimakasih kang. Lalu, bagaimana jika ada orang yang ahli ibadah. Ibadahnya top banget, tapi juga cinta harta. Kasihan jg heran kalau lihat orang yang begitu. menurutmu bagaimana kang?”

Tanpa menunggu lama Kang Sono membalasnya “Cinta harta baik fit, tapi ki2r gak . Qt jg cinta harta nyatanya kerja, kemana2 bawa hp, fit kyai q itu ingin sesuatu kalau gak bagus dan mahal gak mau”
“Jadi boleh ya cinta harta? Terus kalau hartanya di ambil Allah misal melalui kecurian, dan dia sangat sedih karena cintanya diambil. Bgm? Emang boleh cinta selain Allah kang? Kan hati cuman 1. Dan Allah pencemburu, karena itu tidak mau disekutukan. Celakalah jika orang mengaku cinta Allah tapi masih menaruh hati pada yang laen. Bukannya Harta mesti di tangan, Allah yang di hati kang? Walahu'alam.” balasku.

“Hehe Fit, yang gak boleh itu harta masuk ke hati. Fit kamu mau gaji kamu dipotong tanpa sebab. Dan kerja gak dibayar?” balas Kang Sono. Kulihat jam di meja sudah menunjukan pukul 22.00. Kuurungkan niatku membaca buku. Kututup lalu kembali membalas sms kang Sono
“Lho yang namanya cinta itu ya di hati kang. Soal gaji dipotong tanpa sebab. Jika emang itu kehendak Allah, insyaAllah saya terima. Bukankah sebab itu datang dariNya dan akibat itu pemberianNya. Masalahnya 1, kemana kecenderungan kita melihatnya? Pada pemberian apa sang pemberi. Jika pada sang pemberi, disana tiada sedih, kecewa, atau marah. Wassalam.“ kucoba mengakhirinya karena kantuk mulai menyapa, dan pembaringan pun memanggil menawarkan diri.

Belum sempat aku beranjak untuk menutup jendela kamar, Hp melengking lagi. “Coba kamu pindah kerja dengan gaji sedikit kalau mau silahkan besok pagi kamu pindah, itu artinya gak cinta harta gak usah pakai alasan itu yang dilakukan robi'ah”

Belum sempat juga kubalas, sudah datang yang berikutnya “Kalau bisa kamu kerja tapi gajimu untuk fakir miskin itu yang dilakukan ibrahim bin adam. Kalau berani lakukan silahkan.”

Dengan menahan kantuk kucoba membalasnya “Hehe...ngapain pindah jika itu nurutin nafsu. Allah yang menempatkan bukan aku, kamu atau siapa. Allah yang memberikan garisNya atas kehendakNya. Robi'ah dalam garisNya tidak menikah. Apa aku juga mesti begitu? Jika kita masih meniru dari luar bukan menyambut dari dalam diri, hati2, itu mungkin nafsu kita bukan kemauanNya. Uda ya.mau tidur nih. Maaf lahir batin jika ada salah dan suwun. InsyaAllah kapan2 saya pingin maen kesana. Kenalin ama nenek sufi itu ya. Salam sungkem untuk beliau. Wassalam:o)”

Kumatikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. Berat kepala dan mataku, segera hendak kubaringkan tubuhku tiba-tiba Hp bernyanyi lagi. Ternyata Kang Sono masih meneruskan “ Loh itu contoh, kalau bgtu kita gak usah contoh nabi. Kan kita baik. Atau shabat, buat apa to nabi udah gak ada. Kamu contoh walinya aja gak mau apa lagi ulama, apa kamu tunggu wahyu. Kaya nabi, apa malaikat jibril?”

Wah, jadi panjang nih. Salah paham bisa jadi...gemingku dalam hati. Akhirnya akupun membalasnya “Iya tentu kita meneladani beliau semua. Tapi ga hantam kromo gitu kang. Kekuatan hati tiap orang kan berbeda. Dan Allahlah yang menguasai hati tiap2 manusia. Wallahu'alam bi showab.”

Kurebahkan tubuhku. Sudah tak tahan dengan rasa kantuk yang menyelimuti. Kulihat jam yang bertengger di meja sudah menunjukan pukul 22.30. Kupanjatkan doa untuk menyerahkan hidup dan mati pada Allah Swt. Ingat sunnah Rosul dengan miring kekanan yang membuatku memiringkan tubuhku menghadap meja yang berada di sisi kanan pembaringan. Tiba-tiba Hp memanggilku lagi.

Kupaksakan diriku meraih dan membaca pesan yang ternyata masih dari Kang Sono.
“Fit katanya ingin praktek, ayo lakukan. Aku dulu kerja di perusahaan selama 3th. Aku keluar di kota bising banyak orang sibuk cari duit gak tahu siang dan malam cari duit terus sampai badan kurus patuh pada bos. Kalau gak mau takut di pecat katanya patuh hanya pada Allah, ya jadinya aku tanpa perintah bebas semau gua. Fit Aku kemarin ditawarin kerja di perusahaan oleh ka2ku yang kebetulan sebagai personalianya. Aku jawab enggak minat. Jangankan kerja, cewek aja gak kepikiran. Yang kutahu bahwa Allah itu ada. Jadi gak usah di akal atau rekayasa gitu. Dikatakan takut ogah. Katanya lek iso tumpak ono dunyo, ojo sampek di tumpaki dunyo.”

Subhanallah...Kang Sono kok jadi seru begini?. Akh...maaf kang saya sudah ngantuk banget. Kapan-kapan kita sambung lagi diskusinya...bisik dalam hatiku sendiri seolah-olah kang Sono pun mendengar bisikanku. Akupun terlelap.

Waktu subuh datang, segelintir orang yang diberi kekuatan olehNya untuk memenuhi panggilanNya kala itu juga. Ada yang terlambat tapi tetap datang menghadap. Tapi Ada juga yang ditutup mati hatinya hingga tak terdengar panggilanNya sama sekali. Semua dalam kuasaNya.

Begitu turun dari jamaah sholat subuh di masjid, kusapa Hp yang kurasakan semalam masih memanggil-manggil dan tidak sempat kuhiraukan lagi. Ternyata Kang Sono yang mengirimkan pesannya di pukul 00.54dini hari.
“Hihihihaha.. Fitri2 orang yang hati hanya ada Allah, maka ia tak akan menilai hati orang lain, wong ia mencintai harta itu yang menggerakan Allah, maka aku bilang baik. Berarti hati masih ada selainnya(ngrasani) berarti kamu merasa dirimu paling....di banding orang lain. Kadang orang yang kamu sangka itu jauh lebih baik darimu. Ini kata orang dulu orang yang menyangka biasanya yang melakukan ketimbang yang disangka. Amit q.”

Tersentak aku membacanya. Hingga kucoba membaca ulang lagi dengan pelan-pelan dan berharap Allah memberi kepahaman atas ilmuNya. Lalu ada sesuatu yang kurasakan masuk dalam hatiku. Berdiam disana dan menemaniku cukup lama. Menerawang pandanganku keluar jendela, lalu tertunduk, sedih, malu, takut, juga harap.

Ya Allah...ya Rabb
Betapa malunya hamba padaMu
Betapa bodohnya hamba di hadapanMu
Betapa lalainya hamba ini dengan kuasaMu


Ya Allah...ya Rabb
Mengapa hamba sibuk menilai hati hambaMu yang lain
Hingga lalai untuk menjaga hati hamba sendiri


Ya Allah...ya Rabb
Mengapa hamba merasa lebih baik dari yang lain
Sedangkan hamba tidak lebih baik dari seekor semut yang begitu berkasihsayang dengan sesamanya.


Ya Allah...
Mengapa hamba sibuk menilai orang lain
Sedangkan hamba sendiri tidak mengetahui bagaimana nilai hamba dihadapanMu.

Ya Allah....ya Rabb..
Leburkan rasa sombong dihati hamba
Lumatkan rasa bangga dihati hamba
Hancurkan rasa ujub yang bertengger di hati hamba
Kikis habis rasa riya di hati hamba
Baik yang samar maupun yang terang


Ya Allah...ya Rabb
Tuhan yang Ampunannya melebihi dosa hamba-hambaNya
Hamba datang dengan setumpuk dosa
Dengan luasnya ampunanMu, Ampunilah hamba
Dengan luasnya kasihMu, kasihilah hamba
Terimalah hamba kembali ya Allah....terimalah hamba....


Airmata telah jadi sahabat menemani dan menyejukan dadaku yang terbenam rasa sesal. Kuraih Hp lalu kubalas pesan Kang Sono “Astaqfirullahala'dhiim....terimakasih Kang. kamu da ingetin aq. Smg Allah mengampuni kebodohanku dan membuka hijab hingga mampu melihat bahwa tiada yang laen yang berbuat selain Allah. Tks ya kang.:o).”
Kuusap mataku yang masih tergenang. Kutatap mentari pagi yang tersenyum lembut penuh kasih. Hamparan kasih terbentang disana. Hamparan yang luas. Seluas RahmatNya yang tiada hingga tiada batas.....


****

Selasa, 13 November 2007

Mengingat-NYA

Mendung yang bergelayut di atap bumi turut menghantarkan kepulanganku dari kantor sore ini. Semilir angin menemani disetiap tapak kaki dan membisikan bait-bait cinta dari alam yang membentang dalam sandiwara kehidupan di dunia. Kulihat ibu telah menunggu dengan menyibukan diri bersama tanaman kesayangannya di teras rumah. Begitu banyak tananaman namun sedikit bunga yang bermekaran. Terlalu teduh dengan bangunan masjid yang kokoh berdiri telah menghalangi sinar matahari pagi untuk memberi nutrisi pada tanaman hingga tidak begitu banyak bunga yang dihasilkannya. Begitu suatu waktu ibu pernah memberi alasan padaku saat kutanyakan perihal itu.

“Assalamu'alaikum......ibuu..” kusampaikan salam sembari memasukan motor ke ruang teras.
“Wa'alaikumsalam.....” ibu menjawab dengan melayangkan senyum padaku. Ibu meletakan selang dan mematikan kran air lalu menghampiriku yang sibuk menempatkan motor.
“Alhamdulillah...nak. Terimakasih ya... tadi pagi sudah matikan kompor. Ibu lho sampai deg-degan gak karuan.” sambung ibu sembari menerima salim cium tangan dariku.
“Ooo...tadi pagi itu. Iyaa.. Ibu berangkat keburu-buru kenapa sih? Sampai lupa belum matiin kompor.” sahutku.

Pagi ini memang sudah masuk tanggal ibu ambil uang pensiun. Dan tadi pagi berangkat lebih awal sebelum aku berangkat karena mbonceng sama Hera. Saat turun dari kamar aroma masakan menyapaku begitu akrab hingga mengundangku untuk menengok dapur. Ternyata kutemukan si kompor masih menyala dengan gagah untuk panasin sayur. Syukurlah aku mengetahuinya, hingga bisa langsung kumatikan. Tidak kebayang juga semisal akupun terlewatkan dan meninggalkan rumah dalam keadaan kosong dengan api kompor yang biasanya bersahabat, mungkin bisa berubah pikiran menjadi jahat. Mengobrak abrik isi rumah dengan lahap. Weehhh.....bisa seru nih.

“Kamu tahu nak?! Ibu ingat kompor masih nyala itu waktu ibu dalam angkot. Rasanya jantung ibu mau copot. Ibu langsung turun ganti angkot arah balik.” ibu menyambung cerita yang rupanya masih anget dalam benak beliau.
“Ibu kok gak coba telepon Fitri untuk nanyain? Kan bisa dari wartel kalo ibu pas lagi gak bawa Hp.”
“Ibu lupa nomor hpmu nak. Poko'nya...ibu khawatir bener. Ibu dzikir sepanjang jalan. Istiqfar.....atau baca apa aja. Ya Allah...ya Allah... tolong rumah saya ya Allah...! Sampai orang-orang di angkot tanya ibu kenapa. Yaa...ibu jelasin lagi ninggalin kompor menyala. Ibu juga minta tolong pak supirnya untuk jalan lebih cepat.” cerita ibu dengan jiwa yang penuh.

Kami mengambil duduk di kursi teras rumah. Kusimak cerita ibu sembari melepas sepatu dan alas kaki. Sesekali aku tersenyum melihat gaya ibu menceritakan serunya kejadian tadi pagi.
“Terus...?” pintaku yang tidak ingin ketinggalan alur cerita dalam penggalan seperti cerita-cerita sinetron di televisi.
“Begitu ibu sampai rumah langsung menuju dapur. Melihat kompor sudah mati, ibu langsung sujud syukur nak... ya Allah.... kaki ibu sampai gemeteran. Ibu takut gasnya meledak. Wahh...gak berani bayangin.”
“Hmm...Ck...ck..Ibu..ibu. Ya Allah...seru banget.” sahutku sambil nyengir sedikit menggoda ibu untuk mengkendorkan ketegangan yang telah terundang datang.
“Iya nak... lumayan lama ibu diam mengembalikan gelisanya hati ini. Kan sudah tua nak. Jadi kalau ada apa-apa gampang was-was.”
“Maaf bu, Kalau itu Fitri kurang setuju.”
“Lho!? Kan bener kalau sudah tua gampang kepikiran bikin hati was-was. Beda kalau masih muda. Kan masih kuat.”

Kuraih tangan ibu dan menggenggamnya erat-erat. Wajah ibu masih terlukis bias ketegangan dari cerita ulang kisah tadi pagi. Seolah-olah ibu mengulangi lagi perstiwa tadi pagi dengan detak jantung yang berpacu sedikit kencang. Mungkin karena terlalu semangat saat menceritakannya dan menjiwai. Sehingga saat ceritanya berlari, jantung turut berlari. Saat cerita bahagia, jantungpun berbunga. Apalagi kalau menceritakan hal yang mengharukan, pasti bawaannya terenyuh hingga tanpa dirasa air mata pun turut nimbrung.

“Bu...menurut Fitri, bukan dari tua mudanya. Kalau tua ato muda, itu yang membedakan hanya kekuatan Fisiknya saja yang lemah. Bukan kekuatan bathin atau jiwa. Semisal sama-sama mendapatkan masalah, jika yang tua jiwanya kuat dengan bersandar pada Allah, pasti dia kuat walau badannya ringkih. Sedangkan yang muda, kalau jiwanya lemah, tidak stabil maka gampang stres, putus asa, bisa jadi malah bunuh diri. Itu contoh dengan masalah yang sama dihadapi dua usia yang berbeda dengan kekuatan jiwa yang berbeda pula.” dengan nada yang pelan kucoba membuka pemahaman ibu.

Ibu tersenyum menanggalkan bias-bias ketegangan yang semula masih terlihat, kini mulai memudar digantikan bias ketenangan. Lalu kucoba meneruskan.
“Seperti tadi pagi, ibu mengetahui kompor belum mati. Ibu gelisa kan?. Padahal ibu juga berdzikir dengan membaca istiqfar dan yang lainnya. Padahal kalau dzikir itu kan mestinya hati ibu bisa tenang. Tapi ibu masih tegang terus.. berarti ada yang kurang beres dari dzikirnya.” kucoba memancing ibu untuk turut mengkoreksi.
“Iya..ya.? Mestinya kan tenang ya nak. Ibu masih belum bisa seperti itu. Ibu masih gampang resah dan was-was nak. Hmmm...bagaimana ya?”

“Dzikir itu kan mengingat Allah bu, dan ibu sudah mengingat Allah pada waktu itu. Tapi masalahnya ibu hanya mengingat namaNya saja.”
“Ibu bingung nak...? Maksudnya bagaimana?” tanya ibu dengan tatap harap untuk kuteruskan. Kini ibu yang mengenggam tanganku. Sesekali tanganku ditarik sebagai tanda ibu meminta aku meneruskan. Ibu memang paling senang kalau mendengar aku mengoceh masalah keimanan atau hal yang berbau agama. Beliau sangat memperhatikan dengan seksama. Kadang aku merasa risih sekaligus geli melihatnya.

“Begini... disaat kita ingat Allah dan menyebutnya, mestinya kita iringi dengan kepahaman kita akan sifat dan perbuatanNya. Ibu ingat Allah... lalu Allah yang bagaimana?! Bukankah Allah itu maha pengasih, maha memberi, maha kuasa, maha menenukan dan maha segala-galanya. Bukankah tidak ada satu hal sekecil apapun yang terjadi itu diluar kehendak dan kuasa Allah? Dan bukankah Allah selalu memberi yang terbaik buat kita?” jelasku yang kadang kelewatan cepat ngomongnya.
“Hmm...cepetnya kalau ngomong. Sini tak kasih cabe merah kaya' mbak Titik biar ngomongnya pelan-pelan. Hehehe... mulai ngerti sih... tapi kurang jelas nak.” sahut ibu dengan tersenyum lebar sambil membebaskan tanganku.

“Tadi ibu ingat Allah. Kan Allah maha mengabulkan do'a, dan ibu sudah berdoa minta tolong kan... Dan bukankah untuk hasilnya kita serahkan sama Allah. Hati mestinya digantungkan pada ALLAH. Ibu juga mestinya ingat, bahwa Allah itu Maha berkehendak. Jika Allah menghendaki rumah ini kebakar, meski ibu upaya bagaimana juga pasti kebakar. Meski ibu ada didalam rumah. Meski ibu terjaga. Pasti Allah buat jalan untuk bisa terbakar. Dan pasti bisa. Namun jika Allah menghendaki rumah ini tidak terbakar, meski ibu tinggalin dalam keadaan bagaimanapun juga, Allah tetap akan menjaganya dengan jalanNya juga. Allah yang mengatur segalanya bu. Dan apapun itu, pasti yang terbaik buat ibu menurut Allah. Itulah pemberian Allah. Nah.... mestinya hati ibu kan bisa tenang kalau semua yang terjadi itu yang terbaik buat ibu dari ALLAH. Gak usah gusar.” Jelasku panjang lebar. Kurasakan kerongkongan begitu kering seperti sedang menempuh jalan yang begitu panjang dan kelelahan.

“Jadi maksudmu ,tadi ibu gak usah balik pulang ya nak? Diserahin sama Allah. Gitu?”tanya ibu mencari lebih jelas dalam menentukan sikap.
“Lho...?! balik pulang itu kan ikhtiar ibu. Jadi ya ga pa-pa. Tapi kembalinya ibu kerumah mesti diiringi dengan hati yang tenang. Kaki tetap melangkah, hati tetap bersama Allah. Diserahin semuanya sama ALLAH. Masa' gak percaya sama ALLAH? Dan hati-hati dengan gelisah atau was-was. Karena Gelisah dan was-was itu salah satu pintunya setan lho bu. Nti pasti dikipasin ama setan. Buntutnya pikiran jadi ruwet dan berujung stress. Tuhh kan..!!” jawabku sambil beranjak berdiri yang diikuti oleh ibu. Kamipun masuk ke dalam rumah.

“Sebenarnya intinya cuman satu bu..” dengan mengambil air minum kucoba meneruskan.
“Apa nak?”
“Yakin bahwa yang terjadi itu Allah yang mengatur dan yakin bahwa Allah pasti memberi yang terbaik buat kita. Sudah kita yakini itu aja. Dan kita sambut setiap pemberian Allah dengan syukur. Beres deh. Hehehehe.... Fitri kaya' kepinteren aja ya bu? Maaf lho bu, Fitri gak bermaksud apa-apa. Sekedar mengingatkan, sekalian ngingetin diri sendiri juga.. Dan itu semua kan teori. Prakteknya emang gak gampang, kecuali mereka yang mendapat pertolongan Allah.. Fitri sendiri juga masih belajar. Ibu ingetin Fitri juga ya.... kalau pas Fitrinya mbleot... Semoga aja Allah memberi kekuatan dan senantiasa membimbing kita ya Bu... ”

“Amien......Ibu itu lho tambah seneng kalau ada yang mengingatkan. Ibu jadi bisa ngerti. Alhamdulillah...Allah sudah kirim Fitri untuk nemenin ibu. Ibu sangat seneng sekali. Bisa nambah keimanan ibu. Kamu jangan jauh-jauh dari ibu ya nak....” kaca-kaca bening di bola mata ibu berkilatan memancarkan haru yang menyembul dari rasa syukur beliau. Sekali lagi beliau meraih tanganku dalam senyum penuh rasa yang aku sulit mengartikan. Haru, bahagia, syukur, sedih, dan kilatan-kilatan rasa lainnya membuat hatiku turut bergidik.

“Akh....jangan berlebihan begitu bu... gak baik. Fitri kan cuman Fitri. Yang suka ngerepotin ibu. Suka godain ibu. Manjanya minta ampun. Masih minta dulang lagi.” ocehku dengan memonyongkan bibir sambil melipat-lipat ujung baju tertunduk malu-malu mencoba buat ibu tertawa melepaskan ikatan rasa.
“Hahahahaha......” tawa kami akhirnya semburat memenuhi ruang tengah dengan aneka warna-warni rasa hati kami.

Kuteguk air dalam gelas yang berada dalam genggamanku. Air mengalir membasahi kerongkongan yang begitu kering. Hawa sejuk menyusuri tubuhku. Oo...Tuhan, inikah sebagian nikmat yang telah Engkau berikan atas diriku yang lemah dan tak bedaya?? Diri yang masih banyak dalam kebodohan dan kelalaian. Ya Allah.... Ampuni dosa hamba Dan Terimaksih atas nikmatMu...terimakasih.

******

Satu Rakaat Dua Putaran

Mas Andik tetangga sebelah rumah bertandang maen ke rumah. Kami bercengkrama di ruang tamu. Biasanya mas Andik akan banyak bercerita soal sejarah Islam ataupun sejarah para nabi. Mas Andik memang suka sekali dengan sejarah ataupun kisah para sahabat nabi atupun ulama terkenal. Kalau sudah cerita begitu aku mendengarkannya dengan seksama. Takut gak ngeh karena aku sendiri tidak begitu menyukai pelajaran sejarah. Waktu sekolah dulu aku sukanya sama matematika. Paling getol kalau urusan angka-angka. Ada rasa penasaran disana. Dari penasaran itulah yang membuatku lebih cenderung memilih bidang matematika. Kalau sekarang sih sudah males pusing-pusing.

“Mas, kamu kan uda beli bukunya Agus Mustofa sampai delapan buku. Udah baca semua?” tanyaku memecah heningnya malam.
“Ya..belum semua Fit. Lagian itu kan bukan bukuku semuanya. Itu buku orang satu rumah. Kami patungan. Masing-masing beli dua dengan judul yang berbeda. Jadi kami bisa tukeran.”
“Oo...gitu. Dari yang aku baca nih mas, disebutkan bahwa semua ciptaan Allah ini ternyata berputar lho. Mulai dari yang besar seperti bumi kita ini berputar dalam porosnya dan mengelilingi matahari hingga membentuk galaxy. Dan dari galaxy berputar lagi mengelilingi yang lebih besar lagi super clueser. Begitu sampai tak terhingga. Sedangkan kalau dari yang terkecil atom dan inti atom, semua berputar. Dan semua berputar secara seimbang. Subhanallah...hebat ya mas?” ocehku.

“Iya hebat.... yang bikin itu semua siapa?! Kan Allah. Dan memang ternyata tidak ada yang diam di alam ini. Benda-benda padat aja, yang kita lihat sepertinya diam, tapi sesungguhnya mereka juga bergerak. Semua bergerak berputar walau tanpa kita sadari. Bumi yang kita pijak ini saja kan berputar dan kita tidak menyadarinya. Sepertinya yang berputar matahari mengelilingi kita. Padahal kita yang mengelilingi matahari. Lucu ya... seperti itu kalau kita dalam kebodohan dan tidak mengetahui kebenarannya. Pasti kita akan terkungkung dengan pengetahuan kita yang dangkal. Bersyukur Allah menunjukannya melalui para ilmuwan.” balas mas Andik melengkapi.

“Dan mas Andik tahu enggak, kalau sholat kita itu juga sebenarnya membentuk gerakan berputar. Satu rakaatnya dua kali putaran lho mas.”
“Masa sih...? kalau ini aku yang belum dengar Fit.”
“Dulu waktu pengajian ataupun pas ikut satu pelatihan aku dapatkan katanya satu kali rakaat itu satu kali putaran. Saat dijelaskan, aku gak mudeng-mudeng. Sampai selepas latihan coba nanya sama temen, dijelaskan juga gak ngerti. Masih gak jelas dan gak faham. Sampai saya itu mikir. Kok Oon banget yo aku ini.. dijelasin banyak orang tapi kok gak ngerti-ngerti. Akhirnya aku nyoba hitung sendiri. Lho...malah ketemu satu rakaatnya dua kali putaran.”

“Coba jelasin, aku biar ngerti.” selah mas Andik.
“Sebentar aku ambil kertas ama bolpoint.” sahutku sembari bangkit masuk mengambil bolpoint dan selembar kertas buram. Lalu kuletakan di atas meja.

“Sekarang mas Andik yang nulis, Fitri yang jelasin ya...biar nanti ketemu hasilnya. Ingetin juga kalau Fitri salah. ”
“Ok...”
“Mulai dari posisi berdiri kita ruku, disini berapa derajat? Sembilan puluh kan? Tulis mas sembilan puluh.” jelasku sambil menggerakan tangan agar lebih mudah dipahami.
“ Iya..”
“Kemudian dari ruku kita berdiri lagi kan? Ini juga sembilan puluh derajat. Tulis mas..nanti terakhir ditambahkan.”
“ Iya..”
“Kemudian dari berdiri kita melakukan sujud. Itu berapa derajat? Seratus tiga puluh lima derajat kan. Bener gak..?? kalau salah bilang. Fitri juga sambil inget-inget takut salah nih.”
“Iyaa... bener seratus tiga puluh lima derajat. Kan sembilan puluh ditambah empat puluh lima. Sudah tak tulis..”

“Terus dari sujud kita duduk berarti keposisi tegak lagi. Itu berapa derajat? Seratus tiga puluh lima derajat lagi kan. Tambah lagi ya..
Kemudian dari duduk kita sujud lagi kan? Berarti sama seratus tiga puluh lima derajat lagi. Tulis mas...jangan kelewatan. Nti ngulangi lagi kalau kelewatan..”
“ Iya...iya.. ini juga sudah ditulis dari tadi. “Sahut mas Andik sembari geleng-geleng melihat cerewetku.
“Nah...yang terakhir dari sujud kita berdiri lagi atau pun duduk dalam artian ke posisi tegak lagi. Ini sama juga seratus tiga puluh lima derajat. Wiss... lengkap. Coba sekarang ditotal semuanya mas. Ketemu berapa?”
“Sembilan puluh dua kali, ditambah seratus tiga puluh limanya empat kali. Hmm....sebentar fiit.”
“Berapa..?”

“ Ketemunya tujuh ratus dua puluh.” jawab mas Andik kemudian menatapku bingung dan menunggu. Aku tersenyum kemudian turut membukuk menekuni kertas buram di depannya.
“Satu putaran itu berapa derajat mas?”
“Tiga ratus enampuluh derajat.”
“Nahh...kan tinggal bagi aja hasilnya tadi. Berarti tujuh ratus dua puluh dibagi tiga ratus enam puluh sama dengan dua. Berarti kan dua kali putaran.” Jelasku sambil tersenyum.

“Hmm.. bener!. Dua kali putaran. Subhanallah.... ternyata sholatpun kita berputar ya...”
“Iya mas... semua berputar tidak ada yang diam. Jika kita diam, maka kita akan tertabrak. Atau jika kita melawan arus putaran....wahh....bisa berabe.” sahutku sambil mengambil makanan kecil yang kusuguhkan.
“Tidak ada yang tidak berputar. Subhanallah...” Mas Andik meneruskan dalam keterkesimahannya.

Berlanjut obrolan kami kesana kemari seakan mengikuti tiupan angin malam yang berputar dalam garis-garis yang telah ditentukanNya, Tanda-tanda yang dibentangkan oleh Allah di sekitar dan didalam diri kita, yang hanya semata untuk kita mengimani keberADAanNya. KeberADAan yang Tunggal. Yang tiada yang lain selain DIA. Yang Maha besar, Maha Agung, Maha Indah, dan Maha segala-galanya...

Rabbana.... maakhalaqta haadaa baathila, subhaanaka faqinaa a'daabannar....
Ya Rabb...
Engkau pemilik segala kuasa dan kekuatan..
Engkau yang menciptakan kami dan yang mengatur kami
Ya Rabb...
Beri kekuatan kami untuk mengikuti putaran-putaran yang telah Engkau berikan atas kami
Jangan biarkan kami terlepas dan terplanting dari garisMu
Eratkan kami dengan berpegang pada TaliMu
Tali keimanam dan ketaqwaan padaMU
Ya Allah....
Kami berserahdiri dalam putaranMu....


******