Kubuka jendela kamar lalu kubiarkan angin malam menerpa wajahku. Hawa sejuk menyelinap dalam tubuhku yang kata kebanyakan orang sangat kurus. Padahal menurutku tidak kurus-kurus amat sih. Tapi ya...begitulah keadaannya.
Tiba-tiba Hpku bernyanyi, kubungkukan badan untuk meraihnya. Ternyata seorang teman lama menelepon.
“Assalmu'alaikum...” sapaku
“Wa'alaikumsalam...” jawab suara dari seberang
“Alhamdulillah....bagaimana kabar mb Ayu? Tumben nih ada acara telepon. Kangen ya...?” kataku menggoda.
“Iya dik...lama kita gak ngobrol. Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Anu dik, saya mau cuhat nih. Ganggu enggak ya?”
“Oohh... enggak kok mbak? Saya juga lagi nyantai. Ada apa mbak?”
“Begini, saya kok akhir-akhir ini merasa gak enak hati ya. Bawa'annya resah terus. Saya bingung mo ngapain. Saya buat sholat juga masih resah. Saya buat baca Al-Quran kok ya tetep aja. Rasanya kering gitu lho. Bagaimana ya saya seharusnya?”
“Sabar ya mbak.. resah itu sebenarnya sebagian dari panggilan Allah. Jika kita resah Itu berarti duduk hati kita di hadapan Allah masih kurang bener, Kurang pas. Jika boleh kita ambil contoh seperti orang lagi duduk sedangkan di tempat duduk kita terganjal sesuatu pasti kita tidak nyaman Ato kita duduknya miring-miring atau karena sempit tempatnya kita paksa pantat kita masuk, tentu rasanya enggak enak. Lalu kita akan coba mencari dan berusaha duduk yang pas dan enak. Tapi jika kita masih belum bisa membetulkan posisi duduk kita, kita pasti masih terus resah. Biasanya resah kita sering timbul dikarenakan kekecewaan kita dalam menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan harapan.” Jawabku panjang lebar.
“Kamu benar dik.... saya memang merasa kecewa. Saya merasa sudah berbuat baik, sholat, puasa, dan sebagainya. Tapi kok saya juga masih seperti ini.” keluh suara dari seberang yang terasa berat dengan beban yang dibawanya.
“Mbak, Semakin kita banyak mempunyai harapan-harapan, maka peluang kita kecewa juga akan semakin banyak. Apalagi harapan itu kita sandarkan pada selain Allah. Saya tau, mbak Ayu dekat dengan pak Ustad. Pasti mbak juga pernah menyandarkan harapan pada beliau. Kita merasa beliau dekat dengan Allah dan kitapun berharap beliau bisa menyampaikan hajat kita. ”
“lho..kok kamu ngerti dik?”
“Lha iya, wong saya sendiri pernah ngalami hal itu. Akhirnya saya malah di buat kecewa. Yaitu, karena salah letak duduk hati kita. Salah tempat yang semestinya kita duduk di hadapan Allah, malah kita duduk di hadapan mahluk. Dan satu hal yang perlu kita ingat mbak, bahwa harapan atau kehendak kita itu walaupun baik belum tentu sama dengan kehendak Allah. Dan baik menurut kita pun belum tentu baik menurut Allah kan? Jika suatu saat satu atau beberapa kehendak kita itu menjadi kenyataan dalam hidup kita itu sebenarnya hanya kebetulan saja kehendak kita sama dengan kehendak Allah. Dan jika di buat satu bentuk menang kalahnya kehendak kita dengan kehendak Allah, tentu yang menang adalah kehendak Allah. Dan yang penting kita harus tau, bahwa setiap pemberian Allah pada hambaNya itu pasti yang terbaik. Kita saja yang sering tidak meyakini dan kurang bersabar. Sakit memang, enggak enak memang, tapi itulah tempat kita untuk belajar mengenali kemauan Allah atas kita.
Belajar bersyukur mbak... saya juga masih belajar untuk itu. Karena saya membaca dalam Al-Quran bahwa jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmatNya atas kita. Gak usa jauh-jauh kita dalam menggali rasa syukur. Kita mulai dari yang ringan saja jika kita menyadarinya kita pasti mampu mensyukurinya.” jelasku sambil menggeser pantat yang sudah mulai terasa panas.
“Dari hal-hal yang ringan bagaimana maksudnya dik?”
“Ya...misalnya dengan tubuh yang sehat saja kita mampu bersyukur kalau kita mengingat orang-orang yang sedang sakit. Dikala kita makan, kita akan mampu mensyukurinya jika kita ingat banyak orang-orang yang tidak bisa makan. Lha wong kita bisa bernafas yang gratis ini saja kita mestinya bersyukur sehingga kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki yang masih buruk-buruk pada diri kita. Bersyukur dari apa saja yang telah di berikan Allah pada kita. Apalagi seperti mbak Ayu ini, banyak lho karunia nikmat yang telah Allah berikan. Ayoo...masak gak mau mengakui. Jangan kufur lho mbak...” kataku yang langsung menohok dadanya.
“Iya dik ya... Tapi kan saya juga sudah beribadah dengan baik. Saya sholat, puasa dan ibadah yang lainnya sebagai wujud syukur saya ” suara yang gemetar itu melakukan pembelaan.
“Mbak Ayu.... Jika kita dalam beramal ibadah masih melihat diri kita dengan kemampuan kita, itu berarti ada takabur dalam diri kita dan tidak ikhlas. Hati-hati lho mbak... kita sering merasa sudah beribadah, dan sudah sepantasnya kita meminta balasan pahala pada Allah dengan hajat-hajat kita kan. Padahal kita lupa bahwa untuk bisa berbuat amal ibadah itupun sebenarnya karunia dari Allah juga. Coba kita lihat jika seseorang itu tidak mendapatkan hidayah dari Allah, tentunya tidak akan mampu melakukan ibadah. Jangan kan sholat, wong tersenyum sama orang lain saja kita akan merasa berat. Yang membuka dan menutup hati itu Allah mbak... karena itu bersyukur kita termasuk hamba-hamba yang di berikan kekuatan untuk beribadah. Banyak lho mbak orang muslim tapi gak sholat. Mengapa? Karena mereka tidak mendapatkan hidayah. Hatinya tertutup. Kasihan kan mbak. Dan banyak saya temukan di Al-Qur'an Allah berfirman bahwa Barang siapa yang dib eri petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
Tuuhh...mbak, coba bayangkan kalau mbak Ayu dikehendaki Allah sesat. Ayoo bagaimana? Pasti ngeri kan.” Khotbaku meniru ulama-ulama kondang. Hening sejenak menyelimuti kami. Tidak ada suara dari seberang walau saya merasa telepon kami masih tersambung.
“ Hallo....mbak Ayu...kok diem? Jangan-jangan ketiduran nih. Hahahaha....” kelakarku memecahkan cermin kebekuan malam yang semakin larut. Kuarahkan pandanganku ke langit luas. Ternyata indah sekali malam ini. Bintang terlihat menari-nari dengan kerlipnya seakan memanggilku untuk turut merasakan indahnya keagungan ciptaan-Nya. Subhanallah.....
“Saya ini lagi mencoba mencerna dan memahami ulasanmu kok dik. Saya ini bener-bener pingin hati saya itu tenang.” sahut mbak Ayu.
“Yaa... Banyak dzikir aja mbak biar tenang, ”
“Sudah saya coba dik, tapi masih terasa kering. Atau cara dzikir saya yang salah ya..?”
“ Nah...ini yang seru...kita sering sudah merasa berdzikir tapi kok masih gak tenang. Padahal di Al-Qur'an menyebutkan Alaa bidzikrillahi tathmainnulqulub..Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram. Dzikir yang bagimana? Ini yang perlu kita bahas. Dari pelajaran-pelajaran yang saya dapat selama mengikuti pengajian ataupun membaca buku, saya mengambil satu kesimpulan untuk hal metode berdzikir ini. Pertama kita mesti tau bahwa nafas kita itu sangat berhubungan dekat dengan hati kita. Ternyata bernafas kita tanpa kita sadari telah menghubungkan antara otak dengan hati kita. Coba kita ingat. Mengapa kalau kita membaca Al-Qur'an kita dianjurkan membacanya dengan satu kali nafas. Jika berhenti di tengah kita harus mengulanginya. Ternyata pada saat itu kita sedang memasukan ayat-ayat yang kita baca itu ke dalam hati kita.Dan nafas yang lembutlah yang bisa membawa pesan-pesan yang kita bawa ke dalam hati kita. Nafas seperti orang tidur itu lho mbak.. Coba mbak Ayu rasakan. Nafas dengan pelan, halus dan rasakan saat menghembuskannya dengan dalam. Nah...saat itulah kita mesti memberi muatan-muatan yang positif untuk kita tanam dalam hati kita. Ini cara Dzikir yang menurut saya benar lho mbak. Jadi sampai masuk ke dalam hati. Mbak Ayu coba deh...gak usah kalimat panjang-panjang biar gak ribet. Coba begini mbak.. saat kita tarik nafas kita iringi dengan kata Huu...lalu saat menghembuskannya kita iringi dengan Allaah... pelaaan...dan rasakan dalam dada. InsyaAllah nanti bisa merasakan sensasi ketenangan dengan pola nafas kita. Dan hati kita yang letaknya di dada sebelah kiri akan terasa bergetar lembut. Wahh... nanti pasti hanya dengan nafas saja kita sudah bisa merasakan nikmat karunia-Nya mbak. Latihan mbak...di ulang-ulang sampai bisa. Bisa kan karena biasa. Hehehe. Jangan lupa iringi dengan doa mohon semoga diberi kekuatan oleh Allah.” paparku panjang lebar.
“Gitu ya... baiklah akan saya coba. Ya sudah dik, terimakasih banyak ya sudah mau menemani saya .Laen waktu insyaAllah saya maen kerumah.”
“ Sama-sama mbak, saya tunggu ya..”
“ Assalamu'alaikum..”
“ Wa'alikum salam...” kami mengakhiri pembicaraan. Telingaku terasa panas karena Hp yang terpakai lama akhirnya mengeluhkan penatnya.
Kulihat jam menunjukan pukul 22.10 menit. Kuraih daun jendela dan kututup rapat yang sebelumnya kusampaikan salam perpisahan dengan bulan dan bintang yang melihatku tersenyum. Akh....malam yang indah.Alhamdulillah...terimakasih ya Allah..atas semua karunia nikmatMu yang tidak bisa hamba sebutkan satu persatu.
Kurebahkan tubuhku diatas pembaringan bersiap-siap mengembalikan jiwa padaNya. BismikaAllahumma ahya wabismika amuut. ***%$&(Q#$(Selang beberapa hari mbak Ayu sms “ Ass.Dik, alhamdulillah sy bs mrskanny. Skrng sy lbh tenang. Trmkash y.Wass" " Alhamdulillah. Smg istqm 'Mk apbl km tlh mnylsaikn sholtm, ingtlah Allah d wkt brdri, du2k dn d wkt brbaring. (Qs.4.103)” balasku. Alhamdulillah, ternyata Allah menurunkan HidayahNya melalui rangkaian kalimatku. Terimakasih ya Allah...hamba telah Engkau jadikan jalan bagi kebaikan, bukan jalan kesesatan. Alhamdulillah....Lahaulawalahuata ilabillah
Sumber ( Cerpen Harian)
Bersihnya Hati
Pagar rumah yang terkunci rapat, terlihat seolah -olah tiada penghuninya di rumah besar itu. Ku buka tas bagian depan untuk mencari sebuah kunci yang kumaksud. Setelah membebaskan gembok dari ikatan pagar, kubuka lebar hingga motorku pun bisa memasuki teras rumah. Terdengar dari dalam pintu rumah berbunyi tanda penghuni rumah melepaskan kunci lalu membukanya.
“Assalamu'alaikum...” ku sampaikan salam
“Wa'alikumsalam.... Aduhh nak...! ibu hari ini dapat teguran dari Allah. Wahh... seru poko'nya. Memang kesalahan ibu ini nak” jawab ibu diiringi deretan cerita yang sepertinya sudah sedari tadi ditahan untuk disampaikan. Kuhampiri beliau lalu kucium tangannya. Lalu kami memasuki rumah dengan tangan kami yang belum terlepas.
“Emangnya ada apa bu...?” sahutku melepaskan tangan sambil menuju ruang tengah dan menjatuhkan tubuh ke sofa.
“Hp ibu hilang fit.”
“Lho..!! bukannya tadi pagi ada di meja ruang tamu? Fitri lihat lho bu..?”
“Iya...memang tadi di situ. Ibu lupa menaruhnya di kamar. Dan tadi itu ada seorang pengemis perempuan muda sambil gendong anaknya. Tapi ibu gak berani shuudon denganya. Masak dia... wong lihat wajahnya itu sepertinya gak mungkin kalau dia itu nak...!”
“Lha yang di rumah siapa saja?”
“Yaa...cuma ibu, mas Yuda, Eyang putri juga Eyang kakung. Kalau orang luar ya...cuma pengemis perempuan itu nak. Tapi masak itu ya..? Waktu pengemis itu datang sih yang dirumah cuma ada ibu dan Eyang putri. Dan lagian memang mencurigakan sih nak, pengemis itu langsung saja membuka pagar lalu duduk di depan pintu. Wong belum di suruh masuk juga sudah masuk. Habis itu ibu ambilkan minum untuk dia. Masak waktu itu ya dia nyelonong masuk ambil Hpnya? Tapi ibu gak berani berburuk sangka padanya.
Untuk hilangnya Hp sih ibu enggak terlalu menyesal. Enggak geton gitu lho nak. Ibu merasa itu teguran dari Allah karena seharian tadi ibu sibuk dengan tanaman Anggrek ibu, sampai lupa sholat Dhuha. Ibu enggak ingat sama sekali. Hp di situ juga enggak ingat. Baru tadi sore ibu habis sholat asyar ibu mau pakai telepon, baru ingat. Baru ketahuan ilangnya” Cerita ibu panjang lebar
“Kalau coba dihubungi bagaimana?”
“Sudah.......dicoba sama mas Yuda, tapi tidak aktif. Ini semua salah ibu. Sebenarnya ibu sudah ikhlaskan, tapi gak tau kok ya masi kepikiran.” kata ibu sambil membetulkan kacamatanya yang turun.
“Ini bisa dibilang teguran sekalian ujian buat ibu karena Allah sayang sama ibu..?”
“Lho kok bisa sih nak...gimana..gimana maksudnya?”
“Kalau dibilang teguran bisa, biar ibu jangan terlalu asyik dengan apa yang dikerjakan sehingga melupakan Allah. Bisa juga di bilang ujian demi meningkatkan kwalitas keimanan ibu, lalu dilihat bagaimana ibu dalam menghadapi kehilangan ini. Apa ibu marah, sedih, kecewa atau bagaimana? Dan saya lihat ibu tidak seperti itu. Jadi InsyaAllah Ibu nilainya bagus dech. Hehehe....selamat ya bu...”
“Oohh...gitu ya nak..Alhamdulillah..”
Kusandarkan punggunggku tuk hilangkan sedikit keletihan dari seharian sibuk di kantor.
“Ada sebuah riwayat bu yang pernah saya baca dari suatu buku. Ada seorang murid yang bercerita pada gurunya dengan penuh rasa kagum bahwa dia telah melihat orang sakti yang bisa berjalan di atas air. Sedangkan sang guru tidak terlihat kagum atau bagaimana. Lalu si murid bercerita lagi bahwa orang tersebut bisa terbang. Tapi sang guru tetap tidak menunjukan ekspresi yang terpukau. Lalu si murid dengan rasa penasarannya bertanya pada gurunya mengapa sang guru sama sekali tidak kagum atau sejenisnya.Sang gurupun menerangkan bahwa tiada pernah heran melihat orang yang berjalan di atas air karena ikan pun begitu. Untuk terbang di udarapun burung juga bisa. Dan semua itu golongan Jin dan Iblis dengan mudah melakukannya. Sang guru meneruskan keterangannnya bahwa dia akan kagum apabila menemukan orang yang memiliki sesuatu , lalu sesuatu itu hilang dan dia tidak menunjukan perubahan exspresi kekecewaan dan tetap dalam kehambaannya pada Allah.” ceritaku pada ibu yang terlihat sedikit kebingungan
“Jadi maksudnya bagaimana ya nak? Kok bisa kagum dengan orang yang tidak sakti”
“Yaa...berarti kan orang itu bisa sabar menerima ketentuan yang paling tidak enak yang telah diberikan Allah padanya. Dia telah mendapat Ridho Allah bu... dan InsyaAllah ibu pun begitu karena ibu tidak merasa sedih, kecewa ataupun marah dengan kehilangan Hp itu. Namun kalau bisa jangan cuman Hp aja yang bisa kuat ya bu....semuanya yang kita rasa kita miliki ini. Karena Hakekatnya semua ini kan titipan. Bukan milik kita, tapi milik Allah. Sebagaimana yang pernah saya baca bahwa keimanan yang sempurna itu keimanan yang merasa tidak memiliki dan dimiliki oleh apapun kecuali Allah. Jadi suatu saat jika di ambil ya...kita gak boleh protes baik dalam bentuk apapun dan jika kita mendapatkan sesuatupun kita meyakini itu semua dari Allah semata oleh karena itu layaknya kita syukuri. Waahhh jadi kepanjangan ya bu... Jadi malu nih, kaya' udah kebeneran saja..”
Senyum ibu merekah bagai bunga di depan rumah. “Eii...enggak papa nak, ibu malah suka kalau kamu cerita seperti itu. Kamu kan bisa belajar jadi ustadzah.”
“Jauuhhh bu... lagian gak berani mimpi. Saya cuma pingin jadi hamba Allah yang bener saja dech. Belajar tidak selingkuh menjadi hamba selianNya. Karena itu fitri terus belajar supaya bisa setia sama Allah. Hehehehe...” sahutku sambil menyalakan Televisi.
“Ada lagi lho cerita yang lucu nak, sudah ibu habis kehilangan HP. Ee...tadi sore ada orang laki parubaya mondar mandir di depan rumah sambil lihatin rumah kita ini terus. Ya..tentu saja ibu sedikit takut. Akhirnya ibu coba beranikan diri untuk menegurnya. Ternyata dia itu lagi sakit perut mau ke belakang. Mau numpang tapi sungkan.” cerita ibu meneruskan
“Terus...ibu kasih ijin enggak?” Tanyaku penasaran sambil mengarahkan pandanganku menatap lekat mata wanita tua di hadapanku penuh kecemasan.
“Iya ta kasih ijin nak, kan kasihan.. ibu itu membayangkan betapa sakit perutnya yang menahan mau kebelakang. Wong ibu lho pernah mengalaminya. Waktu jalan-jalan sama Ayah, ibu terasa pingin kebelakang. Dan ibupun cari tumpangan. Gitu aja rasanya seneng banget ada yang mau memberi tumpangan.”
“Alhamdulillah..... Ibu hebat...bener-bener hebat.”
“Lho?! Kenapa nak? Wong gitu aja kok hebat. Wong kasih tumpangan saja kok hebat.”
“Yee...ibu kok gak peka sih. Di sini saya melihat betapa Allah telah mendatangkan orang itu untuk menguji ibu kedua kalinya. Begini, ibu kan habis kehilangan HP. Itupun dengan adanya peristiwa pengemis perempuan yang aneh dan mencurigakan. Ibu tidak berani Shuudhon dengannya dan mencoba menghilangkan perasangka-perasangka buruk padanya itu sudah bagus. Dan ibupun tidak kecewa, sedih ataupun marah dengan kehilangan HP, itu lebih bagus lagi. Lalu Allah masih ingin menguji ibu kesekian kalinya dengan mengirimkan orang yang sakit perutnya dan numpang ke belakang. Intinya cuman satu bu, setelah sederetan cerita di awal apakah ibu masih tetap menjaga hati ibu untuk tidak menorehkan nota hitam di hati ibu dengan berburuk sangka pada orang lain?? Jarang bu, orang yang habis kehilangan itu dengan muda memberi kepercayaan pada orang asing. Kebanyakan bawaannya curiga melulu. Tapi, ternyata ibu mengijinkan orang tersebut untuk kebelakang, dan ibu sama sekali tidak menaruh curiga. Itu lebih dari hebat bu....T.O.P B.G.T istilahnya .. TOP BANGET... Berarti hati ibu bener-bener terjaga dan bersih. Subhanallah........Saya kagum sama ibu. Alhamdulillah ya Allah...” Rasa kagumku tidak terbendung lagi hingga tanpa terasa genangan air sudah memenuhi kelopak mataku. Kuraih tubuh wanita tua itu dan kami pun berpelukan.
Ya..Allah, semoga Engkau selalu memberi kekuatan kami untuk tetap teguh denganMu. Bertahan dalam kesabaran disetiap kemauan dan kehendakMu atas kami. Beri kekuatan kami ya Allah, untuk menyadari bahwa semua hakekatnya adalah diriMu yang ada. Bukan kami, bukan yang lain melainkan diriMu. Engkau yang memberi Ujian dan Engkau pula yang memberi kekuatan. Terimakasih ya Allah....terimakasih.
Kutinggalkan ibu dengan kesibukannya. Dengan berlari kecil kusambar handuk lalu menuju kamar mandi. Sebentar lagi Adzan mahgrip berkumandang dengan suaraNya yang menggetarkan. Begitu terasa indah undangan itu bagi kita hamba-hambaNya. Semoga kita memenuhinya dengan melepaskan semua kebisingan dunia yang kemudian tenggelam dalam asyiknya bercengkrama denganNya. Labaikallah...hummalabaik.....
********
Sumber: (Cerpen Harian)
Kamis, 23 Agustus 2007
Akh...Pantas kenyang
Kutundukan pandanganku dalam-dalam seakan ingin kumasuki pori-pori lantai ruang tengah itu. Begitu ramai suara yang berisik di dalam benakku. Ada penyesalan, ketakutan, keresahan, kegetiran, kegelisaan, juga kebingungan, semua tertumpuk dan diaduk-aduk menjadi satu. Mungkin kalo Gado-gado masih enak rasanya, tapi ini perasaan yang bergemuruh di hatiku yang tak kunjung mau berhenti. Akh.....dasar bodohnya aku ini..sesalku dalam diam.
“Fiitt... ada apa nak? Kamu kelihatan lagi mikir sesuatu ya? Ayoo cerita sama ibu siapa tahu ibu bisa bantu” suara ibu yang lembut sedikit melonggarkan urat syarafku. Ku coba tersenyum lalu kurebahkan tubuhku di sofa dengan kepala kujatuhkan di pangkuan ibu. Dengan penuh sayang ibu membelai rambutku.
“Kenapa..? kamu enggak seperti biasanya. Kok enggak bisa tersenyum sih.” ibu mencoba mengulangi untuk mencari tahu keresahanku.
“Saya sedih bu..”
“Pasti ada masalah. Masalah apa yang membuat kamu sedih begitu?”
“Saya tadi kelepasan lagi bu.... Saya ini memang bodoh, gak bisa menahan diri. Malu saya sama diri sendiri. Bisanya ngomong gak bisa jalanin. Huuhhh....bodoh...bodoh...bodoh!!!” sesalku sambil memukul-mukul kakiku sendiri.
“Eee...kok gitu sih...Sudah-sudah. Emangnya kamu itu kelepasan apa sih? Jangan muter-muter gitu kalau cerita. Bikin ibu bingung.” sahut ibu sambil menahan tanganku.
“Fitri lho bu..tadi makan bangkai alias ngrasanin orang. Bener-bener kalau uda ngobrol enak banget bawaannya. Sampai berbusa bibirnya juga enggak terasa. Akh...pantes aja kenyang. Buntut-buntutnya baru nyadar kalau itu dosa. hmmm....mesti gitu dech.” keluhku dengan kesal
“Makanya jaga lisanmu nak... Jangan banyak bicara jika itu gak perlu, mending di hindari. Ibu saja kalau pulang ngaji, mesti jalan duluan pakai alasan keburu masak biar gak jalan sama-sama. Karena kalau sudah sama-sama teman itu memang bawaannya enak sekali ngomongin orang. Lagian ngomongin siapa sih, kamu kok sampai asyik gitu?”
“Wiss...lengkap dech bu, awalnya dari selebritis sampai akhirnya kemana-mana. Tapi tadi begitu sadar langsung sih..fitri berhenti enggak ikut nimbrung. Tapi kan masih sempat juga ikutan. Uda terlanjur kenyang.” sahutku sembari memonyongkan bibir.
“Yaa...semua itu kan bisa kamu buat pelajaran nak. Karena itu hati-hati kalau mau ikutan ngobrol sama teman, walaupun itu teman akrabmu. Sudah jangan terlalu difikirkan. Banyak istiqfar saja, yang penting jangan di ulangi. Semua kan masih belajar. Jadi mesti terus latihan. InsyaAllah, lama-lama nanti kan bisa.”
“Saya ingat satu riwayat yang pernah saya baca itu lho bu yang membuat saya jadi terus merasa bersalah.”
“Bagaimana? Coba kamu cerita sih, biar ibu ikut tahu ceritanya”
“Ceritanya, ada orang yang alim sedang menghadiri pemakaman seorang sahabatnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang pengemis. Si alim tadi berfikir dalam benaknya 'coba orang ini mau berusaha sedikit saja untuk dirinya, tentu dia tidak perlu menginakan dirinya menjadi seorang pengemis'. Lalu pada malam harinya saat si alim hendak melakukan wirid yang biasa dia lakukan, dia merasa berat sekali hingga akhirnya tertidur.” kuhentikan ceritaku sejenak. Lalu duduk bersandar sambil kuperhatikan ibu yang mulai mengupas buah jeruk kesukaannya..
“Terus bagiamana?” tanya ibu sambil melirik kearahku
“Terus, dalam tidurnya itu si alim bermimpi orang-orang membawa nampan yang diatasnya ada si pengemis tua itu. Lalu orang-orang tersebut mempersilahkan pada si alim untuk makan daging pengemis tersebut karena dia telah menghibah si pengemis itu.” Ibu langsung berhenti mengupas buah jeruk yang ada di tangannya. Beliau menatapku begitu dalam. Entah apa yang ada dalam benak beliau. Yang kutangkap beliau masih menunggu kelanjutan ceritaku.
“Begitu bangun si alim baru menyadari bahwa dia tadi menghibah si pengemis. Kemudian, keesokan harinya si alim mencari si pengemis tua untuk mencari ridhonya dengan meminta maaf. Hingga akhirnya si pengemis ditemukannya di tepi hutan sedang memunggut daun-daun kering. Belum sempat si alim berkata pengemis tua itu berkata 'apakah engkau akan mengulangi lagi perbuatan bodohmu itu wahai fulan'. Si alim pun merasa malu pada pengemis tua dan meminta maaf padanya.” kutarik nafas panjang untuk memengendorkan ketegangan yang kurasakan lalu kuteruskan lagi.
“ Bayangin bu....belum sempat dia ngomong sama orang lain. Masih terbesit dalam pikiran saja sudah digambarkan bahwa si alim sudah mengghibah. Lalu bagaimana dengan saya yang dengan asyiknya ngobrolin aib orang walaupun toh itu selebritis. Emangnya kalau ngomongin selebritis itu enggak apa-apa ? Selebritis kan juga manusia yang harus kita hargai apapun itu keadaannya bukan seenaknya kita obral aibnya. Itu kan sama saja dosanya seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Lha wong makan bangkai saja lho kok seneng. Saya heran dengan diri saya sendiri.”
“ Waahhhh...kalau mengikuti seperti ceritamu tadi. Sulit sekali. Ibu sendiri juga sering mengalami hal itu nak. Bukan cuma kamu saja, lha ibu berarti juga banyak dosanya. Bagaimana ya caranya nak. Ibu jadi ikut bingung.” sahut ibu sambil mulai makan buah jeruk yang diletakan di atas mangkuk kecil di pangkuannya. Dan tanpa kuminta ibu suapi diriku dengan belahan jeruk kupasannya. Manis asam rasanya. Segar kemudian menyirami kerongkonganku.
“Itulah bu...yang membuat benak saya ramai saat ini. Memang sulit kalau kita fikirkan. Tapi kita kan gak boleh putus asa untuk mendapatkan pertolongan Allah bu. Yaa... semoga saja Allah memberi kemudahan bagi kita ya bu....semoga fitri enggak kecolongan lagi. Bismillah....ya Allah, semoga Engkau jaga hati, fikiran dan lisan kami ya Allah...” ocehku dalam tumpukan harap pdaNya.
“Aamieen....” ibu menjawab doaku
“Sebenarnya kalau di lihat itu intinya ada di fikiran kita ya bu..?” lanjutku
“Maksudmu bagiamana nak?”
“Ya...seperti cerita tadi, kan muncul di pikiran saja sudah dibilang mengghibah. Jadi kita mesti menjaga fikiran ini untuk tidak berfikir yang buruk-buruk dalam menilai orang. Lha sebelum sampai ke lisan kan awalnya dari pikiran kita.”
“Iyaa..kamu benar nak... kita mestinya enggak usah mikir yang aneh-aneh pada orang lain. Biarin juga orang mau ngapain atau apa saja. Yang penting kita menjaga diri kita sendiri ya...”
“Tapi.. kadang tanpa sadar kita melihat orang hitam gitu aja, kita dengan santai bilang di benak kita 'orang itu hitam sekali ya' . Itu kan juga enggak boleh ya..bu?”
“He em. Makanya daripada kita buat mikirin orang, uda...lebih baik kita sibukan diri kita dengan mikir dan mengingat Allah saja. Dan kita mesti banyak-banyak istiqfar nak...biar kesalahan kita diampuni Allah.”
“Asstaqfirullahal 'adhiim... ampuni dosa kami ya Allah....” sahutku sambil menyingkirkan mangkuk di pangkuan ibu dan kuganti dengan merebahkan kepalaku. Sempat kutangkap senyum ibu yang mengembang melihat ulah manjaku.
Ibu meraih remote lalu mengganti chanel televisi mencari acara yang enak untuk ditonton. Tapi semua cerita sudah penuh dengan sinetron percintaan remaja yang kurang sedap dipandang mata. Akhirnya chanel itu berhenti pada acara Mamamia Show yang seru.. kami hanyut dalam suasana meriah studio sarbini yang kami tangkap malam itu dari layar kaca ukuran 21' dalam rumah kami. Kemesraan seorang mama dan anak. Dan entah, apakah itu tulus ataukah hanya di buat-buat demi mendapat penilaian lebih oleh publik. Sedangkan kami tidak mau ketinggalan dengan kemesraan yang hangat di ruang tengah malam itu. Hmmm...hangatnya rebah dalam pangkuan ibu yang mengasihi dan menyayangi. Berkurang sudah berat di dada karena bisa bermanja di pangkuan seorang wanita tua yang menyayangi dan mencintai sebagai wujud cinta kasihNya. Akh...Alhamdulillah... terimakasih ya Allah..
******
Sumber: Cerpen Harian
“Fiitt... ada apa nak? Kamu kelihatan lagi mikir sesuatu ya? Ayoo cerita sama ibu siapa tahu ibu bisa bantu” suara ibu yang lembut sedikit melonggarkan urat syarafku. Ku coba tersenyum lalu kurebahkan tubuhku di sofa dengan kepala kujatuhkan di pangkuan ibu. Dengan penuh sayang ibu membelai rambutku.
“Kenapa..? kamu enggak seperti biasanya. Kok enggak bisa tersenyum sih.” ibu mencoba mengulangi untuk mencari tahu keresahanku.
“Saya sedih bu..”
“Pasti ada masalah. Masalah apa yang membuat kamu sedih begitu?”
“Saya tadi kelepasan lagi bu.... Saya ini memang bodoh, gak bisa menahan diri. Malu saya sama diri sendiri. Bisanya ngomong gak bisa jalanin. Huuhhh....bodoh...bodoh...bodoh!!!” sesalku sambil memukul-mukul kakiku sendiri.
“Eee...kok gitu sih...Sudah-sudah. Emangnya kamu itu kelepasan apa sih? Jangan muter-muter gitu kalau cerita. Bikin ibu bingung.” sahut ibu sambil menahan tanganku.
“Fitri lho bu..tadi makan bangkai alias ngrasanin orang. Bener-bener kalau uda ngobrol enak banget bawaannya. Sampai berbusa bibirnya juga enggak terasa. Akh...pantes aja kenyang. Buntut-buntutnya baru nyadar kalau itu dosa. hmmm....mesti gitu dech.” keluhku dengan kesal
“Makanya jaga lisanmu nak... Jangan banyak bicara jika itu gak perlu, mending di hindari. Ibu saja kalau pulang ngaji, mesti jalan duluan pakai alasan keburu masak biar gak jalan sama-sama. Karena kalau sudah sama-sama teman itu memang bawaannya enak sekali ngomongin orang. Lagian ngomongin siapa sih, kamu kok sampai asyik gitu?”
“Wiss...lengkap dech bu, awalnya dari selebritis sampai akhirnya kemana-mana. Tapi tadi begitu sadar langsung sih..fitri berhenti enggak ikut nimbrung. Tapi kan masih sempat juga ikutan. Uda terlanjur kenyang.” sahutku sembari memonyongkan bibir.
“Yaa...semua itu kan bisa kamu buat pelajaran nak. Karena itu hati-hati kalau mau ikutan ngobrol sama teman, walaupun itu teman akrabmu. Sudah jangan terlalu difikirkan. Banyak istiqfar saja, yang penting jangan di ulangi. Semua kan masih belajar. Jadi mesti terus latihan. InsyaAllah, lama-lama nanti kan bisa.”
“Saya ingat satu riwayat yang pernah saya baca itu lho bu yang membuat saya jadi terus merasa bersalah.”
“Bagaimana? Coba kamu cerita sih, biar ibu ikut tahu ceritanya”
“Ceritanya, ada orang yang alim sedang menghadiri pemakaman seorang sahabatnya. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang pengemis. Si alim tadi berfikir dalam benaknya 'coba orang ini mau berusaha sedikit saja untuk dirinya, tentu dia tidak perlu menginakan dirinya menjadi seorang pengemis'. Lalu pada malam harinya saat si alim hendak melakukan wirid yang biasa dia lakukan, dia merasa berat sekali hingga akhirnya tertidur.” kuhentikan ceritaku sejenak. Lalu duduk bersandar sambil kuperhatikan ibu yang mulai mengupas buah jeruk kesukaannya..
“Terus bagiamana?” tanya ibu sambil melirik kearahku
“Terus, dalam tidurnya itu si alim bermimpi orang-orang membawa nampan yang diatasnya ada si pengemis tua itu. Lalu orang-orang tersebut mempersilahkan pada si alim untuk makan daging pengemis tersebut karena dia telah menghibah si pengemis itu.” Ibu langsung berhenti mengupas buah jeruk yang ada di tangannya. Beliau menatapku begitu dalam. Entah apa yang ada dalam benak beliau. Yang kutangkap beliau masih menunggu kelanjutan ceritaku.
“Begitu bangun si alim baru menyadari bahwa dia tadi menghibah si pengemis. Kemudian, keesokan harinya si alim mencari si pengemis tua untuk mencari ridhonya dengan meminta maaf. Hingga akhirnya si pengemis ditemukannya di tepi hutan sedang memunggut daun-daun kering. Belum sempat si alim berkata pengemis tua itu berkata 'apakah engkau akan mengulangi lagi perbuatan bodohmu itu wahai fulan'. Si alim pun merasa malu pada pengemis tua dan meminta maaf padanya.” kutarik nafas panjang untuk memengendorkan ketegangan yang kurasakan lalu kuteruskan lagi.
“ Bayangin bu....belum sempat dia ngomong sama orang lain. Masih terbesit dalam pikiran saja sudah digambarkan bahwa si alim sudah mengghibah. Lalu bagaimana dengan saya yang dengan asyiknya ngobrolin aib orang walaupun toh itu selebritis. Emangnya kalau ngomongin selebritis itu enggak apa-apa ? Selebritis kan juga manusia yang harus kita hargai apapun itu keadaannya bukan seenaknya kita obral aibnya. Itu kan sama saja dosanya seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Lha wong makan bangkai saja lho kok seneng. Saya heran dengan diri saya sendiri.”
“ Waahhhh...kalau mengikuti seperti ceritamu tadi. Sulit sekali. Ibu sendiri juga sering mengalami hal itu nak. Bukan cuma kamu saja, lha ibu berarti juga banyak dosanya. Bagaimana ya caranya nak. Ibu jadi ikut bingung.” sahut ibu sambil mulai makan buah jeruk yang diletakan di atas mangkuk kecil di pangkuannya. Dan tanpa kuminta ibu suapi diriku dengan belahan jeruk kupasannya. Manis asam rasanya. Segar kemudian menyirami kerongkonganku.
“Itulah bu...yang membuat benak saya ramai saat ini. Memang sulit kalau kita fikirkan. Tapi kita kan gak boleh putus asa untuk mendapatkan pertolongan Allah bu. Yaa... semoga saja Allah memberi kemudahan bagi kita ya bu....semoga fitri enggak kecolongan lagi. Bismillah....ya Allah, semoga Engkau jaga hati, fikiran dan lisan kami ya Allah...” ocehku dalam tumpukan harap pdaNya.
“Aamieen....” ibu menjawab doaku
“Sebenarnya kalau di lihat itu intinya ada di fikiran kita ya bu..?” lanjutku
“Maksudmu bagiamana nak?”
“Ya...seperti cerita tadi, kan muncul di pikiran saja sudah dibilang mengghibah. Jadi kita mesti menjaga fikiran ini untuk tidak berfikir yang buruk-buruk dalam menilai orang. Lha sebelum sampai ke lisan kan awalnya dari pikiran kita.”
“Iyaa..kamu benar nak... kita mestinya enggak usah mikir yang aneh-aneh pada orang lain. Biarin juga orang mau ngapain atau apa saja. Yang penting kita menjaga diri kita sendiri ya...”
“Tapi.. kadang tanpa sadar kita melihat orang hitam gitu aja, kita dengan santai bilang di benak kita 'orang itu hitam sekali ya' . Itu kan juga enggak boleh ya..bu?”
“He em. Makanya daripada kita buat mikirin orang, uda...lebih baik kita sibukan diri kita dengan mikir dan mengingat Allah saja. Dan kita mesti banyak-banyak istiqfar nak...biar kesalahan kita diampuni Allah.”
“Asstaqfirullahal 'adhiim... ampuni dosa kami ya Allah....” sahutku sambil menyingkirkan mangkuk di pangkuan ibu dan kuganti dengan merebahkan kepalaku. Sempat kutangkap senyum ibu yang mengembang melihat ulah manjaku.
Ibu meraih remote lalu mengganti chanel televisi mencari acara yang enak untuk ditonton. Tapi semua cerita sudah penuh dengan sinetron percintaan remaja yang kurang sedap dipandang mata. Akhirnya chanel itu berhenti pada acara Mamamia Show yang seru.. kami hanyut dalam suasana meriah studio sarbini yang kami tangkap malam itu dari layar kaca ukuran 21' dalam rumah kami. Kemesraan seorang mama dan anak. Dan entah, apakah itu tulus ataukah hanya di buat-buat demi mendapat penilaian lebih oleh publik. Sedangkan kami tidak mau ketinggalan dengan kemesraan yang hangat di ruang tengah malam itu. Hmmm...hangatnya rebah dalam pangkuan ibu yang mengasihi dan menyayangi. Berkurang sudah berat di dada karena bisa bermanja di pangkuan seorang wanita tua yang menyayangi dan mencintai sebagai wujud cinta kasihNya. Akh...Alhamdulillah... terimakasih ya Allah..
******
Sumber: Cerpen Harian
Kenangan Indah Penuh Hikmah
-----Original Message-----From: "Administrasi ACCOUNTING" To: "CID Administrasi" , "administrasi welfare" , "Administrasi Utility" , "Administrasi SKT" , "Administrasi SKM" , "Administrasi Security" , "Administrasi SE" , "Administrasi Safety" , "Administrasi Raw Material Deve" , "Administrasi R&D Sensory Evalu" , "Administrasi R&D Flavour" , "Administrasi R&D Process Devel" , "Administrasi R&D" , "Administrasi QA Petemon Barat" , "Administrasi QA Jember" , "Administrasi Purchasing" , "Adm Personalia Tandes 9" , "Admpayroll18" , "CID Software Implementer" , "Devita Damayanti" , "Nurilliyah" , "Choirul Hakam" , "Suharno" , "Andik Darmawan" , "Aprilian Sri Saptani" , "Administrasi ACCOUNTING" Date: Tue, 03 Oct 2006 13:44:56 +0700Subject: Dia Pergi....
Kenangan indah Surabaya, 22 April 2006
Di pagi yang cerah itu tiada terasa indah bagi sosok Nani yang sedang sibuk dengan urusan administrasi pendaftaran rawat inap di salah satu rumah sakit negeri . Terlihat nani mondar mandir dengan membawa surat pengantar dari Rs. Swasta untuk di serahkan kepada dokter yang bertugas. Di sisi tengah ruang tunggu IRD sepasang mata yang sayu lekat melihat nani dengan menahan rasa yang tiada terucap hanya sesekali merintih. Selang-selang infus yang mengikatnya dan bantuan oksigen yang diberikan oleh perawatpun menjadikan pemandangan semakin menyayat hati. Nafas yang turun naik begitu cepat menunjukan betapa terasa sesak dan berat dada yang menahan sakit. Lemas terkulai tak berdaya dengan segala kepasrahan yang ada hanya tercurah pada sang Pencipta. Menunggu dan menanti apa yang akan diberikan Tuhan atas diri yang pilu. Akankah semua menjadi baik dan kembali hingga senyum yang manispun akan berkembang lagi dari bibir mungil itu.
Begitu selesai urusan administrasi dengan tersenyum nani pun menghampiri mata sayu yang sedari tadi mengamatinya. Dengan gemetar suara itupun akhirnya mengalir dari bibir mungil itu “ Bu, aku enggak kuat”. Seakan dinding-dinding ruang tunggu IRD itu hancur berkeping dan menindi tubuh yang tergolong kurus itu. Dadanya bergemuru kencang dan deras terasa air yang akan tertumpahkan. Pecah sudah pertahanannya untuk bisa tetap tersenyum.
“Jangan bilang gitu sayang, Ayi' pasti kuat. Kita berdoa sama Allah biar Ayi' sembuh ya...” begitu nani memberikan semangat pada buah hatinya yang sudah tidak berdaya. Dan terlihat butiran bening telah membentuk anak sungai di pipi yang tidak terlapiskan bedak itu. Hanya menggangguk lemah Ayi' memberi tanda pada sang ibu.
Seorang perawat menghampiri dan mulai memberitahukan kamar yang semestinya ditempati. Melalui lorong-lorong rumah sakit serta melewati lalulalang orang dalam kesibukannya petugas mendorong troli yang diikuti nani berjalan dengan sedikit berlari karena takut ketinggalan menuju kamar untuk menginap buah hatinya. 'Tenang.....tenang dan sabar' bisik nani dalam hati untuk dirinya sendiri. Begitu lelah wajah yang berusaha untuk sembunyikan dukanya itu. Sudah dua hari buah hatinya rawat inap di Rs Swasta dengan diagnosa Typus oleh dokter ternyata di hari ketiga ini malah mendapatkan rujukan untuk di kirim ke Rs Negeri karena diagnosa dokter kini mengarah pada DB ( Demam Berdara ) sedangkan peralatan tidak memadai. 'Ya Allah.....apapun ketentuanMu atas kami berilah kami kekuatan untuk menghadapinya' itulah sepercik harapan yang melintas dalam benak hati nani pada Tuhannya.
Di ruangan itu sudah banyak pasien anak-anak yang lainnya. Sedangkan buah hati nani yang semula di tempatkan bersama mereka namun kemudian dipindah lagi ke ruang observasi atas permintah dokter yang menanganinya. Di ruang itu Ayi' mendapatkan perhatian yang intensive oleh perawat dan dokter. Bahkan dokter tidak meninggalkannya melainkan hanya sebentar-sebentar. Berbagai macam tindakan telah dilakukan oleh dokter dan suster untuk memastikan diagnosa mereka akan jenis penyakit yang menimpa Ayi'. Mulai dari periksa darah, foto, USG dan sebagainya.
Nani terlihat sudah mulai tenang dengan berbagai pelayanan yang diberikan pihak Rs pada buah hatinya. Di hampirinya buah hatinya yang tengah berjuang melawan rasa sakit dan keresahan jiwa.
“Bu...ayo pulang...” pintanya
“Iya....sebentar lagi kalau Ayi' sembuh”
“Bu...mas kiki kok gak kesini..? katanya ibu kesini” tanya Ayi' atas janji nani yang mengatakan bahwa mungkin nanti anak temannya yang bernama Kiki akan datang menjenguk, karena Ayi' suka maen sama Kiki yang sepantaran dengannya.
“Iya...belum. Biar ibu telepon dulu ya...?” sahut nani
“Gak usa bu..gak usa” balas Ayi'
“Bu, aku gak tahan pakai ini...” sambil menunjukan selang oksigen yang masuk di lubang hidungnya Ayi' mengiba.
“Lho..harus pakai ini sayang..biar Via cepat sembuh” nani menenangkan
“Pakai ya...kalau tidak mau ibu mau kerja aja gak mau nungguin Ayi''”bujuk nani sambil menahan rasa sedih.
“Emooh... jangan kerja” pintah Ayi' merintih
“Iya...makanya pakai ini biar Ayi' nafasnya gak sesak. Ibu tinggal sholat dulu ya sayang...” tutur nani meminta ijin yang disambut dengan anggukan.
Nani sholat di samping ranjang buah hatinya. Sementara perawat dan dokter silih berganti memeriksa keadaan Ayi' Selang beberapa waktu dokter memanggil nani untuk membicarakan sesuatu.
Dokter: “Bu...anak ibu positif kena DB dan kita butuh darah”
Nani: “Terus bagaimana dokter....?”
Dokter: “Ibu jaga sendiri? Ayahnya mana?”
Nani: “Tidak ada. Memang kenapa dok? Apa harus ayahnya? Bagaimana kalau darah saya saja yang dipakai?”
Dokter: “Bukan begitu bu, kita mesti beli darah di PMI, bukan darah yang bisa di transfusi langsung. Tapi darah yang sudah di olah dulu dan yang ada hanya di PMI. Jadi harus ada yang ambil.”
Nani: “ Biar saya telepon saudara saya untuk ambil Dok.”
Dokter: “ya ...silakan. Ini surat pengantarnya”
Kemudian nani beranjak dan telepon saudaranya yang kebetulan sedang kerja diminta untuk segera ke Rs untuk ambil darah. Selang beberapa waktu yang cukup lama saudara Ratih muncul. Sebentar menghampiri pembaringan Ayi' lalu segera berangkat lagi ke PMI untuk ambil darah. Tak lupa naniberpesan untuk cepat yang dibalas dengan anggukan.
Detik demi detik berjalan tanpa mau menunggu atau istirahat barang sebentar. Seiring keresahan yang tersembunyi nani mencoba untuk tenang dan tetap mendampingi putri semata wayangnya itu. Di temani saudara sepupunya nani mencoba terus membujuk Ayi' yang sudah resah dengan selang infus dan oksigen yang menempel di hidungnya. Sesekali dia berontak untuk melepas selang oksigen yang dirasa mengganggu. Padahal nafas yang ada terlihat sesak dan sulit untuk bernafas. Sampai-sampai nani dan saudara sepupunya pun memegangi tangan Ayi' yang selalu berusaha melepas selang oksigen yang menjadi penyambung nafasnya.
Hingga akhirnya darah hitam keluar dari mulut Ayi'. Kontan seluruh perawat dan dokter sibuk dengan berbagai alat dan membersihkan muntahan darah yang membasahi baju Ayi'. Terlihat bibir Via terbata-bata dan nafasnya mulai mengendur hingga..............tiada gerak dan tiada suara yang ia keluarkan. Yang ada jeritan dari bibir nani dan sepupuhnya. Diciumi kaki yang tidak bergerak itu dengan segala rasa yang tiada bisa terlukiskan.
'Ya...Allah....saya tidak berdaya dengan kuasaMu dan saya tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau beri kekuatan padaku. Lahaulawalakuata ilabillah.....Hasbiallah alaihi tawakaltu wahua rabbil arsyil adhim...' itu dan begitu terus bibir nani tiada berhenti mencari kekuatan.
Dokter dan perawat sibuk untuk mengupayakan keadaan Ayi' yang terkulai lemah dan tak bergerak. Sedangkan nani beranjak pergi mengambil air wudlu dan melakukan sholat asyar. Dalam takbirnya nani mendengar jeritan sepupuhnya dari mengetahui bahwa dokter sudah tidak mampu menolong Ayi'. Dia telah pergi......Innalillahiwainnaillaihi roji'un. nani tersungkur dalam sujudnya dengan segala kepasrahan. Mengalir dari bibirnnya permohonan ampun pada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan dalam menjaga amanah yang diberikan. 'Ya....Allah, Engkau ambil dari apa yang Kau titipkan. Dan aku benar-benar tak berdaya. Terimalah dia dengan segala cintaMu pada hambaMu. Dan Ampuni hamba jika selama dia Kau titipkan pada hamba, hamba salah dalam mendidiknya, hamba kurang dalam merawatnya, hamba tidak benar dalam menjaganya. Ya Allah.....hamba tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau memberi kekuatan pada hamba. Jangan tinggalkan hamba yang memerlukanMu. Dan jangan biarkan hamba berputusasa atas rahmatMu'. Tersungkur nani dalam isak tangisnya yang tak berdaya.
Ayang..... Ayi'ku Sayang
Getar nadimu kurasakan mengalir dalam tubuhku
Gerakmu menari-nari menghiasi pelupuk mata yang sayu
Pelukmu masih hangat dalam dekapanku
Lembut terasa genggaman mungil tanganmu
Berbekas halus di jari-jari yang penuh peluh
Ayang...Ayi'ku sayang
Bunda menyayangimu...
Bunda mencintaimu.......
Bundapun selalu merindukan tangis manjamu
Bunda selalu tersenyum dalam kenangan indah bersamamu
Ayang...Ayi'ku Sayang
Dirimu adalah bunga dalam hidup bunda
Drimu adalah bulan dalam alunan langkah bunda
Jauh pun dirimu terasa selalu bersama bunda
Tiada pernah kita berpisah melainkan selalu bersama
Bersama dalam naungan Cinta Sang Kekasih Abadi
Ayang...Ayi'ku Sayang
Sampaikan salam bunda pada Sang Kekasih
Sampaikan kerinduan bunda pada Sang Kekasihku
Sampaikan pula betapa bunda menanti di tepi-tepi pintu_Nya
Akankah terbuka dan mau menerima
Semoga.......
“Dan Dia-lah yang telah menghidupkan dan Mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Qs. Al-Mu'minun 80)
Dalam renungan panjang .....
Tertegun dalam lamunan panjang. Semoga diberi kekuatan dan ketabahan. Tanpa dibayangkan dan tanpa diduga, dalam hitungan beberapa hari yang dicinta pergi tanpa kembali. Apakah kita merasa memiliki sesuatu hingga kita merasa kehilangan dari yang bukan milik kita?
Ini benar telah terjadi. Dan tertegun dalam terkejutan akan pelajaran yang Allah berikan pada seorang hamba.
Kita berencana dan Allah pun punya rencana. Tiada mampu kita memaksaNya. Biarlah sudah menjadi ketentuanNya dan kemauanNya atas hamba-hambaNya. Bersabar...bersabar...dan bersabarlah....
Ini benar telah terjadi pada Ayi' dan apakah tidak mungkin bisa menimpa diri kita? Mungkin dan bisa saja. Maka bersiap-siaplah dalam menghadapi semua kemungkinan yang diluar dugaan kita walaupun itu menyakitkan atau menyenangkan. Sebagaimana dengan kisah yang menimpa diri saya. Saya tiada pernah menyangkah buah hati yang dicinta akan pergi begitu cepat. 5 tahun 4 bulan tepat usianya. Lalu kapan untuk kita? Dan siapkah kita?
Apakah setelah ini kita masih bisa mengatakan dan meremehkan kematian atas diri kita , saudara kita, orangtua kita, kerabat dekat kita?. Apakah kita masih mampu mengatakan kematian kita masih lama lagi? Apakah setelah ini masih kita mampu tertawa lepas hingga melupakan Izroil yang mungkin tengah mengintai kita? Apakah kita masih merasa terlalu muda untuk ukuran kematian? Apakah karena kita merasa diri kita masih dalam kondisi yang 'sehat'? Apakah bisa jika kematian itu datang menghampiri kita, lalu kita memintanya kembali beberapa waktu lagi? Apakah kita mampu menerima kematian dengan senyuman?
Riwayat mengatakan Rasulullah Saw. Pernah keluar ke masjid, beliau mendapatkan kami saat itu sedang berbincang-bincang dan tertawa. Beliau bersabda,”Ingatlah mati. Ingat, Demi Tuhan yang jiwaku di tanganNya, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.”
Anas ra. Berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati, karena hal itu dapat membersihkan dosa dan mendorong sikap zuhud terhadap dunia.” Nabi Muhammad Saw bersabda,”Cukuplah kematian sebagai sesuatu yang memberi nasehat.”
Kematian datang atas kehendakNya dan tiada mampu kita menghindarinya. Dan tiada mungkin kita mampu menghadapinya tanpa berpegang dalam pertolonganNya.Oleh karena itu siapkan diri kita untuk menjemputnya dengan salalu meneguhkan keimanan pada Allah Swt. Kematian bukanlah hal yang menakutkan namun perlu kita perioritaskan persiapannya karena dia pasti datangnya. Artinya kita mesti pada kondisi yang tidak terlena dengan dunia yang hanya sesaat dan cenderung menggoda kita. Gemerlapnya dunia jangan jadikan kita silau hingga lupa kematian mengitari kita dan bisa datang sewaktu-waktu. Lalu dalam kondisi apakah kita nantinya saat kematian itu menjemput.?
Ingatkah kita akan firmanNya:
“ Kami tidak Menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu(Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai Cobaan ( yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( Qs. Al-Anbiya' 34-35)
Ada semua cerita yang baik yang pernah diputar di televisi yang InsyaAllah bisa kita ambil pelajaran. Dimana dua bersaudara dengan dua karakter yang berbeda. Si sulung terkenal dengan kesholehannya sedangkan si bungsu terkenal dengan kemaksiatannya yang na'udzubilahimindalik. Namun yang jadi ngiris di hati dimana akhir dari keduanya sangat ironis sekali. Saat terjadi bencana alam diantara korbannya adalah dua bersaudara tersebut. Si sulung ditemukan mayatnya di tempat hiburan lokalisasi milik adhiknya. Sedangkan si bungsu ditemukan mayatnya di masjid. Subhanallah.....
Hanya karena si sulung tergoda dari bisikan setan yang mengatakan bahwa dia terkenal anak yang sholeh dan tidak pernah berbuat maksiat jadi sesekali tidak apa-apa mencoba. Toh Allah maha pengampun. Jadi setelah melakukan maksiat dia akan minta ampun pada Allah lagi.
Sementara si bungsu merasa dirinya banyak dosa dan ingin membersihkan diri dengan bertaubat.
Adakah mereka tau akan kematian mereka yang ternyata ada di depan mata..?
Saudara... begitupun dengan kita yang tiada pernah tau.... maka mari kita berhati-hati....
Tiada dosa besar jika itu diampuni oleh Allah dan tiada dosa kecil jika itu dipertanyakan dan dihitung oleh Allah. Oleh karena itu jangan meremehkan sesuatu walaupun itu kecil. Selamatkan diri kita dari kemaksiatan walaupun itu baru terbesit dalam hati. Bersihkan dengan memohon ampunan...
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah Berfirman kepada mereka,”Matilah kamu” kemudian Allah Menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah Mempunyai Karunia terhadap manusia tetapi kebanyakam manusia tidak bersyukur.” ( Qs. Al-Baqarah 243)
Wahai orang tua..... Sadari anak-anak bukanlah milik kita. Kita hanya bertugas untuk menjaganya maka janganlah merasa punya hak untuk menguasainya. Banyak orang tua menjadi gila karena ditinggal buah hatinya meninggal. Itu semua karena kita dalam kondisi yang tidak siap dengan ketentuan Allah atas mereka. Begitupun saya yang tiada pernah menyangkah jika Allah mengambil buah hati saya dengan begitu cepat. Namun Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya untuk bisa bertahan. Memang berat melepaskannya. Memang sedih ditinggalkannya. Memang akan terasa tidak rela. Tapi dikala kita kembalikan kesadaran bahwa itu semua titipan, yang mengambil yang punya dan kita tidak punya hak untuk minta perpanjangan disaat yang punya sudah memutuskan. Maka bersabarlah dan terimalah dengan keridhoanNya. Allah punya rencana untuk kita yang telah dipersiapkanNya.
“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan(bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” ( Qs. Ath-Thalaq 15)
Saudaraku semua......
Siapkan diri kita dengan segala ketentuanNya atas kita, dan tempatkan diri kita dengan berserah diri hanya padaNya hingga yang terasa hanyalah keikhlasan karena Allah lah yang mengatur segalanya dan pasti semua terbaik buat kita.
Kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari, nanti malam ataupun sesaat lagi.... jadi berhati-hatilah....dan siaplah dengan segala kemungkinanNya.
Semoga bermanfaat.......
Kenangan indah Surabaya, 22 April 2006
Di pagi yang cerah itu tiada terasa indah bagi sosok Nani yang sedang sibuk dengan urusan administrasi pendaftaran rawat inap di salah satu rumah sakit negeri . Terlihat nani mondar mandir dengan membawa surat pengantar dari Rs. Swasta untuk di serahkan kepada dokter yang bertugas. Di sisi tengah ruang tunggu IRD sepasang mata yang sayu lekat melihat nani dengan menahan rasa yang tiada terucap hanya sesekali merintih. Selang-selang infus yang mengikatnya dan bantuan oksigen yang diberikan oleh perawatpun menjadikan pemandangan semakin menyayat hati. Nafas yang turun naik begitu cepat menunjukan betapa terasa sesak dan berat dada yang menahan sakit. Lemas terkulai tak berdaya dengan segala kepasrahan yang ada hanya tercurah pada sang Pencipta. Menunggu dan menanti apa yang akan diberikan Tuhan atas diri yang pilu. Akankah semua menjadi baik dan kembali hingga senyum yang manispun akan berkembang lagi dari bibir mungil itu.
Begitu selesai urusan administrasi dengan tersenyum nani pun menghampiri mata sayu yang sedari tadi mengamatinya. Dengan gemetar suara itupun akhirnya mengalir dari bibir mungil itu “ Bu, aku enggak kuat”. Seakan dinding-dinding ruang tunggu IRD itu hancur berkeping dan menindi tubuh yang tergolong kurus itu. Dadanya bergemuru kencang dan deras terasa air yang akan tertumpahkan. Pecah sudah pertahanannya untuk bisa tetap tersenyum.
“Jangan bilang gitu sayang, Ayi' pasti kuat. Kita berdoa sama Allah biar Ayi' sembuh ya...” begitu nani memberikan semangat pada buah hatinya yang sudah tidak berdaya. Dan terlihat butiran bening telah membentuk anak sungai di pipi yang tidak terlapiskan bedak itu. Hanya menggangguk lemah Ayi' memberi tanda pada sang ibu.
Seorang perawat menghampiri dan mulai memberitahukan kamar yang semestinya ditempati. Melalui lorong-lorong rumah sakit serta melewati lalulalang orang dalam kesibukannya petugas mendorong troli yang diikuti nani berjalan dengan sedikit berlari karena takut ketinggalan menuju kamar untuk menginap buah hatinya. 'Tenang.....tenang dan sabar' bisik nani dalam hati untuk dirinya sendiri. Begitu lelah wajah yang berusaha untuk sembunyikan dukanya itu. Sudah dua hari buah hatinya rawat inap di Rs Swasta dengan diagnosa Typus oleh dokter ternyata di hari ketiga ini malah mendapatkan rujukan untuk di kirim ke Rs Negeri karena diagnosa dokter kini mengarah pada DB ( Demam Berdara ) sedangkan peralatan tidak memadai. 'Ya Allah.....apapun ketentuanMu atas kami berilah kami kekuatan untuk menghadapinya' itulah sepercik harapan yang melintas dalam benak hati nani pada Tuhannya.
Di ruangan itu sudah banyak pasien anak-anak yang lainnya. Sedangkan buah hati nani yang semula di tempatkan bersama mereka namun kemudian dipindah lagi ke ruang observasi atas permintah dokter yang menanganinya. Di ruang itu Ayi' mendapatkan perhatian yang intensive oleh perawat dan dokter. Bahkan dokter tidak meninggalkannya melainkan hanya sebentar-sebentar. Berbagai macam tindakan telah dilakukan oleh dokter dan suster untuk memastikan diagnosa mereka akan jenis penyakit yang menimpa Ayi'. Mulai dari periksa darah, foto, USG dan sebagainya.
Nani terlihat sudah mulai tenang dengan berbagai pelayanan yang diberikan pihak Rs pada buah hatinya. Di hampirinya buah hatinya yang tengah berjuang melawan rasa sakit dan keresahan jiwa.
“Bu...ayo pulang...” pintanya
“Iya....sebentar lagi kalau Ayi' sembuh”
“Bu...mas kiki kok gak kesini..? katanya ibu kesini” tanya Ayi' atas janji nani yang mengatakan bahwa mungkin nanti anak temannya yang bernama Kiki akan datang menjenguk, karena Ayi' suka maen sama Kiki yang sepantaran dengannya.
“Iya...belum. Biar ibu telepon dulu ya...?” sahut nani
“Gak usa bu..gak usa” balas Ayi'
“Bu, aku gak tahan pakai ini...” sambil menunjukan selang oksigen yang masuk di lubang hidungnya Ayi' mengiba.
“Lho..harus pakai ini sayang..biar Via cepat sembuh” nani menenangkan
“Pakai ya...kalau tidak mau ibu mau kerja aja gak mau nungguin Ayi''”bujuk nani sambil menahan rasa sedih.
“Emooh... jangan kerja” pintah Ayi' merintih
“Iya...makanya pakai ini biar Ayi' nafasnya gak sesak. Ibu tinggal sholat dulu ya sayang...” tutur nani meminta ijin yang disambut dengan anggukan.
Nani sholat di samping ranjang buah hatinya. Sementara perawat dan dokter silih berganti memeriksa keadaan Ayi' Selang beberapa waktu dokter memanggil nani untuk membicarakan sesuatu.
Dokter: “Bu...anak ibu positif kena DB dan kita butuh darah”
Nani: “Terus bagaimana dokter....?”
Dokter: “Ibu jaga sendiri? Ayahnya mana?”
Nani: “Tidak ada. Memang kenapa dok? Apa harus ayahnya? Bagaimana kalau darah saya saja yang dipakai?”
Dokter: “Bukan begitu bu, kita mesti beli darah di PMI, bukan darah yang bisa di transfusi langsung. Tapi darah yang sudah di olah dulu dan yang ada hanya di PMI. Jadi harus ada yang ambil.”
Nani: “ Biar saya telepon saudara saya untuk ambil Dok.”
Dokter: “ya ...silakan. Ini surat pengantarnya”
Kemudian nani beranjak dan telepon saudaranya yang kebetulan sedang kerja diminta untuk segera ke Rs untuk ambil darah. Selang beberapa waktu yang cukup lama saudara Ratih muncul. Sebentar menghampiri pembaringan Ayi' lalu segera berangkat lagi ke PMI untuk ambil darah. Tak lupa naniberpesan untuk cepat yang dibalas dengan anggukan.
Detik demi detik berjalan tanpa mau menunggu atau istirahat barang sebentar. Seiring keresahan yang tersembunyi nani mencoba untuk tenang dan tetap mendampingi putri semata wayangnya itu. Di temani saudara sepupunya nani mencoba terus membujuk Ayi' yang sudah resah dengan selang infus dan oksigen yang menempel di hidungnya. Sesekali dia berontak untuk melepas selang oksigen yang dirasa mengganggu. Padahal nafas yang ada terlihat sesak dan sulit untuk bernafas. Sampai-sampai nani dan saudara sepupunya pun memegangi tangan Ayi' yang selalu berusaha melepas selang oksigen yang menjadi penyambung nafasnya.
Hingga akhirnya darah hitam keluar dari mulut Ayi'. Kontan seluruh perawat dan dokter sibuk dengan berbagai alat dan membersihkan muntahan darah yang membasahi baju Ayi'. Terlihat bibir Via terbata-bata dan nafasnya mulai mengendur hingga..............tiada gerak dan tiada suara yang ia keluarkan. Yang ada jeritan dari bibir nani dan sepupuhnya. Diciumi kaki yang tidak bergerak itu dengan segala rasa yang tiada bisa terlukiskan.
'Ya...Allah....saya tidak berdaya dengan kuasaMu dan saya tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau beri kekuatan padaku. Lahaulawalakuata ilabillah.....Hasbiallah alaihi tawakaltu wahua rabbil arsyil adhim...' itu dan begitu terus bibir nani tiada berhenti mencari kekuatan.
Dokter dan perawat sibuk untuk mengupayakan keadaan Ayi' yang terkulai lemah dan tak bergerak. Sedangkan nani beranjak pergi mengambil air wudlu dan melakukan sholat asyar. Dalam takbirnya nani mendengar jeritan sepupuhnya dari mengetahui bahwa dokter sudah tidak mampu menolong Ayi'. Dia telah pergi......Innalillahiwainnaillaihi roji'un. nani tersungkur dalam sujudnya dengan segala kepasrahan. Mengalir dari bibirnnya permohonan ampun pada Tuhan atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan dalam menjaga amanah yang diberikan. 'Ya....Allah, Engkau ambil dari apa yang Kau titipkan. Dan aku benar-benar tak berdaya. Terimalah dia dengan segala cintaMu pada hambaMu. Dan Ampuni hamba jika selama dia Kau titipkan pada hamba, hamba salah dalam mendidiknya, hamba kurang dalam merawatnya, hamba tidak benar dalam menjaganya. Ya Allah.....hamba tidak akan sanggup hadapi semua ini tanpa Engkau memberi kekuatan pada hamba. Jangan tinggalkan hamba yang memerlukanMu. Dan jangan biarkan hamba berputusasa atas rahmatMu'. Tersungkur nani dalam isak tangisnya yang tak berdaya.
Ayang..... Ayi'ku Sayang
Getar nadimu kurasakan mengalir dalam tubuhku
Gerakmu menari-nari menghiasi pelupuk mata yang sayu
Pelukmu masih hangat dalam dekapanku
Lembut terasa genggaman mungil tanganmu
Berbekas halus di jari-jari yang penuh peluh
Ayang...Ayi'ku sayang
Bunda menyayangimu...
Bunda mencintaimu.......
Bundapun selalu merindukan tangis manjamu
Bunda selalu tersenyum dalam kenangan indah bersamamu
Ayang...Ayi'ku Sayang
Dirimu adalah bunga dalam hidup bunda
Drimu adalah bulan dalam alunan langkah bunda
Jauh pun dirimu terasa selalu bersama bunda
Tiada pernah kita berpisah melainkan selalu bersama
Bersama dalam naungan Cinta Sang Kekasih Abadi
Ayang...Ayi'ku Sayang
Sampaikan salam bunda pada Sang Kekasih
Sampaikan kerinduan bunda pada Sang Kekasihku
Sampaikan pula betapa bunda menanti di tepi-tepi pintu_Nya
Akankah terbuka dan mau menerima
Semoga.......
“Dan Dia-lah yang telah menghidupkan dan Mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Qs. Al-Mu'minun 80)
Dalam renungan panjang .....
Tertegun dalam lamunan panjang. Semoga diberi kekuatan dan ketabahan. Tanpa dibayangkan dan tanpa diduga, dalam hitungan beberapa hari yang dicinta pergi tanpa kembali. Apakah kita merasa memiliki sesuatu hingga kita merasa kehilangan dari yang bukan milik kita?
Ini benar telah terjadi. Dan tertegun dalam terkejutan akan pelajaran yang Allah berikan pada seorang hamba.
Kita berencana dan Allah pun punya rencana. Tiada mampu kita memaksaNya. Biarlah sudah menjadi ketentuanNya dan kemauanNya atas hamba-hambaNya. Bersabar...bersabar...dan bersabarlah....
Ini benar telah terjadi pada Ayi' dan apakah tidak mungkin bisa menimpa diri kita? Mungkin dan bisa saja. Maka bersiap-siaplah dalam menghadapi semua kemungkinan yang diluar dugaan kita walaupun itu menyakitkan atau menyenangkan. Sebagaimana dengan kisah yang menimpa diri saya. Saya tiada pernah menyangkah buah hati yang dicinta akan pergi begitu cepat. 5 tahun 4 bulan tepat usianya. Lalu kapan untuk kita? Dan siapkah kita?
Apakah setelah ini kita masih bisa mengatakan dan meremehkan kematian atas diri kita , saudara kita, orangtua kita, kerabat dekat kita?. Apakah kita masih mampu mengatakan kematian kita masih lama lagi? Apakah setelah ini masih kita mampu tertawa lepas hingga melupakan Izroil yang mungkin tengah mengintai kita? Apakah kita masih merasa terlalu muda untuk ukuran kematian? Apakah karena kita merasa diri kita masih dalam kondisi yang 'sehat'? Apakah bisa jika kematian itu datang menghampiri kita, lalu kita memintanya kembali beberapa waktu lagi? Apakah kita mampu menerima kematian dengan senyuman?
Riwayat mengatakan Rasulullah Saw. Pernah keluar ke masjid, beliau mendapatkan kami saat itu sedang berbincang-bincang dan tertawa. Beliau bersabda,”Ingatlah mati. Ingat, Demi Tuhan yang jiwaku di tanganNya, seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentu kamu akan sedikit tertawa dan lebih banyak menangis.”
Anas ra. Berkata, Rasulullah Saw. Bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati, karena hal itu dapat membersihkan dosa dan mendorong sikap zuhud terhadap dunia.” Nabi Muhammad Saw bersabda,”Cukuplah kematian sebagai sesuatu yang memberi nasehat.”
Kematian datang atas kehendakNya dan tiada mampu kita menghindarinya. Dan tiada mungkin kita mampu menghadapinya tanpa berpegang dalam pertolonganNya.Oleh karena itu siapkan diri kita untuk menjemputnya dengan salalu meneguhkan keimanan pada Allah Swt. Kematian bukanlah hal yang menakutkan namun perlu kita perioritaskan persiapannya karena dia pasti datangnya. Artinya kita mesti pada kondisi yang tidak terlena dengan dunia yang hanya sesaat dan cenderung menggoda kita. Gemerlapnya dunia jangan jadikan kita silau hingga lupa kematian mengitari kita dan bisa datang sewaktu-waktu. Lalu dalam kondisi apakah kita nantinya saat kematian itu menjemput.?
Ingatkah kita akan firmanNya:
“ Kami tidak Menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu(Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai Cobaan ( yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” ( Qs. Al-Anbiya' 34-35)
Ada semua cerita yang baik yang pernah diputar di televisi yang InsyaAllah bisa kita ambil pelajaran. Dimana dua bersaudara dengan dua karakter yang berbeda. Si sulung terkenal dengan kesholehannya sedangkan si bungsu terkenal dengan kemaksiatannya yang na'udzubilahimindalik. Namun yang jadi ngiris di hati dimana akhir dari keduanya sangat ironis sekali. Saat terjadi bencana alam diantara korbannya adalah dua bersaudara tersebut. Si sulung ditemukan mayatnya di tempat hiburan lokalisasi milik adhiknya. Sedangkan si bungsu ditemukan mayatnya di masjid. Subhanallah.....
Hanya karena si sulung tergoda dari bisikan setan yang mengatakan bahwa dia terkenal anak yang sholeh dan tidak pernah berbuat maksiat jadi sesekali tidak apa-apa mencoba. Toh Allah maha pengampun. Jadi setelah melakukan maksiat dia akan minta ampun pada Allah lagi.
Sementara si bungsu merasa dirinya banyak dosa dan ingin membersihkan diri dengan bertaubat.
Adakah mereka tau akan kematian mereka yang ternyata ada di depan mata..?
Saudara... begitupun dengan kita yang tiada pernah tau.... maka mari kita berhati-hati....
Tiada dosa besar jika itu diampuni oleh Allah dan tiada dosa kecil jika itu dipertanyakan dan dihitung oleh Allah. Oleh karena itu jangan meremehkan sesuatu walaupun itu kecil. Selamatkan diri kita dari kemaksiatan walaupun itu baru terbesit dalam hati. Bersihkan dengan memohon ampunan...
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati; maka Allah Berfirman kepada mereka,”Matilah kamu” kemudian Allah Menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah Mempunyai Karunia terhadap manusia tetapi kebanyakam manusia tidak bersyukur.” ( Qs. Al-Baqarah 243)
Wahai orang tua..... Sadari anak-anak bukanlah milik kita. Kita hanya bertugas untuk menjaganya maka janganlah merasa punya hak untuk menguasainya. Banyak orang tua menjadi gila karena ditinggal buah hatinya meninggal. Itu semua karena kita dalam kondisi yang tidak siap dengan ketentuan Allah atas mereka. Begitupun saya yang tiada pernah menyangkah jika Allah mengambil buah hati saya dengan begitu cepat. Namun Alhamdulillah Allah memberi kekuatan pada saya untuk bisa bertahan. Memang berat melepaskannya. Memang sedih ditinggalkannya. Memang akan terasa tidak rela. Tapi dikala kita kembalikan kesadaran bahwa itu semua titipan, yang mengambil yang punya dan kita tidak punya hak untuk minta perpanjangan disaat yang punya sudah memutuskan. Maka bersabarlah dan terimalah dengan keridhoanNya. Allah punya rencana untuk kita yang telah dipersiapkanNya.
“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan(bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” ( Qs. Ath-Thalaq 15)
Saudaraku semua......
Siapkan diri kita dengan segala ketentuanNya atas kita, dan tempatkan diri kita dengan berserah diri hanya padaNya hingga yang terasa hanyalah keikhlasan karena Allah lah yang mengatur segalanya dan pasti semua terbaik buat kita.
Kita tidak tau apa yang akan terjadi esok hari, nanti malam ataupun sesaat lagi.... jadi berhati-hatilah....dan siaplah dengan segala kemungkinanNya.
Semoga bermanfaat.......
Langganan:
Postingan (Atom)


